Opini › Opini


Eksistensi Bahasa Minangkabau pada Generasi Milenial

Rabu, 11/03/2020 17:16 WIB | Oleh : Jesi Eranda Putri

Ah maleh aku samo kamu mah, kamu panduto!”. Kalimat-kalimat ini sudah seperti hal yang lumrah bila kita dengar pada masa sekarang. Lumrah namun salah, itulah yang terjadi ketika bahasa daerah dicampur dengan bahasa Indonesia. Seperti pada contoh kalimat diatas yang mencampurkan bahasa Minangkabau dengan bahasa Indonesia, orang-orang menyebutnya dengan bahasa Indonesia-Minang (Indomi).

 

Bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa dari rumpun bahasa Melayu yang dituturkan oleh orang Minangkabau sebagai bahasa ibu khususnya di Provinsi Sumatra Barat, pantai barat Aceh dan Sumatra Utara, bagian barat provinsi Riau, bagian utara Jambi dan Bengkulu, serta Negeri Sembilan, Malaysia. Dalam adat Minangkabau masyarakat wajib mengetahui hal-hal, ketentuan, dan yang berhubungan dengan bahasa Minang agar bahasa Minang tidak dicampur dengan bahasa lain.

 

Sikap positif terhadap bahasa Minangkabau dapat diwujudkan dengan berbahasa Minang yang baik dan benar, begitu pula dengan sikap positif terhadap bahasa Indonesia harus diwujudkan dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar pula. Namun Kenyataan yang terjadi dalam keluarga muda Minang justru tidak demikan. Bahasa Minangkabau yang mereka gunakan dalam keluarga bukanlah bahasa Minangkabau standar, tetapi bercampur dengan bahasa Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat pada saat sekarang tidak menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Minangkabau.

 

Bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Dasar bahasa ibu biasanya didapatkan oleh anak berawal dari lingkungan keluarga, namun yang sering terjadi pada dewasa ini sangat miris untuk perkembangan dan pelestarian bahasa ibu. Dikatakan miris karena, pandangan orang tua yang menganggap bahasa ibu adalah bahasa yang kuno membuat mereka lebih memilih menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama.

 

Para orang tua berfikir bahwa bahasa Minangkabau adalah bahasa yang bisa dikuasai dengan mudah nantinya di lingkungan tempat sang anak berinteraksi. Mereka lupa, bahasa Minangkabau yang didapat sang anak dari luar akan sangat jauh dari konteks bahasa Minang itu sendiri. Bahasa yang mereka bisa saja berupa bahasa yang keras dan kasar tanpa adanya nilai sopan santun di dalamnya.

 

Zaman semakin modern, membuat generasi kita lebih memilih bahasa gaul ketimbang bahasa khas daerah yang telah turun temurun dari para leluhur kita. Bahasa Indonesia memanglah bahasa persatuan, namun miris rasanya bila menilai bahasa daerah seperti bahasa Minang dianggap sebagai bahasa yang kuno. Bahasa Minang yang notabene merupakan bahasa ibu yang harus dilestarikan, namun nyatanya mulai tergerus oleh bahasa era kekinian.

 

Generasi milenial saat ini, lebih bangga dengan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari biar dianggap gaul. Perpaduan bahasa Minang dengan Indonesia, disisipkan pula dengan English, maka terciptalah bahasa yang amburadul. Padahal, yang mereka gunakan belum tentu lebih baik dari bahasa daerahnya, bahkan tidak lebih daripada pepesan kosong yang tidak bernilai.

 

Sebuah kecerobohan bagi orang Minang yang menganggap bahwa bahasa Indonesia itu mudah karena dekat dengan bahasa Minang, sehingga dengan analogi perpadanan sistem pelafalan kata sudah percaya diri dapat berbahasa Indonesia. Padahal sesungguhnya perbedaan antara bahasa Minang dengan bahasa Indonesia tidak hanya dalam hal pelafalan kata, tetapi juga ditemukan pada struktur kalimat turunan apakah itu pada struktur kalimat pasif, negatif, tanya dan sebagainya. Perbedaan kedua bahasa itu juga disebabkan oleh kehadiran partikel-partikel unik pada bahasa Minang yang tidak selalu dapat dengan mudah dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Kehadiran partikel unik itu sangat berpengaruh terhadap intonasi ujaran.

 

Kecenderungan masyarakat Minang berbahasa Indonesia berdasarkan stereotip yang beranggapan bahwa berbahasa Indonesia menunjukkan seorang berpendidikan dan menganggap kampungan kalau tidak berbahasa Indonesia. Dengan demikian mereka mulai meninggalkan bahasa sehari-hari (Bahasa Minang) mereka. Tidak jarang mereka men-translate bahasa Minangkabau ke bentuk bahasa Indonesia berdasarkan analogi mereka, sehingga kadangkala hasil translate-nya membuat gelian (lelucon) bagi orang yang mendengarnya.

 

Di dalam dunia pendidikan pun pengembangan bahasa Minangkabau juga semakin terkikis, kususnya disorientasi kurikulum pendidikan. Tidak dipungkiri, sekolah-sekolah di daerah Minangkabau mulai dari SD, SMP, SMA, sudah jarang ada pelajaran khusus tentang bahasa daerah, Budaya Alam Minangkabau (BAM). Kalaupun ada, hanyalah sebagai muatan lokal (mulok) yang tidak lebih dari dua jam dalam seminggu. Padahal ini salah satu cara melestarikan bahasa Minangkabau, petatah-petitih, dan budayanya.

 

Tidak jauh berbeda, di perguruan tinggi lebih memprioritaskan bahasa Indonesia atau bahasa asing, karena dianggap lebih berharga dibandingkan bahasa daerah.Mereka berasumsi bahwa mempelajari bahasa asing lebih menjamin untuk dunia pendidikan dan pekerjaan. Padahal, melestarikan bahasa daerah juga termasuk bagian urusan dan tanggung jawab orang yang berpendidikan tinggi. Walaupun memang menguasai bahasa asing adalah hal yang bagus, akan tetapi menguasai bahasa ibu kita sendiri dulu bukankah itu lebih baik?

 

Lalu bagaimanakah dengan kontribusi pemerintah, baik pusat maupun daerah, bukankah mereka patut mengambil peran. Sudahkah pemerintah dapat mengubah orientasi kurikulum pendidikan untuk menyelaraskan antara modernitas dan tradisionalitas, antara bahasa global dan bahasa lokal, antara pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan nyatanya saja seperti yang dijelaskan tadi, pembelajaran tentang Budaya Alam Minangkabau (BAM) banyak dihapuskan dalam kurikulum pendidikan.

 

Peran media juga sangat penting dalam mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak terlalu xenosentris terhadap bahasa asing. Misalnya, disediakan rubrik atau halaman khusus untuk memuat bahasa Minangkabau. Karena seperti yang kita ketahui generasi milineal sangat mudah terpengaruh akan media sosial. Bukan hanya media, para sastrawan dan kebudayaan harus ikut andil juga dalam pelestarian bahasa Minangkabau melalui karya-karyanya.

 

Maka dengan banyaknya fenomena-fenomena terkikisnya Bahasa Minangkabau pada generasi milineal ini, mampukah kita bertahan dan mencegah fenomena yang miris ini? Atau malah semakin terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran yang menganggap bahasa daerah adalah bahasa yang kuno?

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus