Opini › Opini


Ketika BBM Naik

Minggu, 01/04/2012 09:54 WIB | Oleh : Silfia Hanani*

Saya menikmati tulisan Kwik Kian Gie, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional yang berjudul Percakapan antara Djajang dan Mamad. Tulisan berkisar seputar tentang gonjang-ganjing kenaikkan BBM.

 

Inti percakapan Djajang dan Mamad itu, Kwik sangat menentang keras kenaikan BBM. Tidak hanya sekarang, ketika ia menjadi menteri, ia menolak dengan tegas kenaikkan harga itu.
Kwik geram dengan kebijakan pemerintah yang selalu menaikkan harga BBM dengan alasan, naiknya harga minyak dunia dan guna menyelamatkan APBN.

 

Kata Kwik, pemerintah selalu menjelaskan kepada publik, faktor penyebab naiknya harga minyak dunia yang mempengaruhi dan mengharuskan pemerintah menaikan BBM. Melalui percakapan Djajang dan Mamad, Kwik menjelaskan dengan hitung-hitungan yang mudah dipahami publik.

 

Setelah dikalkulasikan dengan cermat oleh Kwik, ternyata yang membuat harga BBM naik di Indonesia itu bukan disebabkan naiknya harga minyak dunia semata, tetapi karena pemerintah sendiri yang latah mengkiblati New York Mercantile Exchange atau disingkat NYMEX untuk menentukan hagra minyak yang kita miliki.

 

Dasar kiblat ini dikuatkan Undang-Undang No 22/2001 pasal 28 ayat 2 yang menyatakan, harga bahan bakar minyak dan gas bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar.

NYMEX disepakati sebagai acuan harga yang dipakai, guna kepentingan korporasi. Makanya, jika harga minyak dunia naik, di Indonesia terjadi kebijakan kenaikan BBM.Dalam hitung-hitungan angka yang dikemukakan Kwik dengan jelimet, jika Indonesia tidak pakai acuan harga NYMEX tidak akan bakal ada kenaikan harga BBM di negeri ini. Kalau pun dinaikkan harga BBM itu harus melihat realitas dan kepatutan.

 

Terlepas dari itu semua, kebijakan untuk menaikan BBM jelas merupakan kebijakan yang sangat tidak populis. Kebijakan yang menantang arus dan penuh dengan polemik. Bahkan penuh dengan aksi demo dari publik, seperti yang terjadi sekarang, berderetan demontrasi menetang kenaikan BBM, yang direncanakan 1 April.

 

Mengapa publik begitu menentang kenaikan harga tersebut? Tentu tidak lepas dari realitas ekonomi-sosial rakyat Indonesia yang sekarang hampir berjumlah 240 juta jiwa ini.

Lebih dari 30 persen dari 240 juta jiwa itu hidup di bawah garis kemiskinan, mengalami pesakitan ekonomi. Perlu diingat, setiap kenaikan harga BBM implikasinya tidak tanggung-tanggung terhadap harga-harga kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat.

Harga-harga yang melejit yang dipengaruhi kenaikan BBM jelas menjadi pesakitan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, angka kemiskinan diprediksikan akan meningkat, jika BBM itu jadi juga naik, sekali pun pemerintah menyalurkan subsidi.

 

Buruh menjerit menghadapi dampak dari kenaikan BBM. Para buruh akan menghadapi kenaikan harga, sandang, pangan dan bahkan tidak ketinggalan kenaikan harga sewa kamar tempat tinggal. Jelas, yang menjadi pemaksa kemiskinan itu adalah, harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tetap.

 

Inilah yang ditakutkan publik, tidak hanya sekadar BBM yang naik tapi imbasnya terhadap kenaikan harga-harga yang lainnya. Bahkan, dari gonjang-ganjing kenaikan BBM, harga bahan pokok di pasar sudah mulai melejit.

 

Sementara, pemerintah belum menyiapkan strategi yang efektif dan tepat sasaran terhadap subsidi yang akan dikeluarkan. Strategi pemberian subsidi yang belum dirancang dengan tepat ini, sering menimbulkan subsidi tidak tepat sasaran dan tidak berpengaruh banyak dalam mengubah perekonomian masyarakat.

 

Realitas dampak kenaikan harga BBM, terjadinya indek kualitas hidup orang Indonesia akan turun dan akan jauh teringgal dari negara-negara tetangga. Prediksi penurunan angka kemikisnan yang diperkirakan pemerintah tahun ini juga sulit tercapai.

 

Frustasi sosial

 

Tekanan ekonomi yang semakin memberatkan, akan memengaruhi terhadap prilaku sosial individual, masyarakat dan negara. Namun, bagi yang tidak mampu meng hadapi tekanan ekonomi akan melahirkan tindakan pasrah dan apatis, frustasi menghadapi kenyataan.

Tindakan frustasi atas ketidaksigapan dalam menghadapi kenyataan itu diekpresikan dalam berbagai bentuk. Ekspresi melawan arus akan semakin akrab dilihat, jika tekanan-tekanan ekonomi itu semakin tidak terkendalikan oleh seseorang.

 

Dalam realitas keseharian, kita menyaksikan frustasi sosial diekpresikan dalam beragam cara, misalnya dalam bentuk bunuh diri. Masih ingat dalam benak kita seperti diberitakan televisi, seorang ibu memilih mengakhiri hidupnya dan anaknya karena tidak sanggup menghadapi “pesakitan” akibat ekonomi.

 

Tidak hanya demikian, frustasi sosial juga dapat terlihat dari semakin tingginya angka kriminalitas. Kriminalitas sebagai ekspresi untuk menutupi ketidak mam puannya dalam memenuhi kebutuhan hidup, mengapa orang mau mencuri singkong mencuri pisang satu tandan, dan seterusnya karena frustasi tidak tahu untuk bertindak guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kenaikan BBM, akan berpotensi mempengaruhi munculnya frustasi sosial, akar rumput yang mengalami pesakitan ekonomi, akan berpeluang mengalami frustasi tersebut.

 

Beratnya beban hidup tingginya tekanan ekonomi dan tak jangkauanya harga-harga bahan pokok, membuka peluang munculnya frustasi sosial di kalangan akar rumput itu.

 

Menurut Scotts, frustasi sosial juga akan melahirkan sikap ketidakpatuhan terhadap aturan. Sikap ketidak patuhan itu diistilahkan Scotts dengan senjata-senjata orang yang kalah.

 

*Penulis adalah Alumni LPM Suara Kampus IAIN IB dan Staf Pengajar di STAIN Bukittinggi



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Banner Lima