Opini › Feature


Tradisi pun Membebani

Selasa, 23/08/2010 01:42 WIB | Oleh : Debi Virnando

 

Siang itu terik matahari begitu menyengat. Hiruk pikuk ribuan mahasiswa yang terbagi di beberapa kelompok meramaikan lapangan Parkir IAIN Imam Bonjol Padang. Mereka peserta KKN IAIN Imam Bonjol Padang 2010. Sebagian dari mereka tampak serius duduk bersila dan saling melemper wacana.     
Pelataran parkir yang biasa disebut blok M dijadikan tempat bersua dan merancang program-program serta menetapkan kebutuhan untuk hidup selama 52 hari di lokasi KKN.
Program, dana dan segala kebutuhan dibicarakan. Sampai ke tradisi yang sudah turun temurun. Pembuatan jaket, baju kaos dan batik. Sesuatu hal yang menjadi kewajiban dalam penyelenggaraan KKN periode XXXVI. Mereka pun merancang dengan sebaik mungkin, mulai dari desain, merek, nama dan tempat pemesanannya. Tak jarang hal tersebut menjadi beban bagi peserta KKN. 
Sumbangan kelompok untuk pendanaan selama dilokasi Plus uang semester yang mendesak menari-menari di benak Adi salah satu peserta KKN. Niat hati hendak tersenyum menyaingi tawa yang lainnya menyambut KKN, tapi tak bisa menjangkau senyum itu. Uang Iuran sebesar 750.000 rupiah harus disiapkan Adi, tak ada alasan bagi Adi untuk mengatakan tidak sangup.
Mahasiswa Fakultas Syari’ah yang KKN di Kabupaten Pesisir Selatan ini terlahir dari keluarga sederhana, di kaki Gunung Talang. Kedua orang tuanya harus bekerja setiap hari untuk kelangsungan hidup mereka. Mencicil, agar tetap mempertahankan status sebagai mahasiswa menjadi kebiasaan. 
Ia termangu di sudut blok M. Di di salah sisi perepatan, tepatnya pada sepasang bangku polongan penghubung lapangan parkir dengan fakultas tarbiyah. Tatapan Gedung Serba Guna menjadi saksi kekosongan hati pria yang aktif di salah lembaga kemahasiswaan institut ini.
Hp Nokia keluaran tahun 2000-an yang disimpan di dalam kantong seragam ujian bewarna putih-putih Adi berdering. Sebuah pesan singkat masuk, “Maaf nak, Mak Etek ndak bisa pinjaman pitih, utang untuak bayia uang semester yang dulu alun ibu lunasan lai (Ibu)". Detik itu, hanya bayangan kusam kehidupan keluarga penyelimut senja.
Memang, nasibnya tak seberuntung peserta KKN lainnya. Sebut saja Leni Ristiani. Mahasiswa KKN Periode XXXVI yang ditempatkan di Kabupaten Pesisir Selatan ini menuturkan, sesuai dengan kesepakatan kelompok, membuat jaket sebagai kenang-kenangan dan tanda kebersamaan. Tradisi turun-temurun tanpa catatan sejarah ini sudah pasti meng-cancel senyum Adi dan Adi-Adi lainnya. 
Ketua Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) IAIN IB Drs.Syafrial N, M.Ag berpesan, agar iuran kelompok yang disepakati jangan membebani orang tua, seperti iuran Rp.900.000/orang untuk buat spanduk, jaket dan kebutuhan hidup selama berada di lokasi.
"Masyarakat tidak butuh jaket, tetapi butuh sentuhan agama dalam sebuah pengabdian," ujarnya, Selasa (27/07). 
Senada dengan Syafrial, Ketua BP KKN periode XXXVI Gazali, pernah juga melarang kebiasaan peserta KKN tersebut. Tetapi karena semangat kebersamaan mahasiswa, larangan-larangan tersebut dileburkan, dengan catatan tidak membebani mahasiswa.
Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama, masih pantaskan pelestarian tradisi yang membebani itu, andaikan masih ada puluhan Adi di kampus kita ini?.[Debi Virnando]

Siang itu terik matahari begitu menyengat. Hiruk pikuk ribuan mahasiswa yang terbagi di beberapa kelompok meramaikan lapangan Parkir IAIN Imam Bonjol Padang. Mereka peserta KKN IAIN Imam Bonjol Padang 2010. Sebagian dari mereka tampak serius duduk bersila dan saling melemper wacana.

 


+ feature selengkapnya

 

Mitos dan Fakta Seputar Gangguan Tidur

Jumat, 13/05/2010 00:28 WIB | Oleh : Ikarowina Tarigan

KURANG tidur berkaitan dengan beragam gangguan penyakit. Akan tetapi, banyak orang yang mengabaikan pernyataan tersebut dan menganggapnya mitos semata. Apa saja yang Anda ketahui mengenai gangguan tidur? Berikut beberapa mitos dan fakta seputar gangguan tidur yang bisa menambah pemahaman Anda.


+ feature selengkapnya

 

Suara Ibu Mudah Redakan Stres

Jumat, 13/05/2010 00:27 WIB | Oleh : Ikarowina Tarigan

SEDANG sedih dan depresi? Berhentilah mengonsumsi cokelat atau memaksakan diri mengikuti kelas yoga. Cara termudah meredakan stres adalah menelpon ibu tercinta Anda.


+ feature selengkapnya