Opini › Opini


Kado Hari Pendidikan

Jumat, 28/05/2010 09:57 WIB | Oleh : Ilham Mustafa

Ketika berfikir tentang sebuah arah, memori kita sebagai Civitas Akademika IAIN Imam Bonjol Padang tertuju pada dunia seputar kampus. Peraturan yang berlaku, mulai dari gerbang kampus dengan menunjukkan arah bagi laki-laki dan arah bagi perempuan. Tentunya merupakan kemajuan tersendiri bagi kampus hijau ini, dan merupakan gebrakan baru yang dilaksanakan oleh pihak rektorat sejak Maret lalu.

 

Dengan adanya jalan satu arah tentunya banyak wacana yang bisa dikembangkan. Bisa kita analogikan dengan risalah dakwah Rasulullah yang mengajarkan kepada umatnya kalimat tauhid tentang konsep keesaan Allah. Lebih dalam lagi, kita bisa membahas banyak permasalahan dari sudut satu arah ini.

 

Sebagai civitas akademika, dalam keseharian kita harus lebih maju dari pada hari kemaren. Untuk itu kita harus menyamakan persepsi kita kepada satu arah. Dengan kata lain satu arah ini diartikan bisa mengkonsep diri untuk lebih matang dimanapun berada. Alangkah eloknya jika kampus ini dihiasi oleh beberapa warna yang memiliki satu arah yang sama. Ini tentu harapan kita semua.

 

Saya teringat dengan persoalan ibadah shalat. Ketika shalat kita dihadapkan dengan satu arah yaitu kiblat. Satu arah juga bisa dipakai kepada pemimpin. Pemimpin harus bisa menyamakan persepsi yang bisa mensejahterakan rakyat. Tapi, terkadang teori tak semudah dengan aplikasinya.

 

Kita misalkan seperti ini, dua orang pegawai sama-sama bekerja di kantor. Ia sama-sama berangkat pagi dan pulang petang. Tapi, diantara 2 pegawai ini ada yang bekerja tekun dan satu lagi bermalas-malasan atau bisa jadi korupsi. Secara teori dia sama-sama bekerja tapi secara aplikasi ia tidak memiliki arah yang sama lagi. Ini terjadi di Negara kita, sehingga kasus yang terhangat pada saat sekarang ini, seperti Gayus Tambunan yang gajinya tidak seberapa tapi bisa memiliki kekayaan milyaran rupiah. Kenapa bisa begitu? Jawaban simpelnya adalah karena ia tidak lagi memegang konsep satu arah. Bak pepatah “sambil menyelam minum air” artinya sambil bekerja bisa korupsi. alangkah malangnya Negara ini jika banyak gayus-gayus bermunculan.

 

Sudah 6 semester penulis jalani hidup di IAIN mulai dari acara yang mendidik, seminar dan demo terjadi. Sebagai orang yang menuntut ilmu di Kampus Islami ini, tentu penulis dan para pembaca menginginkan kesejahteraan. Karena ketika selangkah kaki sudah kita tegakkan di kampus ini, maka tujuan kita tetap satu arah yakni kuliah dan bisa membawa keberhasilan ke kampung halaman.

 

Tapi realita, yang muncul tidak seperti itu, harapan dari tahun ke tahun, perbuatan dari tahun ketahun tidak juga berubah. Pada tanggal 2 mei tepat pada momentum Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) ini, kita sama-sama berharap niat kita bisa terwujud. Jika niat kita untuk masuk kampus ini hanya untuk mencari gelar, gagah-gahan, tinggalkan itu dan kita kembali kesatu arah. arah yang positif yang bisa membangkitkan semangat juang kita. Maka kado apa yang harus kita berikan pada HARDIKNAS tahun ini?

 

Tahun demi tahun seharusnya sudah banyak yang bisa dilakukan. Tak masalah ketika kita menjadi aktivis, liar, anak malam, tukang pacaran dan lain sebagainya. Namun ketika kita ingat kampung halaman, betapa kita harus berusaha menahan tangis yang timbul dari hati kecil.  Apa yang sudah kita perbuat?

 

Mungkinkah hati kita termasuk golongan yang hatinya sakit bahkan mati. Seharusnya sebagai civitas akademika yang selalu diisi dengan berbagai pelajaran agama. Membuat kita menjadi orang yang hatinya sehat. Jika kita kaji lagi orang yang hatinya sakit adalah orang yang mempunyai kehidupan dan mempunyai penyakit. Sekali waktu ia didukung kehidupan dan sekali waktu ia didukung penyakit. Sedangkan, hati yang  mati adalah hati yang tidak ada kehidupan didalamnya. Sementara hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangkali, inilah kado yang pas kita berikan pada hari pendidikan ini yaitu tazkitun nafs (pensucian diri).

 

Jika kita baca sejarah, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Bagaimana seorang Walt Disney yang sekarang terkenal dengan film kartunya. Ia yang menciptakan Mickey Mouse dan trhee Litle Pigs. Di dalam buku Dal Carnegie, Walt Disney percaya bahwa rahasia sukses semata-mata terletak kepada pekerjaan. Katanya gagasan untuk semata-mata mencari uang tak menarik hatinya. Karya dan pekerjaanlah yang menimbulkan gairah semangat dan kegembiran dalam hidupnya. Kalau bicara di dunia islam bagaimana Bilal bin Rabah yang dulu seorang budak bisa mempertahankan agamanya walaupun disiksa dan akhirnya karena keteguhannya ia berhasil dan menjadi muazin terkenal dimasanya. Dan banyak ulama lain seperti imam mazhab yaitu imam Syafii, imam maliki, imam hanafi, imam hanbali dan Imam lainnya. Mereka senantiasa untuk menjaga disiplin ilmu dan mengembangkannya. Belum lagi kita sebut ulama hadis seperti Bukhari dan Muslim yang berjuang mencari hadis dan menuliskan bukunya yang menjadi pedoman kedua setelah al-Quran.

 

Maka disini, penulis mengajak agar kita perbarui niat. Karena dikatakan dalam hadis yang  diriwatkan Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi)

 

Penulis ingin bertanya kepada hati kita yang terdalam. Kado apa yang sudah kita berikan kepada dunia pendidikan? Terakhir penulis mengutip kata-kata Epikuros “orang bijaksana pasti tahu cara membatasi diri.”Wallahua’alam.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Program Khusus Fakultas Ushuluddin semester VI


 : ioF8LLAS  
Dear Serena:Don't know if you were back to Taiwan or not. However, I do wish the Year of Snake is the year for your transformation from a drameer to a doer.I agree with you that Taiwan is very unfriendly to foreigners. The government has known this stupid policy for a long time but seems unable to do anything about it. It hurts me when I see Taiwan's failure to attract more international talent due to the outdated and election oriented labor protection policy. Taiwan will deem to become a second class country if we could not attract and keep international talent. I always advocate a HK style immigration policy to welcome any foreigners who have certain special trade credential and can find a job here in Taiwan. The goal is to welcome foreigners to settle down and start a business here, not to set the stringent regulation and compliance to keep them off. If HK with such a high density of population can do it, why Taiwan cannot do it. Besides, Taiwan will face negative population growth with next 3 years due to the low birth rate. We need to figure out a way to be more globally competitive. How to attract and keep these global citizens is the most effective way.Well, I don't spend time on things that I could not control. Therefore, I would recommend you to follow your heart and just do it. It would be a loss if Taiwan could not keep creative people like. Happy Chinese New Year,Ping

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan opini ini!

Nama : (*required)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*required)

Komentar : (*required)

Security Code:  



• Opini Terkait