Opini › Opini


Cerita "Aneh" Tentang Pendidikan Aceh

Selasa, 27/03/2012 10:23 WIB | Oleh : Muslim Ramli*

Lucu memang, kalau saja kita mau menilik kondisi pendidikan di Aceh sekarang. Simak saja, saya akan menceritakan sedikit kisah pendidikan Aceh yang terkesan “aneh”.


Saya yakin, pembaca tidak akan pernah lupa tentang kejayaan Aceh masa lalu. Pada masa kepemerintahan Sulthan Iskandar Muda misalnya. Bukan hanya dalam hal ekonomi dan agama saja yang terurus, melainkan juga pendidikan yang terpandang. Dulu, banyak orang yang datang dari luar Aceh hanya untuk menuntut ilmu di tanah bertuah ini. Malaysia misalnya. Kebanyakan dari masyarakat Malaysia memilih Aceh sebagai ladang untuk menggarap ilmu pengatahuan sebanyak-banyaknya. Terutama ilmu pengetahuan agama Islam.

 

Silih tahun berganti, seiring masuknya Belanda dan Jepang ke Indonesia, perang Indonesia-Belanda dan Indonesia-Jepang pun tak terhindari. Sekitar tahun 1930-an, perang dengan Belanda baru mereda. Namun perlawanan masih terjadi di sana sini. Nah, kondisi pendidikan Aceh ketika itu sangat memprihatinkan. Banyak para guru (ulama) dan santri yang syahid dalam perjuangan. Dayah yang hancurpun tak terhitung jumlahnya. Di sinilah awalnya cerita “Aneh” tentang pendidikan Aceh itu dimulai.

 

Setelah merebut kemerdekaan, Indonesia mulai berbenah diri. Termasuk Aceh yang mulai merapikan sisa-sisa perjuangan dan semangat untuk memperbaiki diri. Pada saat itu secara kompeherensif tidak ada lagi ancaman, peperangan atau apapun yang menjadi kendala berarti dalam mengurus daerah masing-masing.

 

32 tahun masa persiapan aceh untuk berbenah menjadi sebuah provinsi maju, menuai masalah. Pemberontakan internal mulai terjadi. Karena merasa dianaktirikan oleh Republik Indonesia (RI), muncul gerakan separatis yang katanya ingin membela hak-hak rakyat Aceh pada khususnya. Tepat 4 Desember 1976 sebuah gerakan yang menamakan dirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dideklarasikan. Tentu saja almarhum Hasan Tiro sebagai pelopornya.

 

Konflik mulai menyelimuti Aceh. Bayangan kematian semakin mencekam. Ada saja setiap harinya salah satu anggota keluarga “hilang” tiba-tiba dan keesokan harinya pulang tanpa kepala atau sudah tidak bernyawa. Mungkin faktor inilah yang menyebabkan keluarga saat itu was-was dengan keselamatan anak remaja mereka. Anak-anak mulai takut sekolah. Takut kalau saja di jalanan terjadi kontak senjata atau terjadi penculikan yang ujung-ujungnya harus ditebus nyawa.

 

Pembaca, sebenarnya saya bukan bermaksud mengungkit kembali sejarah kelam. Saya mencoba menggambarkan cerita-cerita yang nantinya menjadi alasan mengapa pendidikan Aceh lari ditempat. Klimaks dari konflik itu adalah pembakaran sekolah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan dalih sekolah itu “punya” pemerintah, jadi harus dimusnahkan. Anak didik menjadi korban. Masih jelas ingatan saya mengenai pembakaran sekolah ini. Ketika klimaks ini belum terjadi, banyak juga anak didik yang memiliki semangat untuk tetap sekolah walaupun ancaman peluru nyasar bisa saja datang. Namun, semangat itu tidak ada lagi dukungan ketika sekolah-sekolah tempat mereka mengais ilmu berubah menjadi puing-puing.

 

Belum lagi masalah konflik dan pembakaran sekolah selesai, tsunami datang tiba-tiba. Kebanyakan infrastruktur yang ada ada di tanah bertuah ini rusak parah bahkan hancur tak bersisa. Tak terkecuali gedung pemerintahan, rumah sakit, sekolah, dayah, dan tempat-tempat urgen lainnya. Ini pun menjadi alasan mengapa pendidikan Aceh merosot tajam menuju arah keterpurukuan.

 

Pembangunan dimulai. Konflik juga selesai. Namun, sudahkah pendidikan Aceh semakin baik? Boleh-boleh saja kalau dulu infrastruktur dan banyaknya tenaga pengajar tidak mendukung menjadi alasan keterpurukan pendidikan Aceh. Sekarang apalagi? Infrastruktur mulai lengkap. Sistem hampir setiap tahun diperbaharui. Bahkan Aceh diberikan perhatian khusus oleh pemerintah pusat mengenai pendidikan. Dana yang berlimpah, fasilitas lengkap, pemberian beasiswa meningkat, dan segala kemudahan lainnya.

 

Aneh bukan? Aceh yang dulunya jadi kebanggaan dalam dunia pendidikan kini malah berubah status memprihatinkan. Saya tidak mau lagi menuntut pemerintah untuk merubah sistem pendidikan. Karena bukan sistem keseluruhan yang menyebabkan kualitas pendidikan kita dipertanyakan.

 

Satu sisi, saya memberikan apresiasi kepada pemerintahan sekarang yang mulai fokus menangani masalah pendidikan. Pun demikian masih banyak di sana sini oknum pemerintah dan perangkat pendidikan lainnya yang mencoba bermain-main dengan dana pendidikan. Mulai dari kepala dinas selaku pemegang kemudi paling tinggi hingga oknum kepala sekolah dan guru selaku panutan. Masih banyak terdengar pengutipan biaya ini dan itu di sekolah-sekolah dengan bermacam dalih. Padahal jelas-jelas semuanya bertentangan dengan ketentuan sebenarnya. Hanya ketegasan dari pemerintah yang diperlukan.

 

Bagi kaum pelajar dan orang tua, Anda jangan bertepuk tangan dulu ketika saya sedikit menyudutkan pemerintah. Di sini peran pemerintah hanyalah sebagai fasilitator dan pengawas saja. Pemerintah yang bertugas menyediakan sarana dan prasarana. Pemerintah juga yang telah mengatur sebuah sistem pendidikan sedemikian rupa. Kita, orang tua khusunya kaum pelajar sebagai subjek dari pendidikan itu sendiri. Apapun fasilitas dan sistem pendidikan yang diberikan oleh pemerintah hanya menjadi harapan kosong apabila tidak adanya dukungan kita selaku subjek.

 

Cukup banyak fenomena “aneh” mengenai tingkah dan pola pikir remaja masa sekarang. Bolos sekolah misalnya. Hal ini dianggap sebagai rutinitas wajib dan menyenangkan bagi kaum pelajar. Belum lagi tawuran hanya gara-gara masalah sepele. Dan rasanya tidak hebat kalau belum gabung dengan genk-genk brandalan. Di sinilah awal petaka dimulai. Tugas wajib (baca: belajar) dikesampingkan. Menyedihkan bukan?

 

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah kemana peran orang tua? Jangan-jangan orang tua cuek bebek saja. Merasa tidak sanggup mengurusi lagi, langsung melepaskan tanggung jawab. Terus, kalau begini ceritanya, anak yang tidak lulus UN siapa yang dipersalahkan? pemerintah? Atau guru? Saya yakin pembaca punya jawaban sendiri. Sekali lagi bukan sistem yang salah. Tapi tidak adanya dukungan dan kerjasama yang baik antara sesama kita, kaum pelajar,orang tua, guru dan pemerintah.

 

Sebagai bahan renungan, bagi kaum pelajar, kita adalah pemegang kendali masa depan Aceh. Aceh akan baik, jika meninggalkan regenerasi yang baik. Bagi orang tua, jangan lelah menjaga regenerasi bangsa. Setidaknya ada hal baru yang dapat Anda banggakan kelak. “anak saya, mampu membawa perubahan karena didikan saya”.

 

*Penulis merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU)


 : LibfokqJ  
I really like your solo shows, and this epsdoie in particular was one of your best. It requires full attention, and after two minutes I had to stop doing other things and just focus on listening. There aren't many other podcasts that I can say the same thing about.

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Banner Lima