Opini › Opini


Sarkasme Di Dunia Pendidikan

Jumat, 05/06/2020 11:18 WIB | Oleh : Nabila Mayesa, Mahasiswa Jurusan Satra Minangkabau, FIB, Unanda

Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lain. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Rasa ingin tau ini memaksa manusia untuk berkomunikasi. Dalam melakukan komunikasi manusia memerlukan alat untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan keinginannya. Salah satu alat komunikasi manusia adalah bahasa. Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam bermasyarakat tidak bisa lepas dari bahasa.

 

Manusia sebagai makhluk sosial yaitu manusia satu dengan yang lainnya memiliki saling ketergantungan baik secara ekonomis, psikis, intelektual ataupun sosial. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan komunikasi satu sama lainnya karena dengan ini mereka bisa saling mengungkapkan gagasan, perasaan, maupun keinginannya. Manusia sebagai makhluk sosial menggunakan bahasa dalam berinteraksi sosial yang terjadi di mana saja. Misalnya di sekolah, di kampus, di lingkungan masyarakat dan ditempat lainnya. 


Apa itu sarkasme?. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sarkasme adalah penggunaan kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain, cemoohan atau ejekan kasar. Menurut keraf (2004) gaya bahasa sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati. Kata sarkasme diturunkan dari kata Yunani sarkasmo, yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja saskasen yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”, misal: “mulutmu harimaumu”. Jadi dapat disimpulkan, sarkasme adalah gaya bahasa atau majas yang digunakan untuk menyinggung dan menyindir seseorang atau sesuatu secara langsung. Kata-kata yang digunakan dapat berupa kata hinaan yang mengungkapkan rasa marah dan kesal.


Di dalam masyarakat Minangkabau, segala sesuatu lebih banyak disampaikan secara sindiran. Menurut mereka kemampuan seseorang untuk menyampaikan sesuatu secara sindiran dianggap sebagai ciri kebijaksanaan. Demikian juga bagi orang yang menerima, kemampuan dalam memahami kata-kata sindiran tersebut dianggap pula sebagai ciri kearifan. Masyarakat minangkabau dalam perkataannya sehari-hari tidak lepas dari kata sindiran atau sarkasme. Atau lebih banyak dikenal dengan pepatah-petitih. Pepatah berasal dari kata “patah” . pepatah digunakan untuk pematahan pembicaraan orang lain secara halus dan berbentuk sindiran. 


Minangkabau terkenal dengan banyaknya pepatah-petitih tentang kata-kata sindiran. Seperti contohnya, “ kok cadiak waang ambo indak batanyo, kok kayo waang ambo indak mintak” artinya disini adalah kalau misalnya anda pandai saya tidak akan bertanya, kalau anda kaya saya tidak akan meminta. Ini ungkapan masyarakat minangkabau tentang bagaimana harga diri orang minang yang tidak bisa diinjak-injak dan diremehkan. Di dalam dunia pendidikan juga terdapat kata sindiran, salah satu contohnya adalah, “sarupo ayam gadih batalua” ungkapan ini biasanya diucapkan kepada salah satu murid dan mahasiswa ketika ada kelas beliau datangnya suka-suka saja, hari ini datang dan besoknya tidak lagi. Sama persis seperti ayam betina bertelur, suka-suka aja. Kadang bertelur kadang tidak. Atau contoh yang lain seperti “tutuik se pintu tu dari lua” kalau di bahasa indonesiakan ungkapan ini berarti “tutup saja pintu itu dari luar” yang mempunyai maksud sendiri yang ditujukan kepada siswa atau mahasiswa yang datang terlambat.


Pentingkah sarkasme di dunia pendidikan?. Sarkasme atau kata-kata sindirin penting diadakan di dunia pendidikan, tetapi tidak selalu, tergantung situasi dan kondisinya. Kata-kata ini harus atau baik diucapkan kepada murid atau mahasiswa yang kurang ajarnya sudah kelewatan dan membuat dosen atau guru yang mengajar marah dan kesal, seperti mahasiswa yang sering tidak datang, yang malas membuat tugas dan yang sering terlambat. Karena sarkasme disini juga mempunyai maksud dan pembelajaran yaitu, untuk mengajarkan mahasiswa atau murid tentang sopan santun, disiplin, dan yang paling penting adalah untuk mengajarkan dan memberi tau tentang bagaimana rasanya kekecewaan orang yang sabar. Dan dari kata-kata tersebutlah akan membuat mahasiswa sadar akan perbuatanya dan tidak akan mengulanginya lagi, dan mengajarkan tata krama dalam kehidapan sehari-hari yang dimulai dari lingkungan sekolah. 


Tetapi hari ini orang menyalahgunakan kata-kata sarkasme, seperti contohnya saat ini adalah, sekarang orang telah banyak memakai sosial media seperti youtube, twitter, instragam dan masih banyak lagi. Akun sosial tersebut memiliki tempat untuk mengomentari atas karya-karya yang telah mereka buat. Namun sangat disayangkan hari ini, karena mereka mengomentari seperti orang yang sebelum ngomong tidak berpikir dulu, seperti contoh pepatah minang “mangango sabalum mangecek”. Yang artinya adalah berpikirlah dulu sebelum berbicara. Sehingga dari komentar yang telah kelewatan batas tersebut membuat orang lain depresi dan stress sehingga menyebabkan mereka berasa tidak dibutuhkan didunia ini dan membuat keputusan untuk melakukan bunuh diri. Hal ini sama dengan salah satu ungkapan “mulutmu hariamaumu”. 


Jadi, walaupun sarkasme adalah kata-kata sindiran yang biasanya terlontar ketika sedang marah dan kesal. Sebelum melontarkan kata-kata tersebut sebaiknya dipikirkan dulu, apakah kata-kata itu tidak akan membuat seseorang merasa sedih. Karena sikap saling tenggang menenggang sangat diperlukan bagi kita makhluk sosial.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus