Opini › Opini


Rektor Ilmiah

Senin, 02/04/2012 21:41 WIB | Oleh : Iswanto. JA

 

Melorotnya dinamika IAIN Imam Bonjol Padang dinilai banyak pengamat akibat kurang tegasnya rektor. Maka pada pemilihan rektor 2011-2016, sangat dibutuhkan rektor yang pemberani dan tegas. Tidak ada pilihan, konon orang yang tegas di IAIN IB Padang ini hanya Makmur Syarif. Itu sebabnya, Makmur Syarif pun menduduki kursi rektor karena sikap ketegasannya. Itulah manuver politik yang pernah dinyatakan seorang pengamat kampus IAIN IB Padang kepada saya secara pribadi saat memilih orang nomor satu di kampus islami ini.
Namun dalam teori ilmu kepemimpinan, ketegasan tidak serta merta membuat orang berhasil dalam memimpin. Justru perlawanan dari berbagai arah sering terjadi. Akibatnya, tidak sedikit pemimpin yang lengser dari tahtanya akibat sikapnya yang tegas dan berubah menjadi otoriter.
Saya tidak menghendaki kalau Makmur Syarif memimpin IAIN IB Padang ini sampai di tengah jalan akibat sikapnya yang tegas tanpa mempertimbangkan suara seluruh elemen kampus yang dinilai sangat ilmiah. Nilai-nilai ilmiah sebagai orang kampus sangat perlu dipertahankan dan diperhitungkan dalam menjaga kekuasaan.
Salah satu contoh, baru beberapa bulan Makmur Syarif dilantik jadi rektor sudah ada perlawanan terhadap dosen dan karyawan akibat pemotongan gaji untuk zakat. Perlawanan itu pun akhirnya dimenangkan Makmur Syarif dengan menggunakan kekuasaannya. Ada kabar, kalau tidak menerima kebijakan rektor soal zakat, pangkatnya tidak diurus dan tidak naik.
Penulis memandang, sikap tegas dari Makmur Syarif soal masalah zakat itu sudah berubah menjadi otoriter meskipun itu hak rektor untuk mengambil keputusan. Namun ini sudah menjadi awal jalan terjal lima tahun mendatang.
Bukan hanya itu, Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Kampus, Arjuna, juga mendapat ancaman akibat karya tulisnya di Harian Pagi Padang Ekspres yang menyorot rencana IAIN IB Padang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). 
Penulis mengakui, tulisan itu memang ditulis dengan bahasa radikal, sehingga orang yang punya rencana baik untuk menuju UIN sangat terusik membacanya, termasuk saya sendiri. Namun apa pun ceritanya, itu adalah karya ilmiah yang patutu untuk diapresiasi dan dihargai sebagai insan akdemisi. 
Duski Samad pun membalas tulisan Arjuna di koran yang sama dengan masalah yang sama dan dengan bahasa yang akademisi serta santun. Tapi kok rektor sendiri tidak puas dengan jawaban dan penjelasan Duski Samad. Sikap tegas Makmur Syaruf yang berubah otoriter dengan rencana untuk membredel Suara Kampus dan memberhentikan perkuliahan Pemimpin Redaksinya dari IAIN IB Padang merupakan sikap yang tidak ilmiah. Itulah penilaian saya yang tepat untuk Makmur Syarif pada saat ini.
Ada banyak karya ilmiah di Indonesia ini yang dihasilkan dari kaum intelektual muda dengan nakal dan mengusik banyak orang, tapi semua itu tetap mendapatkan apresiasi meskipun awalnya mendapat cacimaki dan ancaman. Semua itu adalah hal yang wajar. Sebab setiap pemikiran pembaharuan awalnya mendapat pertentangan, bahkan tidak sedikit yang masuk penjara akibat karya tulisnya yang dianggap melawan penguasa.
Saya enggan memberikan saran kepada Profesor Makmur Syarif, tapi setidaknya saya hanya memberikan pertimbangan saja untuk dikaji secara akademisi sehingga hasilnya ilmiah. 
Secara teori ilmu jurnalistik, kalau ada berita atau karya ilmiah yang nakal, tidak seharusnya dihadapi dengan cara mengancam selama tidak bertentangan dengan hukum. Saat ini pers memberikan hak jawab, dan hak jawab itu sudah dilakukan Duski Samad mewakili penguasa IAIN IB Padang. 
Statemen Profesor Makmur Syarif yang akan membredel Suara Kampus dan mengeluarkan Pemimpin Redaksinya dari IAIN IB Padang ini membuat saya terpanggil dan bertanggungjawab untuk memberikan solusi. Sebab saya menganggap, sikap itu sangat tidak ilmiah jika ditinjau dalam perspektif akademisi. Namun saya sendiri masih perlu bertanya, apa ada dasar hukum untuk memecat mahasiswa dengan kesalahan menulis artikel dengan bahasa nakal dan radikal? 
Sejak saya memimpin Tabloid Suara Kampus sampai sekarang, ancaman memecat awak redaksi memang tidak pernah terealisasi, termasuk membredel Suara Kampus. Mungkin semua itu tidak terjadi karena tidak ada dasar hukumnya. Saya sendiri mengamati sepanjang sejarah Suara Kampus, bahwa setiap penerbitannya tidak pernah memfitnah, justru selalu memainkan kontrol dan kritiknya.
Kini saya menyadari dan memahami, bahwa rektor kita tidak suka dikritik atas segala kebijakannya, meskipun selalu sepihak. Atau sebaliknya, tidak siap dikritik oleh siapa pun terkait semua "fatwanya".
Saya sedikit bermain logika, seandainya mahasiswa IAIN IB Padang menjalankan aksi demonstrasi dengan tuntuan tolak UIN, tentu tidak mungkin mereka akan dipecat semua. Dan sudah pasti aksi demo itu akan diliput media massa kemudian masuk koran dan juga masuk tv.
Maka, lebih baik kita melakukan protes dan kritik lewat media cetak dengan karya tulis dari pada harus demonstrasi yang akan mengganggu proses perkuliahan dan ketentraman kerja civitas akademika UIN Padang, maaf, maksud saya IAIN IB Padang. Dan seingat saya begitulah yang dilakukan Bung Hatta lewat Tabloid Mahasiswanya "Daulat Rakyat" saat melakukan aksi secara ilmiah untuk merubah wajah Indonesia yang dulu suram.
Semoga mahasiswa IAIN IB Padang terus berkarya untuk merubah IAIN IB Padang yang saat ini memang masih suram. Semoga bisa!

Iswanto. JAMelorotnya dinamika IAIN Imam Bonjol Padang dinilai banyak pengamat akibat kurang tegasnya rektor. Maka pada pemilihan rektor 2011-2016, sangat dibutuhkan rektor yang pemberani dan tegas. Tidak ada pilihan, konon orang yang tegas di IAIN IB Padang ini hanya Makmur Syarif. Itu sebabnya, Makmur Syarif pun menduduki kursi rektor karena sikap ketegasannya. Itulah manuver politik yang pernah dinyatakan seorang pengamat kampus IAIN IB Padang kepada saya secara pribadi saat memilih orang nomor satu di kampus islami ini.
Namun dalam teori ilmu kepemimpinan, ketegasan tidak serta merta membuat orang berhasil dalam memimpin. Justru perlawanan dari berbagai arah sering terjadi. Akibatnya, tidak sedikit pemimpin yang lengser dari tahtanya akibat sikapnya yang tegas dan berubah menjadi otoriter.


Saya tidak menghendaki kalau Makmur Syarif memimpin IAIN IB Padang ini sampai di tengah jalan akibat sikapnya yang tegas tanpa mempertimbangkan suara seluruh elemen kampus yang dinilai sangat ilmiah. Nilai-nilai ilmiah sebagai orang kampus sangat perlu dipertahankan dan diperhitungkan dalam menjaga kekuasaan.
Salah satu contoh, baru beberapa bulan Makmur Syarif dilantik jadi rektor sudah ada perlawanan terhadap dosen dan karyawan akibat pemotongan gaji untuk zakat. Perlawanan itu pun akhirnya dimenangkan Makmur Syarif dengan menggunakan kekuasaannya. Ada kabar, kalau tidak menerima kebijakan rektor soal zakat, pangkatnya tidak diurus dan tidak naik.
Penulis memandang, sikap tegas dari Makmur Syarif soal masalah zakat itu sudah berubah menjadi otoriter meskipun itu hak rektor untuk mengambil keputusan. Namun ini sudah menjadi awal jalan terjal lima tahun mendatang.


Bukan hanya itu, Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Kampus, Arjuna, juga mendapat ancaman akibat karya tulisnya di Harian Pagi Padang Ekspres yang menyorot rencana IAIN IB Padang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). 


Penulis mengakui, tulisan itu memang ditulis dengan bahasa radikal, sehingga orang yang punya rencana baik untuk menuju UIN sangat terusik membacanya, termasuk saya sendiri. Namun apa pun ceritanya, itu adalah karya ilmiah yang patutu untuk diapresiasi dan dihargai sebagai insan akdemisi. 
Duski Samad pun membalas tulisan Arjuna di koran yang sama dengan masalah yang sama dan dengan bahasa yang akademisi serta santun. Tapi kok rektor sendiri tidak puas dengan jawaban dan penjelasan Duski Samad. Sikap tegas Makmur Syarif yang berubah otoriter dengan rencana untuk membredel Suara Kampus dan memberhentikan perkuliahan Pemimpin Redaksinya dari IAIN IB Padang merupakan sikap yang tidak ilmiah. Itulah penilaian saya yang tepat untuk Makmur Syarif pada saat ini.


Ada banyak karya ilmiah di Indonesia ini yang dihasilkan dari kaum intelektual muda dengan nakal dan mengusik banyak orang, tapi semua itu tetap mendapatkan apresiasi meskipun awalnya mendapat cacimaki dan ancaman. Semua itu adalah hal yang wajar. Sebab setiap pemikiran pembaharuan awalnya mendapat pertentangan, bahkan tidak sedikit yang masuk penjara akibat karya tulisnya yang dianggap melawan penguasa.
Saya enggan memberikan saran kepada Profesor Makmur Syarif, tapi setidaknya saya hanya memberikan pertimbangan saja untuk dikaji secara akademisi sehingga hasilnya ilmiah. 


Secara teori ilmu jurnalistik, kalau ada berita atau karya ilmiah yang nakal, tidak seharusnya dihadapi dengan cara mengancam selama tidak bertentangan dengan hukum. Saat ini pers memberikan hak jawab, dan hak jawab itu sudah dilakukan Duski Samad mewakili penguasa IAIN IB Padang. 
Statemen Profesor Makmur Syarif yang akan membredel Suara Kampus dan mengeluarkan Pemimpin Redaksinya dari IAIN IB Padang ini membuat saya terpanggil dan bertanggungjawab untuk memberikan solusi. Sebab saya menganggap, sikap itu sangat tidak ilmiah jika ditinjau dalam perspektif akademisi. Namun saya sendiri masih perlu bertanya, apa ada dasar hukum untuk memecat mahasiswa dengan kesalahan menulis artikel dengan bahasa nakal dan radikal? 
Sejak saya memimpin Tabloid Suara Kampus sampai sekarang, ancaman memecat awak redaksi memang tidak pernah terealisasi, termasuk membredel Suara Kampus. Mungkin semua itu tidak terjadi karena tidak ada dasar hukumnya. Saya sendiri mengamati sepanjang sejarah Suara Kampus, bahwa setiap penerbitannya tidak pernah memfitnah, justru selalu memainkan kontrol dan kritiknya.


Kini saya menyadari dan memahami, bahwa rektor kita tidak suka dikritik atas segala kebijakannya, meskipun selalu sepihak. Atau sebaliknya, tidak siap dikritik oleh siapa pun terkait semua "fatwanya".


Saya sedikit bermain logika, seandainya mahasiswa IAIN IB Padang menjalankan aksi demonstrasi dengan tuntuan tolak UIN, tentu tidak mungkin mereka akan dipecat semua. Dan sudah pasti aksi demo itu akan diliput media massa kemudian masuk koran dan juga masuk tv.
Maka, lebih baik kita melakukan protes dan kritik lewat media cetak dengan karya tulis dari pada harus demonstrasi yang akan mengganggu proses perkuliahan dan ketentraman kerja civitas akademika UIN Padang, maaf, maksud saya IAIN IB Padang. Dan seingat saya begitulah yang dilakukan Bung Hatta lewat Tabloid Mahasiswanya "Daulat Rakyat" saat melakukan aksi secara ilmiah untuk merubah wajah Indonesia yang dulu suram.


Semoga mahasiswa IAIN IB Padang terus berkarya untuk merubah IAIN IB Padang yang saat ini memang masih suram. Semoga bisa!



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Banner Lima