Opini › Opini


Perilaku Stalking Mahasiswa

Senin, 23/12/2019 13:43 WIB | Oleh : Dyla Fajhriani (Dosen BKI Fakultas Dakwah UIN IB Padang)

Penggunaan media sosial (medsos) di kalangan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan diri mahasiswa itu sendiri. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan sosial mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke atas cenderung lebih awal mengenal dan mengakses media sosial, dengan menggunakan handphone atau fasilitas internet yang ada di rumah atau warung internet.

 

Media sosial merupakan sarana untuk pergaulan dan persahabatan yang utama pada mahasiswa. Mengingat menjalin hubungan erat dan harmonis terhadap teman sebaya merupakan tugas perkembangan mereka. Pengaruh teman sebaya bagi mahasiswa lebih besar dari pada pengaruh  orangtua yang terwujud pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilakunya.

 

Mahasiswa pada saat ini telah dihadapkan pada era kemajuan ilmu pengetahuan  dan teknologi, yang memiliki efek positif dan negatif. Salah satu bidang teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan terjadi dalam bentuk komunikasi dari tatap muka menjadi termediasi oleh teknologi. Penikmatnya pun beragam dari kalangan usia muda hingga tua (Mafazi & Nuqul, 2018).

 

Pemanfaatan media sosial dalam bentuk jejaring sosial banyak digunakan mahasiswa baik untuk tujuan pertemanan, maupun tujuan ekonomi (menawarkan, menjual, maupun membeli barang yang diperlukan). Banyaknya fitur-fitur menarik dalam jejaring sosial membuat remaja cenderung malas dan kecanduan. Kecanduan terhadap penggunaan jejaring sosial mengakibatkan banyak waktu yang terbuang dan aktivitas mereka menjadi terganggu, seperti: pergi ke sekolah, belajar, makan, tidur, bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan membantu orangtua. Bahkan, mahasiswa tersebut menjadi kelelahan dan sakit karena pemanfaatan media sosial yang berlebihan.

Perkembangan dunia teknologi yang sudah semakin inovatif di era global telah memberikan dampak langsung kepada masyarakat terutama bagi generasi muda. Kegunaan media sosial bagi sebagian besar pengguna internet adalah menonton video, membagi ulang postingan orang lain, selfie (swafoto), membagi foto, dan stalking.

 

Media sosial bisa mengakibatkan menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi dan media sosial tidak memiliki batasan ruang dan waktu, remaja dapat berkomunikasi kapanpun dan dimanapun mereka berada.  Sehingga penggunan media sosial menjadi bebas dan tidak terkontrol.

 

Ariani, Elita dan Zulfitri (2013) mengemukakan bahwa penggunaan jejaring sosial online yang tergolong tinggi atau heavy users adalah penggunaan yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam perbulan. Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap remaja  bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman atau orang lain untuk berbagi informasi dan komunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain facebook, whatsaap, path, instagram, myspace dan twitter.

 

Facebook biasanya digunakan untuk persahabatan dan untuk memberikan informasi kepada orang lain bahkan kepada teman maupun penjualan atau pemasaran dalam bentuk toko online dalam skala industri rumahan. Bahkan, tidak hanya situs jejaring sosial seperti facebook. Media daring lainnya seperti forum, blog dan mikroblog seperti twitter dapat menjadi wadah untuk melakukan kegiatan e-commerce di dunia maya (Nurfitri, 2017).

 

Di saat teknologi internet semakin maju maka media sosial pun ikut berkembang dengan pesat. Sekarang ini, mengakses facebook atau twitter  bisa dilakukan dimana saja bahkan di angkutan umum hingga kafe-kafe. Kecepatan perkembangan media sosial saat ini dapat menggantikan peranan media massa konvensional (koran, majalah dan media cetak lainnya) dalam menyebarkan berita-berita.

 

Stalking bisa berefek negatif apabila mahasiswa lebih sering menghabiskan waktu dengan kegiatan stalking bahkan sampai nyi-nyirin orang yang di stalking yang berimbas pada komentar-komentar negatif dibandingkan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Adapun  efek negatif stalking yaitu :

  1. Kecanduan

Stalking dapat membuat seseorang ketagihan, bukan hanya junk food, makanan manis, alkohol, atau narkoba saja yang membuat seseorang ketagihan. Bahkan, dampak internet membuat remaja semakin tidak bisa lepas dari jeratan kecanduan.

  1. Kurangnya Interaksi atau Komunikasi dengan Individu Lain.

Remaja yang terbiasa dan merasa bisa mengenal sifat, kebiasaan, dan hidup orang lain hanya dari hasil stalking, maka remaja tersebut lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya dan mengesampingkan interaksi nyata lewat pertemuan atau bahkan  tidak lagi bertukar informasi lewat percakapan di telepon dan lingkungan sekitarnya.

  1. Timbulnya Prasangka Negatif

Stalking bertujuan untuk mencari tahu mengenai keburukan atau kekurangan seseorang atau mencari sejarah-sejarah kelam yang sempat diunggah di media sosial. Jika remaja terbiasa stalking bisa menjadikan kebiasaan berprasangka buruk pada orang lain.

  1. Menjadi Insecure

Insecure adalah membandingkan diri dengan orang lain. Remaja yang terlalu sering mengamati kehidupan orang lain di media sosial akan berakibat remaja mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Dampak lainnya, remaja  menjadi mudah iri dan tidak jarang merasa insecure atau rendah diri terhadap keadaan dirinya. Padahal, belum tentu kehidupan orang lain hasil stalking itu  lebih baik dari kehidupannya.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus