Opini › Opini


Kuliah Online Tidak Menjadi Harapan

Senin, 04/05/2020 02:24 WIB | Oleh : Riko Putra, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN IB Padang.

 

Pandemi Covid-19 memberi dampak yang banyak terhadap semua lini kehidupan. Bukan hanya sebagai sudut pandang, tentu sebagai yang menuliskan dan membaca akan sepakat dengan argumen tersebut. Semua orang merasakan dampak dari virus yang menghebohkan ini. Salah satunya yaitu masalah Ekonomi. 
Sebagai makhluk hidup yang butuh sandang, pangan, dan papan, lantaran virus Corona membuat sempit ruang gerak kerja bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam mencegah pemutusan rantai penyebaran virus Corona pemerintah telah menetapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah di tanah air yang berpengaruh tinggi terhadap penyebaran virus Corona. 
Banyak dampak yang harus dialami bersama oleh Negara. Di media sosial banyak terlihat cekcok antara aparat penertib dengan warga yang masih nekat keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Memprihatinkan, namun apa boleh buat.
Sebelum  PSBB diterapkan oleh pemerintah, beberapa kampus sudah menetapkan pengalihan kuliah tatap muka seperti biasa dengan perkuliahan Online. Di samping sebagai solusi, seperti penerapan PSBB hal ini juga memiliki dampak tersendiri bagi pelakunya secara langsung. 
Abu Musa Al Pasaman, Pimpinan Pesantren Teknologi Darul Ulum mengatakan bahwa “Setiap pilihan memiliki risikonya masing-masing”.  Perkuliahan Online memang memiliki dampak. Sebut saja susahnya mencari mediator yang pas untuk penerapan kuliah Online, karena membutuhkan kuota internet yang cukup banyak. Tidak hanya masalah mediator. Tapi juga pertimbangan kepada mahasiswa yang kesulitan mencari jaringan internet. Banyaknya mahasiswa yang pulang kampung saat pandemi berlangsung. Namun kesulitan dalam mencari jaringan internet.
Sebagai contoh, musibah yang dialami oleh seorang mahasiswa di kampus biru. Demi mencari jaringan internet ia terpaksa keluar rumah, sekitar 30 menit dengan motor dari rumahnya. Mahasiswa ini mengalami kecelakaan yang membuat nyawanya hilang. 
Bukan saja masalah jaringan internet menjadi kendala dalam penerapan kuliah Online, juga pada keterbatasan ekonomi. Faktor ekonomi yang menurun pasca pandemi membuat Mahasiswa kebingungan untuk membeli kuota internet. 
Suatu contoh pilu lainnya dialami oleh seorang Mahasiswa di salah satu kampus Sumatra Barat, kesulitannya bukan saja untuk membeli kuota internet, tapi tidak memiliki wadah untuk melaksanakan kuliah Online.
Dalam kasus-kasus tersebut apa boleh buat? Tentu setiap keputusan memiliki dua sisi baik positif maupun negatif. Yang pasti sebagai Mahasiswa kita berupaya sebisa mungkin tetap melanjutkan perkuliahan Online dengan segala keterbatasan. Karena memang sudah menjadi keputusan.
Bersyukur ada beberapa dosen yang memberi kelonggaran dan toleransi terhadap mahasiswa serta memberi keringanan volume perkuliahan. Tentu sebagai mahasiswa kita mengucapkan terima kasih pada jasa-jasa seperti itu. Meskipun kecil tapi bagi kita sangat berharga.
Seperti ungkapan Abu Musa di atas, “Setiap pilihan memiliki risiko." Kuliah Online membuat kehilangan ruh menuntut ilmu. Seperti dedikasi antara guru dan murid.
Muliyadi Thaib. Salah seorang tenaga pendidik di Sumatra Barat. Menyebutkan akan pentingnya ruh antara pemberi dan penerima dalam menuntut ilmu. Sebagai contoh ia menyebutkan “seperti halnya belajar seni bela diri, banyak tutorial yang bisa dipelajari di Youtube, tapi itu tidak menjadi ruh tersendiri antara pemberi dan penerima ilmu."
Maka harus menjadi pertimbangan, karena kuliah seperti biasa saja sudah mengalami banyak kendala, apalagi dengan kuliah Online. Banyak Meme para akademisi beredar menyebutkan dosen ibaratkan dewa. Opini yang mengandung makna beragam dari sudut pandang yang beragam pula. Apakah perkuliahan Online berjalan baik? 
Jika dilihat dari kasus-kasus tersebut tentu menjalani perkuliahan Online tidak akan berjalan lancar seperti yang diharapkan. Tidak menjadi harapannya perkuliahan Online adalah kehilangan ruh yang sebenarnya dalam menuntut ilmu. Seperti lanjutan Muliyadi Thaib. "Mungkin syarat menuntut ilmu adanya guru dan murid terpenuhi, tapi tidak pada ruhnya".
Di samping itu apalagi yang menjadi penyebab perkuliahan Online tidak menjadi harapan? Yaitu dengan pemberian volume tugas yang berlebih oleh Dosen. Seperti keluhan beberapa mahasiswa kita dengar di media sosial terhadap tugas yang harus dia kerjakan. Bukan saja pada kasus itu sudah menjadi alasan mengapa perkuliahan Online tidak menjadi harapan. 
Di antara oknum dosen ada yang memanfaatkan kondisi ini untuk bersantai dan tidak mengabaikan perkuliahan berlangsung. Memberikan tugas, instruksi ini itu, tapi tidak mengikuti jalannya perkuliahan. Bukankah sebagai mahasiswa membutuhkan ulasan sebagai titik temu dari keributan diskusi mahasiswa?
Sudah menjadi kewajiban yang harus dikerjakan oleh Mahasiswa untuk memenuhi ketentuan yang diinginkan oleh dosen. Namun ada harapan lain Mahasiswa dari Dosennya, seperti dedikasi yang mulia, keharmonisan bersama, pengayoman, keasyikan, saling menghargai, dan banyak lagi harapan Mahasiswa kepada Dosen.
Pada kejadian seperti ini kuliah Online telah menjadi ladang baru bagi oknum dosen yang tidak bertanggung jawab untuk berleha-leha dan mengabaikan tugasnya sebagai dosen serta terus menuntut “Jadi mahasiswa tidaklah bermanja-manja!”
Sebagai contoh, setelah instruksi untuk tetap melanjutkan presentasi perkuliahan dan diskusi bersama, dosen tidak memberi titik terang atau jalan keluar permasalahan yang dibahas saat kuliah. Tapi mala menanggapi perkuliahan saat semuanya mulai tidur. 
Apa alasan pekerjaan di rumah banyak, sibuk beresin rumah dan lainnya bisa di terima jika mahasiswa yang terlambat presensi di anggap tidak hadir? Apakah sebagai akademisi kita boleh protes?
Banyak sekali keganjilan-keganjilan yang harus dilalui oleh pelaku akademisi dalam menjalani kegiatan perkuliahan begitu juga dengan kuliah Online. Dengan menjalani kuliah Online yang mana adalah hal baru oleh para Mahasiswa tentu akan banyak halangan pada proses berjalan lancarnya perkuliahan, seperti keterbatasan di atas.
Meski harus diakui adanya mahasiswa yang tidak serius dalam menjalani perkuliahan, tapi yang menjadi panutan oleh mereka tidak memberikan contoh berlaku yang baik dan amanah, apakah salah mahasiswa berlengah diri pada kuliahnya?.
Sekiranya dalam hal-hal yang dapat memutus rantai keharmonisan antara pemberi dan penerima dalam dunia akademisi adalah hal yang harus diputuskan bersama antara Mahasiswa dan Dosennya. Seperti sama-sama kembali memahami bersama adab menuntut ilmu.
Layaknya kisah romantis yang diperlihatkan oleh Imam Malik ra dengan muridnya Imam Safii ra. Dalam beberapa hal mereka berbeda pikiran tapi tetap mengetahui hak dan kewajiban satu sama lain dan tidak saling menyakiti.


Pandemi Covid-19 memberi dampak yang banyak terhadap semua lini kehidupan. Bukan hanya sebagai sudut pandang, tentu sebagai yang menuliskan dan membaca akan sepakat dengan argumen tersebut. Semua orang merasakan dampak dari virus yang menghebohkan ini. Salah satunya yaitu masalah Ekonomi. 

Sebagai makhluk hidup yang butuh sandang, pangan, dan papan, lantaran virus Corona membuat sempit ruang gerak kerja bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam mencegah pemutusan rantai penyebaran virus Corona pemerintah telah menetapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah di tanah air yang berpengaruh tinggi terhadap penyebaran virus Corona. 

Banyak dampak yang harus dialami bersama oleh Negara. Di media sosial banyak terlihat cekcok antara aparat penertib dengan warga yang masih nekat keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Memprihatinkan, namun apa boleh buat.

Sebelum  PSBB diterapkan oleh pemerintah, beberapa kampus sudah menetapkan pengalihan kuliah tatap muka seperti biasa dengan perkuliahan Online. Di samping sebagai solusi, seperti penerapan PSBB hal ini juga memiliki dampak tersendiri bagi pelakunya secara langsung. 

Abu Musa Al Pasaman, Pimpinan Pesantren Teknologi Darul Ulum mengatakan bahwa “Setiap pilihan memiliki risikonya masing-masing”.  Perkuliahan Online memang memiliki dampak. Sebut saja susahnya mencari mediator yang pas untuk penerapan kuliah Online, karena membutuhkan kuota internet yang cukup banyak. Tidak hanya masalah mediator. Tapi juga pertimbangan kepada mahasiswa yang kesulitan mencari jaringan internet. Banyaknya mahasiswa yang pulang kampung saat pandemi berlangsung. Namun kesulitan dalam mencari jaringan internet.

Sebagai contoh, musibah yang dialami oleh seorang mahasiswa di kampus biru. Demi mencari jaringan internet ia terpaksa keluar rumah, sekitar 30 menit dengan motor dari rumahnya. Mahasiswa ini mengalami kecelakaan yang membuat nyawanya hilang. 

Bukan saja masalah jaringan internet menjadi kendala dalam penerapan kuliah Online, juga pada keterbatasan ekonomi. Faktor ekonomi yang menurun pasca pandemi membuat mahasiswa kebingungan untuk membeli kuota internet. 

Suatu contoh pilu lainnya dialami oleh seorang mahasiswa di salah satu kampus Sumatra Barat, kesulitannya bukan saja untuk membeli kuota internet, tapi tidak memiliki wadah untuk melaksanakan kuliah Online.

Dalam kasus-kasus tersebut apa boleh buat? Tentu setiap keputusan memiliki dua sisi baik positif maupun negatif. Yang pasti sebagai mahasiswa kita berupaya sebisa mungkin tetap melanjutkan perkuliahan Online dengan segala keterbatasan. Karena memang sudah menjadi keputusan.

Bersyukur ada beberapa dosen yang memberi kelonggaran dan toleransi terhadap mahasiswa serta memberi keringanan volume perkuliahan. Tentu sebagai mahasiswa kita mengucapkan terima kasih pada jasa-jasa seperti itu. Meskipun kecil tapi bagi kita sangat berharga.

Seperti ungkapan Abu Musa di atas, “Setiap pilihan memiliki risiko." Kuliah Online membuat kehilangan ruh menuntut ilmu. Seperti dedikasi antara guru dan murid.

Muliyadi Thaib. Salah seorang tenaga pendidik di Sumatra Barat. Menyebutkan akan pentingnya ruh antara pemberi dan penerima dalam menuntut ilmu. Sebagai contoh ia menyebutkan “seperti halnya belajar seni bela diri, banyak tutorial yang bisa dipelajari di Youtube, tapi itu tidak menjadi ruh tersendiri antara pemberi dan penerima ilmu."

Maka harus menjadi pertimbangan, karena kuliah seperti biasa saja sudah mengalami banyak kendala, apalagi dengan kuliah Online. Banyak Meme para akademisi beredar menyebutkan dosen ibaratkan dewa. Opini yang mengandung makna beragam dari sudut pandang yang beragam pula. Apakah perkuliahan Online berjalan baik? 

Jika dilihat dari kasus-kasus tersebut tentu menjalani perkuliahan Online tidak akan berjalan lancar seperti yang diharapkan. Tidak menjadi harapannya perkuliahan Online adalah kehilangan ruh yang sebenarnya dalam menuntut ilmu. Seperti lanjutan Muliyadi Thaib. "Mungkin syarat menuntut ilmu adanya guru dan murid terpenuhi, tapi tidak pada ruhnya".

Di samping itu apalagi yang menjadi penyebab perkuliahan Online tidak menjadi harapan? Yaitu dengan pemberian volume tugas yang berlebih oleh Dosen. Seperti keluhan beberapa mahasiswa kita dengar di media sosial terhadap tugas yang harus dia kerjakan. Bukan saja pada kasus itu sudah menjadi alasan mengapa perkuliahan Online tidak menjadi harapan. 

Di antara oknum dosen ada yang memanfaatkan kondisi ini untuk bersantai dan mengabaikan perkuliahan yang sedang berlangsung. Memberikan tugas, instruksi ini itu, tapi tidak mengikuti jalannya perkuliahan. Bukankah sebagai mahasiswa membutuhkan ulasan sebagai titik temu dari keributan diskusi mahasiswa?

Sudah menjadi kewajiban yang harus dikerjakan oleh mahasiswa untuk memenuhi ketentuan yang diinginkan oleh dosen. Namun ada harapan lain mahasiswa dari dosennya, seperti dedikasi yang mulia, keharmonisan bersama, pengayoman, keasyikan, saling menghargai, dan banyak lagi harapan mahasiswa kepada dosen.

Pada kejadian seperti ini kuliah Online telah menjadi ladang baru bagi oknum dosen yang tidak bertanggung jawab untuk berleha-leha dan mengabaikan tugasnya sebagai dosen serta terus menuntut “Jadi mahasiswa tidaklah bermanja-manja!”

Sebagai contoh, setelah instruksi untuk tetap melanjutkan presentasi perkuliahan dan diskusi bersama, dosen tidak memberi titik terang atau jalan keluar permasalahan yang dibahas saat kuliah. Tapi  menanggapi perkuliahan saat semuanya mulai tidur. 

Apa alasan pekerjaan di rumah banyak, sibuk membersihkan rumah dan lainnya bisa di terima jika mahasiswa yang terlambat presensi di anggap tidak hadir? Apakah sebagai akademisi kita boleh protes?

Banyak sekali keganjilan-keganjilan yang harus dilalui oleh pelaku akademisi dalam menjalani kegiatan perkuliahan begitu juga dengan kuliah Online. Dengan menjalani kuliah Online yang mana adalah hal baru oleh para Mahasiswa tentu akan banyak halangan pada proses berjalan lancarnya perkuliahan, seperti keterbatasan di atas.

Meski harus diakui adanya mahasiswa yang tidak serius dalam menjalani perkuliahan, tapi yang menjadi panutan oleh mereka tidak memberikan contoh berlaku yang baik dan amanah, apakah salah mahasiswa berlengah diri pada kuliahnya?.

Sekiranya dalam hal-hal yang dapat memutus rantai keharmonisan antara pemberi dan penerima dalam dunia akademisi adalah hal yang harus diputuskan bersama antara mahasiswa dan dosennya. Seperti sama-sama kembali memahami bersama adab menuntut ilmu.

Layaknya kisah romantis yang diperlihatkan oleh Imam Malik ra dengan muridnya Imam Safii ra. Dalam beberapa hal mereka berbeda pikiran tapi tetap mengetahui hak dan kewajiban satu sama lain dan tidak saling menyakiti.











Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus