Opini › Opini


Mimpi Buruk Pekerja Indonesia, Takut akan Robot Pekerja

Selasa, 25/02/2020 22:08 WIB | Oleh : Sarah Muthia Fatmi, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya

 

Bertepatan dengan momentum Hari Pekerja Nasional, yaitu pada 20 Februari, mari kita sama-sama merenungkan tentang bagaimana nasib pekerja di masa depan nantinya. Pekerjaan dapat disebut juga sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua pihak antara perusahaan dengan karyawannya. Dari hal itu, para pekerja akan mendapatkan gaji dari perusahaan sebagai balas jasa. Di mana jumlahnya tergantung dari jenis profesi yang dilakukan.
Mengulang kembali, sejarah awal mulanya dibuat Hari Pekerja Nasional adalah keinginan dari serikat pekerja di seluruh Indonesia, dengan tujuan untuk menyatukan semangat seluruh perusahaan-perusahaan di tanah air. Mereka bertekad untuk merealisasikan supaya dibentuk juga Hari Pekerja Nasional, akhirnya disetujui oleh oleh Presiden RI yang kala itu dijabat oleh Soeharto. Melalui Keputusan Presiden No.9 Tahun 1991.
Walaupun sudah ditetapkan secara resmi sebagai Hari Pekerja Nasional, ia tak dijadikan sebagai hari libur nasional. Berbeda dengan Hari Buruh Sedunia yang dikenal May Day, di mana dijadikan sebagai hari libur nasional.
Pekerjaan di era sekarang sangat begitu berbeda dengan pekerjaan pada zaman dahulu. Pasalnya, dengan maraknya perkembangan teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi lebih moderen membuat adanya peluang-peluang baru untuk mendapatkan pekerjaan. 
Walau begitu, tak sedikit pula yang menganggur, karena tidak mampu bersaing di dunia kerja. Hal itu bukan tanpa sebab, ada faktor dari dirinya sendiri dan ada pula faktor dari luar, seperti tak mendapatkan akses pendidikan dan informasi yang layak.
Berbicara tentang teknologi, peran manusia sebagai tenaga kerja masih belum dapat tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Namun, bukan berarti teknologi tak akan bisa mengalahkan manusia, jika lengah dan tak bijak dalam mengikuti perkembangannya, manusia akan terbuai dengan banyaknya macam teknologi yang ada. Hal tersebut akan membuat pekerja cenderung malas dalam melakukan aktivitas berat, karena sudah ketergantungan.
Dengan kata lain, tenaga kerja harus didorong untuk meraih puncak prestasinya seperti mampu berpikir kreatif, bisa menciptakan inovasi baru dalam menyelesaikan pekerjaan serta yang paling perlu adalah memiliki intuisi terhadap pekerjaan yang dikerjakan.
Belakangan ini, memang sedang menjadi perbincangan hangat tentang perkembangan teknologi yang bergerak cepat akhir-akhir ini. Seperti adanya rancangan pembuatan robot, munculnya alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, hingga sampai ada alat yang membuat manusia hanya tiduran saja dan pekerjaan dilakukan oleh teknologi.
Kecemasan seperti itu pernah dibahas dalam pertemuan The 10th Indonesia Human Resource Summit (IHRS) pada 2018 lalu, dan didapatkan kesimpulan bahwa memang ada beberapa sektor pekerjaan dalam industri yang memang memerlukan teknologi, dan besar kemungkinan peran manusia akan minim di dalamnya, jika dipersenkan ada sekitar 15 persen.
Meski 15 persen tenaga manusia tergantikan oleh teknologi, namun itu pun hanya di sektor industri tertentu saja seperti kilang minyak, pabrik dan lainnya. Untuk kilang minyak di laut lepas misalnya, tidak ada pekerja yang mengoperasikannya secara langsung. Karena hal itu berbahaya bagi keselamatan kerja, pekerja hanya mengoperasikannya lewat alat yang berada di daratan.
Penggunaan teknologi ke depan dalam proses pekerjaan akan semakin meningkat pesat, ada banyak tantangan dan keuntungan juga yang akan didapatkan oleh pekerja. 
Misalnya akan dimudahkan dengan kehadiran teknologi, akan tetapi jika tak pandai dalam menyikapinya pekerja akan terbuai dengan kemudahannya dan tak mau untuk mencari inovasi baru lagi. Karena sudah nyaman di zona tersebut. Karena sesuai kodratnya, teknologi hanyalah sebagai pembantu pekerja, bukan sebagai pekerja utama.
Namun, manusia harus tetap menyesuaikan diri dengan 
teknologi yang serba canggih ini, karena teknologi menggunakan sistem automasi, yang membuat ia bergerak sendiri sesuai dengan apa yang diperintahkan sedari awal, dengan kata lain sudah diprogram. Akan tetapi ada satu sisi negatif dari automasi tersebut, seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa robot bukanlah makhluk hidup dan ia tak memiliki perasaan, hanya mengandalkan kemampuan dan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Pekerja manusia lebih dihargai karena berpikir sembari memiliki perasaan dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Satu hal lagi, manusia adalah makhluk kreatif mampu menemukan banyak inovasi-inovasi baru. Sedangkan robot hanya mampu untuk mengerjakan apa yang telah diprogramkan kepadanya, dari sini kita bisa mengetahui bahwa tak semudah itu robot mampu untuk menggantikan peran manusia secara keseluruhan, dan pekerja manusia tetap bisa bertahan di dunia kerja.
Untuk itu, sebagai makhluk yang telah diberikan kesempurnaan dan tingkat kreatif di atas rata-rata, hendaknya hal itu membuat pekerja manusia tak harus takut dengan kehadiran robot-robot di sektor pekerjaan. Karena bagaimanapun juga robot tak akan mampu untuk menggantikan peran manusia dalam berpikir dan berinteraksi dengan sesama. 

Bertepatan dengan momentum Hari Pekerja Nasional, yaitu pada 20 Februari, mari kita sama-sama merenungkan tentang bagaimana nasib pekerja di masa depan nantinya. Pekerjaan dapat disebut juga sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua pihak antara perusahaan dengan karyawannya. Dari hal itu, para pekerja akan mendapatkan gaji dari perusahaan sebagai balas jasa. Di mana jumlahnya tergantung dari jenis profesi yang dilakukan.

 

Mengulang kembali, sejarah awal mulanya dibuat Hari Pekerja Nasional adalah keinginan dari serikat pekerja di seluruh Indonesia, dengan tujuan untuk menyatukan semangat seluruh perusahaan-perusahaan di tanah air. Mereka bertekad untuk merealisasikan supaya dibentuk juga Hari Pekerja Nasional, akhirnya disetujui oleh oleh Presiden RI yang kala itu dijabat oleh Soeharto. Melalui Keputusan Presiden No.9 Tahun 1991.


Walaupun sudah ditetapkan secara resmi sebagai Hari Pekerja Nasional, ia tak dijadikan sebagai hari libur nasional. Berbeda dengan Hari Buruh Sedunia yang dikenal May Day, di mana dijadikan sebagai hari libur nasional.
Pekerjaan di era sekarang sangat begitu berbeda dengan pekerjaan pada zaman dahulu. Pasalnya, dengan maraknya perkembangan teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi lebih moderen membuat adanya peluang-peluang baru untuk mendapatkan pekerjaan.


Walau begitu, tak sedikit pula yang menganggur, karena tidak mampu bersaing di dunia kerja. Hal itu bukan tanpa sebab, ada faktor dari dirinya sendiri dan ada pula faktor dari luar, seperti tak mendapatkan akses pendidikan dan informasi yang layak.

 

Berbicara tentang teknologi, peran manusia sebagai tenaga kerja masih belum dapat tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Namun, bukan berarti teknologi tak akan bisa mengalahkan manusia, jika lengah dan tak bijak dalam mengikuti perkembangannya, manusia akan terbuai dengan banyaknya macam teknologi yang ada. Hal tersebut akan membuat pekerja cenderung malas dalam melakukan aktivitas berat, karena sudah ketergantungan.

 

Dengan kata lain, tenaga kerja harus didorong untuk meraih puncak prestasinya seperti mampu berpikir kreatif, bisa menciptakan inovasi baru dalam menyelesaikan pekerjaan serta yang paling perlu adalah memiliki intuisi terhadap pekerjaan yang dikerjakan.


Belakangan ini, memang sedang menjadi perbincangan hangat tentang perkembangan teknologi yang bergerak cepat akhir-akhir ini. Seperti adanya rancangan pembuatan robot, munculnya alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, hingga sampai ada alat yang membuat manusia hanya tiduran saja dan pekerjaan dilakukan oleh teknologi.

 

Kecemasan seperti itu pernah dibahas dalam pertemuan The 10th Indonesia Human Resource Summit (IHRS) pada 2018 lalu, dan didapatkan kesimpulan bahwa memang ada beberapa sektor pekerjaan dalam industri yang memang memerlukan teknologi, dan besar kemungkinan peran manusia akan minim di dalamnya, jika dipersenkan ada sekitar 15 persen.

 

Meski 15 persen tenaga manusia tergantikan oleh teknologi, namun itu pun hanya di sektor industri tertentu saja seperti kilang minyak, pabrik dan lainnya. Untuk kilang minyak di laut lepas misalnya, tidak ada pekerja yang mengoperasikannya secara langsung. Karena hal itu berbahaya bagi keselamatan kerja, pekerja hanya mengoperasikannya lewat alat yang berada di daratan.Penggunaan teknologi ke depan dalam proses pekerjaan akan semakin meningkat pesat, ada banyak tantangan dan keuntungan juga yang akan didapatkan oleh pekerja. 


Misalnya akan dimudahkan dengan kehadiran teknologi, akan tetapi jika tak pandai dalam menyikapinya pekerja akan terbuai dengan kemudahannya dan tak mau untuk mencari inovasi baru lagi. Karena sudah nyaman di zona tersebut. Karena sesuai kodratnya, teknologi hanyalah sebagai pembantu pekerja, bukan sebagai pekerja utama.

 

Namun, manusia harus tetap menyesuaikan diri dengan teknologi yang serba canggih ini, karena teknologi menggunakan sistem automasi, yang membuat ia bergerak sendiri sesuai dengan apa yang diperintahkan sedari awal, dengan kata lain sudah diprogram. Akan tetapi ada satu sisi negatif dari automasi tersebut, seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa robot bukanlah makhluk hidup dan ia tak memiliki perasaan, hanya mengandalkan kemampuan dan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Pekerja manusia lebih dihargai karena berpikir sembari memiliki perasaan dan peka terhadap lingkungan sekitar.

 

Satu hal lagi, manusia adalah makhluk kreatif mampu menemukan banyak inovasi-inovasi baru. Sedangkan robot hanya mampu untuk mengerjakan apa yang telah diprogramkan kepadanya, dari sini kita bisa mengetahui bahwa tak semudah itu robot mampu untuk menggantikan peran manusia secara keseluruhan, dan pekerja manusia tetap bisa bertahan di dunia kerja.

 

Untuk itu, sebagai makhluk yang telah diberikan kesempurnaan dan tingkat kreatif di atas rata-rata, hendaknya hal itu membuat pekerja manusia tak harus takut dengan kehadiran robot-robot di sektor pekerjaan. Karena bagaimanapun juga robot tak akan mampu untuk menggantikan peran manusia dalam berpikir dan berinteraksi dengan sesama. 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus