Opini › Opini


Demokrasi Made In Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang

Kamis, 21/07/2011 13:45 WIB | Oleh : Dolly Putra

Hari ini masih banyak orang-orang membicarakan apa itu demokrasi.Ini bermula ketika runtuhnya rezim Soeharto.Orang seakan-akan lepas kontrol, dalam membicarakan demokrasi. Efeknya sampai sekarangIndonesia belum mempunyaidemokrasi yang bisa diandalkan. Kalau boleh dikata, negara ini memakai sistem demokrasi abstrak. Kalau kaum muslim merindukan demokrasi Islam, banyak yang kontra.Begitu pula, demokrasi yang liberal,banyak juga yang tidak suka.Menurut penulis, sampai saat iniIndonesia belum mampu keluar untuk merubah sistem demokrasi menjadi lebih baik.

 

Begitu juga sistem demokrasi yang dipakai oleh civitas AkademikaIAIN Imam Bonjol yangtidak jauh berbeda.Perubahan organisasi mahasiswa yang ada dikampus ini, dari sistem pemilu raya ke musyawarah.Itu terjadi karena pemilu raya diangap banyak kepentingan. Setiap pemilihan ada kecurangan yang terjadi. Makanya sesuai konstitusi sekarang.Dibuatlahsistem musyawarah agar tidak terjadi kecurangan dalam memilih pemimpin mahasiswa.Namunapa hendak dikata sistem yang diubahpun jauh dari apa yang diharapkan oleh mahasiswa.

 

Pengurus Dema yang ditelurkan dari hasil Musyawarah, tidak mampu  mengontrol dan mensosialisasikannya.Seolah-olah organisasi yang ada di institusi ini hanya berjalan sendiri-sendiri.Dewan Mahasiswa (Dema))dengan aktifitasnya,Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dengan sendirinya, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) pun tidak mau kalah.Setiap lembaga merasa dia yang paling tinggi sehinga tidak adanya rasa saling menghargai dalam kelembagaan mahasiswa. Maka terjadilah pengkotak-kotakan organisasi mahasiswa.

 

Menurut saya ini bermula dari diadakannya Musymi pertama sampai yang terbaru. Semuanya melahirkan banyak kecurangan dan kepentingan. Sehingga  tidak banyak yang dilakukan oleh organisasi kampus. Akibatnya, ketua DEMA yang menaungi seluruh mahasiswa tidak banyak dikenal oleh civitas akademika.Hanya segelintir mahasiswa saja yang tahu siapa pemimpinnya. Menurut saya, kesalahannya adalah sistem yang dipakai tidak repsentetif karena tidak mewakili semua suara mahasiswa.

 

Kalau bicara tentang Musymi, banyak keunikanyang terjadi. Konstitusi yang sudah adapun di otak atik demi sebuah kepentingan. Saya menilai ini tidak bagus. Coba kalau Setiap kegiatan yang dilakukan dibicarakan dengan SMF sebagai lembaga tertingi di fakultas. Mungkin keadaannya akan lebih bagus, karena demokrasi akan terbangun dari sana.

 

Masalah urgen lainnya yaitu untuk utusan peserta penuh dan bakal calon pun seolah-olah banyak kepentingan. Seperti surat yang masuk ke SMF hanya berdurasi 3 hari, setelah selesai di semua persaratan Musymi pun dilanjutkan. Ini terlihat janggal, Panitia menerima persyaratan peserta penuh dari HMJ tanpa sepengetahuan SMF. Sedangkan dalam undangan yang dilayangkan panitia kepada SMF, dinyatakan bahwa peserta penuh adalah utusan SMF, dan peserta peninjau dari HMJ.

 

Melihat kejanggalan ini, ada beberapa SMF yang merasa kecewa.Karena DEMA seolah-olah tidak mengangap adanya lembaga tertinggi di fakultas.Seperti kebijakan yang diambil oleh SMF diangap tidak legal. Namun kenapa persaratan penuh yang dikeluarkan oleh HMJ diterima, apakah itu sudah memenuhi persaratan yang ditentukan oleh panitia? Menurut saya persyaratan itu harus dirundingkan secara bersama oleh pihak SMF dan HMJ, agar tidak adanya terjadi pihak yang dikecewakan dalam masalah ini.Panitiapunseakan tidak mampu berbuat lebih adil karena tampak memihak. Tanpa mempertimbangkan azas musyawarah.

 

Kita tidak mencari siapa yang harus kita salahkan.Mari kita koreksi dan mencari sebuah solusi, agar organisasi mahasiswa lebih baik kedepan.Setidaknya kita harus merubah sistem yang sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh mahasiswa. Anggap saja ini adalah sebuah produk yang gagal. Gagal bukan berarti kita harus mengecam apa yang telah dibuat. Tapi harus memberikan konsep yang jelas untuk kemajuan organisasi mahasiswa.Agar tidak terjadinya selisih paham antara mahasiswa.

 

Setidaknya aturan yang sudah ada harus diperjelas dan ada rinciannya, sehingga tidak ada lagi aturan yang di rubah seenaknya. Apakahkita akan selalu seperti ini? berjalan tidak mempunyai pedoman dan aturan untuk lebih baik.Ke depan, mari kita bersama tekadkan niat untuk memajukan lembaga mahasiswa yang sama-sama kita cintai ini.Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat, Fakulutas Ushuluddin Semester VI.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait