Opini › Opini


Upaya Pelestarian Bahasa Daerah di Era Digital

Kamis, 20/08/2020 08:22 WIB | Oleh : Novit Safda Putra

Bahasa daerah adalah bahasa yang dituturkan di suatu wilayah dalam sebuah negara kebangsaan. Apakah itu pada suatu daerah kecil, negara bagian, atau provinsi. Keberadaan bahasa daerah sangat erat kaitannya dengan eksistensi suku bangsa yang melahirkan dan menuturkan bahasa tersebut. Bahasa menjadi unsur pendukung utama tradisi dan adat istiadat. Bahasa juga menjadi unsur pembentuk sastra, seni, kebudayaan, hingga peradaban sebuah suku bangsa.

 

Saat ini Indonesia menempati urutan ke dua setelah Papua Nugini dalam hal jumlah bahasa daerah terbanyak di dunia. Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kemendikbud mencatat, jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 652 jenis. Namun permasalahan-permasalahan tentang bahasa daerah banyak terjadi, beberapa bahasa daerah di Indonesia mengalami kemunduran bahkan terancam punah.  UNESCO (Badan PBB yang bergerak dibidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan) menyatakan bahwa dua bahasa daerah di Indonesia mengalami kepunahan yaitu bahasa Tobati dari Jayapura dan bahasa Hitu dari Ambon.

 

Arus modernisasi telah membuat generasi muda yang diharapkan mampu mempertahankan eksistensi bahasa daerah menjadi terlena . Generasi muda cenderung berkomunikasi dengan bahasa Indonesia ketika mereka seharusnya menuturka bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan lainnya juga timbul dari segi penamaan daerah, kelurahan atau desa.  Pelaku  kesalahan  penamaan  dan  kerusakan  bahasa  tersebut meliputi semua unsur penutur bahasa, bahkan juga oleh pemerintah. Jamak ditemui sebagian atau keseluruhan unsur nama daerah dan kelurahan atau desa terkesan telah di Indonesiakan. Seperti nama Tanjuang  cenderung diubah menjadi Tanjung, Lubuak menjadi Lubuk, Gunuang menjadi Gunung dan sebagainya.

 

Permasalahan tentang bahasa daerah yang juga tidak kalah serius adalah di dunia pendidikan. UUD 1945 mengamanatkan bahwa, kelestarian bahasa daerah merupakan salah satu aspek pelaksanaan pembangunan yang penting. Pada Bab XV pasal 36 UUD 1945 dicantumkan bahwa bahasa daerah adalah bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup dan salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi negara. Salah satu upaya pemerintah dalam melestarikan bahasa daerah adalah membuat peraturan untuk mengadakan pelajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga menengah atas.

 

Sebelumnya, Sumatra Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menerapkan pembelajaran muatan lokal, yakni Budaya Alam Minangkabau (BAM). Namun, sejak diretapkannya kurikulum 2013 di setiap jenjang pendidikan di Indonesia, menyebabkan pembelajaran muatan lokal dihapuskan, termasuk pembelajaran Budaya Alam Minangkabau. Akibatnya, pengetahuan generasi muda tentang bahasa pun ikut berkurang. Pelajar yang seharusnya memiliki peran penting dalam melestarikan bahasa daerah hanya bisa pasrah dengan tuntutan kurikulum. Padahal sekolah, peserta didik, dan pembelajaran budaya serta bahasanya merupakan paket komplit sebagai upaya pelestarian bahasa daerah.

 

Permasalahan seperti ini harus segera diatasi. Berbagai cara dapat dilakukan untuk kembali melestarikan bahasa daerah, salah satunya memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi. Tak jarang literasi digital menjadi pilihan yang tepat untuk  melestarikan bahasa daerah, apalagi pada situasi pandemi covid-19 yang melanda Indonesia sejak Februari lalu mengakibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan. Apapun pekerjaan dilakukan  secara daring menggunakan aplikasi canggih seperti zoom metting dan sejenisnya. Penggunaan aplikasi semacam ini sebetulnya juga bisa dimanfaatkan untuk melestarikan bahasa daerah. Salah satu upaya pelestarian bahasa daerah yang memanfaatkan digital adalah penggunaan aplikasi Quizizz.

 

Quizizz merupakan sebuah webtool untuk membuat permainan kuis interaktif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.  Penggunaannya sangat mudah, kuis interaktif ini memiliki hingga lima pilihan jawaban termasuk jawaban yang benar. Tidak hanya bisa digunakan dalam proses pembelajaran, aplikasis Quizizz ini juga bisa digunakan oleh siapa saja

 

Bentuk pelestarian bahasa daerah semacam ini dinilai efektif, karena selain mengasah kemampuan kita dalam menjawab pilihan yang disediakan, selama kuis berlangsung kita dapat memahami bahasa daerah dengan baik. Sebagai contoh, ketika dalam kuis tersebut ditanyakan ayam mengakeh tanah  arti kata mangakeh dalam bahasa Indonesia adalah? Dengan pilihan jawaban mengais, mencari, dan menginjak. Tanpa kita sadari setelah membaca soal yang bersangkutan, kita langsung hafal adalah cando ikan pulang kalubuak dengan pertanyaan makna kata tersebut adalah seperti ikan pulang ke laut, telah kembali ke tempat asalnya, seperti ikan pulang ke danau.

 

Dengan demikian pengetahuan kita pun menjadi bertambah tentang bahasa Minangkabau. Melestarikan bahasa daerah menjadi tanggung jawab kita bersama. Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri.

 



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Suarakampus