Opini › Opini


Makmurkan IAIN IB Dengan Gaya Dahlan

Senin, 09/04/2012 16:49 WIB | Oleh : Arjuna Nusantara

Siapa yang tak kenal Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang pernah “Mengamuk” di pintu tol Semanggi sebulan yang lalu. Tindakan tersebut sempat menjadi sorotan media masa. Dalam peristiwa itu, Dahlan hadir bak pahlawan bagi pengendara yang terjebak macet di pintu tol tersebut. Dia membiarkan ratusan kendaraan masuk dengan gratis. Ini dilakukan karena tidak sesuai kinerja pegawai tol tersebut dengan program yang telah ia buat. Sehingga dia marah dan menggantikan pekerjaan pegawai tol itu. Akhirnya, perusahaan yang mengelola tol tersebut segera berbenah.

 

 

Itu sedikit cerita tentang Dahlan Iskan. Tindakan tersebut patut dicontoh, termasuk oleh Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Makmur Syarif. Makmur Syarif terkenal dengan ketegasannya dalam memimpin. Sehingga, pegawai selingkungan IAIN Imam Bonjol tidak ada yang berani melawan atau membantah keputusannya. Seperti pemotongan gaji dengan dalih zakat. Sempat ada yang membuat pernyataan menolak keputusan itu. Namun, sebahagian sudah mulai lagi menarik pernyataan penolakan tersebut, karena diancam SK tidak akan diserahkan. Ancaman itu membuat pegawai takut dan bersedia gajinya dipotong meskipun tidak ikhlas. 

 

 

Itu salah satu contoh ketegasan Makmur, membuat jajarannya takut. Seolah menggambarkan Makmur tidak demokrasi dan tidak mengenal toleransi. Karena terkesan memaksakan kebijakan berdalih ibadah yang tak disepakati. Bukan ketegasan seperti ancaman masa depan itu yang diinginkan. Tapi ketegasan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai.

 

 

Untuk mengetahui adanya pelanggaran yang dilakukan oleh bawahan, tentu perlu bagi seorang pimpinan seperti rektor sidak ke lapangan, seperti yang dilakukan Dahlan Iskan. Mestinya, Rektor menyaksikan bagaimana pegawai Akademik Mahasiswa (Akama) melayani masyarakat kampus ini. Setelah itu, Rektor bisa memutuskan, mana pegawai yang layak untuk IAIN dan mana yang harus diusir dari kampus Islami ini. Kalau rektor telah melakukan ini, Insya Allah, pegawai IAIN akan melayani civitas akademika dengan senyuman, bukan dengan sumpah serapah.

 

 

Rektor tidak cukup sidak ke Akama saja, tapi juga di lingkungan IAIN, kalau Dahlan pernah menumpangi kereta untuk menghadiri rapat kabinet, seharusnya rektor kita sesekali mengelilingi kampus dengan berjalan kaki. Namun, selama ini rektor melintasi kampus dengan mobil mewahnya tanpa membuka kaca mobil. Seolah tak ingin dilihat dan tak ingin melihat mahasiswa.

 

 

Berjalan kaki di kampus bukan pekerjaan percuma. Rektor akan menemui mahasiswa yang duduk berdua dengan lawan jenis di beberapa sudut kampus. Rektor akan menemui mahasiswa pakai celana jeans dan baju kaos. Pernahkan rektor melakukan itu? Hal sepeleh, tapi berbuah manis untuk institusi islam ini. Perilaku dan budaya berpakaian seperti itu perlu diberantas untuk menghilangkan kekhawatiran beberapa pihak ketika sudah menjadi UIN. IAIN saja mahasiswanya begitu, apalagi kalau sudah jadi UIN.

 

 

Disaat masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup melarat, Dahlan Iskan menolak mobil dinas. Terbalik dengan Rektor IAIN Imam bonjol. Mobil dinasnya baru dan mewah. Kita syukuri. Tapi, ingat, banyak mahasiswa miskin yang terlantar kuliahnya dikarenakan beasiswa yang tak kunjung keluar. Adakah Rektor tahu bagaimana kehidupan mahasiswanya?

 

 

Dahlan Iskan pernah menginap di rumah warga miskin beberapa hari lalu. Rumahnya berdinding bambu. Dahlan ketika itu ada kunjungan dinas ke kabupaten Kulon Progo. Dia tidak memilih hotel mewah untuk penginapan, tapi memilih rumah petani miskin untuk menghayati kehidupan rakyat jelata. Alangkah bahagianya mahasiswa jika rektor-sekurang-kurangnya- berkunjung ke kontrakan mereka.

 

 

Penulis sebagai mahasiswa IAIN tidak menuntut rektor mempunyai pribadi yang merakyat seperti Dahlan Iskan. Tapi berharap rektor mampu melakukan tindakan sederhana yang berbuah perubahan fantastis untuk kemajuan. Sebelum rektor melakukan gerakan besar seperti konversi IAIN ke UIN, mungkin akan lebih baik jika memulai dengan memperbaiki kerusakan-kerusakan fisik dan non-fisik kampus ini. Bukan niat untuk me-Nabi-kan Dahlan, tapi usaha Dahlan dalam memperbaiki mesin pembangkit tenaga listrik yang rusak, berhasil meminimalisir pemadaman bergilir.

 

 

Kembali ke kampus kita, gedung perkantoran dan perkuliahan yang dirusak gempa tiga tahun lalu, masih seperti itu saja sampai saat ini.

 

 

Seandainya rektor melakukan tindakan-tindakan kontruktif di atas, rektor akan menjadi pahlawan bagi mahasiswa yang terjebak di kemacetan akademik kampus seperti Dahlan menjadi pahlawan di pintu tol.



Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait
Banner Lima