Opini › Opini


IAIN IB FOR UIN IMAM BONJOL

Selasa, 24/01/2012 14:07 WIB | Oleh : Duski Samad*

“Konversi IAIN menjadi UIN memang akan membesarkan IAIN tapi ingat fakultas dan prodi-prodi agama jangan sampai terpinggirkan”. Ini bentuk pernyataan kegamangan yang mengemuka oleh beberapa orang guru besar dan anggota senat dalam rapat senat IAIN Imam Bonjol Padang yang dilaksanakan Selasa, 17 Januari 2012 di Aula Pascasarjana IAIN Jln. Sudirman No. 15 Padang.

 

Pandangan kekhawatiran dan kecemasan tentang konversi IAIN menjadi UIN yang muncul dalam berbagai versi pemikiran adalah hal yang wajar dan menunjukan kepedulian (care) para pihak untuk memberikan konstribusi yang lebih baik untuk umat dan lembaga. IAIN yang dalam kesejarahannya membawa misi keumatan dan keilmuan Islam telah dengan nyata memberikan konstribusi yang cukup signifikan dalam kehidupan berbangsa dan dan bernegara.

 

Pengelola dan civitas akademika IAIN telah membawa pengaruh yang cukup penting untuk semarak dan bergairahnya discursus dan pengembangan keilmuan Islam di negeri yang mayoritas umatnya beragama Islam. Alumni IAIN telah dengan nyata menjadi “orang-orang penting” yakninya orang-orang cukup mendapat tempat dan posisi strategis dalam berbagai lapangan kerja. IAIN telah dengan nyata menjadi tali penghela mobilitas anak bangsa, khususnya mereka yang berada dilembaga pendidikan agama dan keagamaan di daerah terpencil sekalipun.       

Meresponi wacana dan trend pemikiran yang ada di lingkungan pemikir dan cendikiawan muslim Indonesia, tentang perlunya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) mengkoversi diri menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), sebagaimana sudah ditempuh oleh 6 (enam) IAIN  (UIN Jakarta, UIN Bandung, UIN Jokyakarta, UIN Makasar, UIN Malang dan UIN Pekanbaru), maka adalah hal yang masuk akal jika semua komponen pemikir muslim mencari format yang tepat bagaimana seharusnya UIN yang tepat dan prospektif itu.

 

Tarik ulur pemikiran antara setuju murni, setuju bersyarat dan tidak setuju konversi IAIN menjadi UIN pada dasarnya berpusat disekitar permasalahan  sejarah, misi, filosofis dan realitas UIN yang ada sekarang. Keanekaragaman sumber daya (input) dosen, mahasiswa dan tenaga administratif yang akan mengisi lembaga UIN tentu akan membawa ekses pada prilaku dan relasi sosial yang akhirnya membawa dampak tersendiri bagi pencapaian tujuan dan kinerja. Tampilan dosen, mahasiswa dan personil administrasi UIN yang cendrung kurang mencirikan warga IAIN – baju sempit, pakai jilbab tapi celana sempit, pergaulan laki-laki perempuan kurang Islami – adalah sisi yang menjadi gusarnya beberapa pihak untuk berubah menjadi UIN.

 

Khusus untuk IAIN Imam Bonjol yang lahir dan dibesarkan oleh umat Islam Sumatra Barat yang memiliki akar filosofis dan historis keislaman dalam bingkai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah maka konversi menjadi UIN tentu harus dilakukan dengan kalkulasi yang matang. Ideologi keislaman dan keminangkabauan yang diusung IAIN Imam Bonjol sejak awal berdirinya harus dapat menjadi corak khusus yang tak boleh dimarginalkan oleh kepentingan sesaat. Sibgah (kekhasan) yang melekat dalam diri IAIN Imam Bonjol berupa  aktualisasi dan aksentuasi dosen, civitas akademika, dan alumni yang memiliki pemahaman keislaman yang memadu dengan kearifan lokal adat Minangkabau harus dapat dipertahankan. Sikap dan pola pikir cendikiawan muslim di IAIN Imam Bonjol yang menjadikan Islam bukan saja sebagai agama dalam artian ritual yang sempit, tetapi menempatkan Islam sebagai agama yang acceptable dengan perkembangan zaman serta dapat menjadi alternatif solusi manusia moderen hendaknya tidak boleh tergerus oleh orentasi populisnya UIN. 

 

Kembali kepada perbincangan IAIN Imam Bonjol menjadi UIN Imam Bonjol pada dasarnya adalah lagu lama dengan aransemen baru. Bila dicermati pokok pikiran para ahli, khususnya teori pohon ilmu, dimana ilmu itu dikelompokkan pada  science, soscial dan humaniora,  ini sebenarnya sudah sejak lama dijalankan di institut ini. Potensi ketiga cabang keilmuan di atas secara  potensial sudah dilakukan, hanya saja secara formal yang belum. Pembukaan prodi dan jurusan di luar studi agama adalah contoh konkrit sikap untuk berubah menjadi UIN sudah digerakkan pimpinan sebelum yang sekarang.

 

Berkenaan dengan kegalauan beberapa pihak bahwa UIN akan menjadikan studi agama akan terkalahkan oleh studi umum, tidak sepenuhnya benar, UIN Jakarta dan Jogyakarta dalam perjalanannya ternyata justru menjadikan  studi agama semakin kuat. Penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya tidak pernah menyurut, malah tambah kompetitif. Identitas UIN justru membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat untuk menyerahkan anak-anaknya di lembaga umat yang tambah kuat dan kokoh ini.  Proses penyadaran dan perubahan paradigma menuju UIN tentu tidak akan terjadi begitu saja, perlu waktu dan proses berkelanjutan.

 

Konversi menjadi UIN jelas tidak akan mudah dan berlangsung cepat, perlu waktu yang cukup lama dengan segala persiapan serius, untuk itu dibutuhkan persetujuan prinsip semua dari semua komponen di IAIN Imam Bonjol Padang. Pengalaman pimpinan IAIN yang telah menjadi UIN patut untuk digali, sulit memang, kalau tidak dimulai sekarang, ya kapan lagi? Mengenai kapan harus  dimulai dan berapa biaya yang harus dicari serta pertanyaan teknis lainnya, tentu akan direncanakan secara matang oleh pemangku amanah kepemimpinan hari ini.

 

Mengenai suara-suara yang kurang sependapat atau menentang  konversi menjadi UIN, dan meminta IAIN bertafaquhfiddin dan meningkatkan mutu pendidikan agama, tidak harus disepelekan. Biarkan pendapat tersebut menjadi bahagian dari dinamika internal IAIN dan kembangkan pemikiran sejenis itu menjadi peluang untuk lebih dinamis dan memperjuangkan ide-ide besar untuk kemajuan umat yang lebih berarti. Pimpinan yang sedang memegang amanah dituntut untuk terus melakukan pendalaman tentang arah, corak dan orentasi yang ingin dicapai serta tetap memperhatikan bentuk kekhawatiran beberapa pihak yang sesuai porsinya.

 

Sebenarnya, jika ditelaah secara filosofis, integrasi keilmuan antara ilmu agama dengan ilmu lainnya adalah sebuah kebutuhan yang tak dapat dielakkan lagi. Misalnya untuk Shalat saja, tentu diperlukan kain, bagaimana mendapatkan kain dan memprosesnya menjadi pakaian itu pastilah dibutuhkan science (ilmu). Begitu juga ibadah Haji, umat Islam harus tahu tentang berbagai hal dalam perjalanan antar benua  dan bahkan mestinya umat Islam harus bisa membuat pesawat. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kehadiran UIN itu dibutuhkan, dan sangat penting untuk kemajuan umat dan masa depan umat.

 

Sejarah kejayaan umat Islam di abad keemasan seperti sejarah perguruan tinggi Nizamiah, yang pernah dipimpinan oleh filosof Islam Iman Al Ghazali (wafat 1111 Masehi) adalah referensi sejarah yang tak boleh dilupakan khususnya menjawab kegamangan tentang termarginalkannya alumni yang  bertafaquhfiddin. Begitu juga halnya dengan perguruan tinggi terkenal universitas al Azhar di Mesir adalah contoh lain integrasi ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu moderen dapat berjalan dengan baik dan saling mendukung. Menjadikan Universitas Al Azhar sebagai model adalah pilihan lain yang tak salah bila dipertimbangkan. Model lain yang sudah melihatkan hasilnya seperti UIN Malang, yang mampu mencetak alumni priodi matematika, biologi, dan ilmu scince memiliki nilai plus hafal al-qur’an. Penguatan ilmu-ilmu agama melalui pengasramaan mahasiswa melalui program Maha’d aly adalah bentuk agenda yang telah melahirkan mahasiswa yang  cerdas dan beragama kuat. Memperhatikan trend kedepan  tentang kecendrungan SMA Plus yang diminati orang orang tua adalah cikal bakal dari integrasi ilmu umum dan agama.

 

Kesepakatan untuk melakukan konversi IAIN menjadi UIN pada hakikatnya  adalah upaya untuk melakukan inovasi dan improvisasi bagi kemajuan anak umat agar dapat tetap eksis menghadapi era digital yang terus menantang ini. Jika ada para pihak yang menyatakan setuju dengan mengajukan berbagai syarat dan catatan maka kekhawatiran itu dijadikan tantangan untuk dijawab. Pertanyaan yang tak boleh diremehkan oleh pihak pengelola adalah apakah dengan budaya kerja yang ada sekarang IAIN Imam Bonjol siap memasuki UIN? Ini tantangan yang harus dijawab dengan kerja keras dan kesatuan pandangan semua pihak. Langkah dan agenda kedepan perlu dirumuskan secara sistemik dan terukur. Mengenai kualitas prodi agama sekarang ini masih memperihatinkan tentu perlu terus ditingkatkan. Kebutuhan kedepan diperlukan orang-orang yang  memiliki pengetahuan kotemporer dan memiliki etos kerja yang kuat. Tidaklah berlebihan bila disimpulkan bahwa konversi menjadi UIN sangat tepat untuk menjawab tuntutan kedepan.

 

Sebagai bahagian akhir dari wacana dan perdebatan ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, (1) bahwa menuju Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang sebagai tema pokok yang dibahas oleh Senat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) adalah keniscayan sejarah keagamaan dan sosial keumatan yang memerlu komitmen bersama, yang nantinya akan dibuatkan dalam bentuk deklarasi. (2) Misi Dakwah dan pembinaan umat yang diemban oleh IAIN Imam Bonjol sejak awal berdirinya perlu diproteksi sedemikian rupa, belajar ke UIN Jakarta yang menetapkan bahwa Fakultas Agama yang ada di UIN tidak boleh dikurangi dan mahasiswa prodi agama harus tetap 60 persen dari seluruh mahasiswa UIN. (3) Konversi IAIN menjadi UIN adalah keniscayaan sejarah untuk mewadahi mobilitas sosial anak umat, khususnya alumni Madrasah dan Pesanteren, agar ia dapat menjadi anak bangsa yang akan mengisi pos strategis di negara Pancasila ini.

 

Setelah mendengar tanggapan dan curah pendapat dari 15 (lima belas) senator IAIN Imam Bonjol, maka Rektor menyimpulkan dan disetujui oleh 28 orang anggota Senat yang hadir bahwa (1). Senat menyetujui dan mendukung sepenuhnya konversi IAIN Imam Bonjol Padang menjadi UIN Imam Bonjol Padang. (2). Senat mengamanatkan kepada Rektor untuk membentuk TIM konversi IAIN Imam Bonjol Padang menjadi UIN Imam Bonjol Padang dan melaporkan hasil kerjanya kepada Senat IAIN Imam Bonjol Padang. (DS.17012012).    

 

*Penulis merupakan Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait