Opini


Menjadi Budak Negeri Budak

Sabtu, 22/01/2011 17:43 WIB | Oleh : Alizar Tanjung

Aku kenal istilah budak ketika belajar sejarah Islam. Bayangkan orang-orang jahiliyah menganggap manusia kasta rendah, budak. Maka budak harus setia pada tuannya. Apa kata tuan, budak harus mengikut kata tuan. Budak tidak punya semacam HAM untuk memberontok. Mana ada pula hukum HAM masa itu. Undang-undang perlindungan orang tidak mampu. Konyol saja.


+ opini selengkapnya

 

Satu Petani Satu Sapi

Kamis, 30/12/2010 13:05 WIB | Oleh : Irwan Prayitno

Jika ada kemauan, selalu ada jalan. Kata-kata bijak itu telah lama kita kenal dan  terbukti kebenarannya.

Namun ketika ide program Satu Petani Satu Sapi digulirkan, banyak sekali yang menanggapinya dengan pesimis. Banyak yang menanggapi bahwa program ini takkan berhasil, karena banyak program serupa telah dikucurkan namun selalu berakhir dengan kegagalan. Ada juga yang berkomentar, berbagai program peternakan telah diunjukkan pemerintah, mulai dari puyuh, ayam, itik, kambing  sampai sapi. Cuma program ternak gajah yang belum diberikan. Hasilnya, tetap saja nol besar !


+ opini selengkapnya

 

Generasi Terbelenggu

Sabtu, 06/11/2010 08:06 WIB | Oleh : Ahmad Tamimi*

Generasi yang terbelenggu, inilah persepsi ketika saya amati realitas sosial mahasiswaan akhir-akhir ini. Mereka bukan menciptakan arus atau pula sengaja mengikutinya tapi malah terbawa kelorong-lorong sungai yang tak menentu dan tak memberikan sesuatu. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Muhammad Taufik mereka hanya bermain kedalam pusaran kehidupan yang di konstruksi oleh orang lain tanpa berusaha menciptakan ruang sendiri yaitu ruang yang penuh dengan dinamika ilmiah yang mana disana semua orang berpikir bahwa pengetahuan itu penting untuk mewujudkan hidup kearah yang lebih baik. Sehingga mereka merasa bahwa jadi manusia yang berkualitas itu adalah sebuah kemestian dengan cara mengikuti proses penempaan diri yang sesungguhnya pada bangku perkuliahan.


+ opini selengkapnya

 

Kemelut Tragedi Keberadaan Mahasiswa

Senin, 27/09/2010 22:49 WIB | Oleh : Alizar Tanjung

Berikan aku 9 orang pemuda, maka akan aku guncang dunia. Begitu kata bung Karno. Pemuda merupakan penggerak roda pemerintahan. Jika baik pemudanya maka baiklah Negara, jika pada kehidupan congkak para pemuda, maka congkaklah negara. Dimana pemuda adalah motot yang menggerakan mesin besar. Mesin itu adalah Negara dengan segala pernak perniknya. Motor itu tenaga besar yang membuat berjalan mulus. Sedangkan mahasiswa merupakan bagian yang tidak akan terpisahkan dari kategori pemuda. Mahasiswa adalah pemuda. Pemuda belum tentu mahasiswa.

            Terlepas dari konsep “pemuda belum tentu mahasiswa”, mahasiswa tetap merupakan bagian penting dari pemuda yang akan menggerakkan roda kekuasaan kearah perbaikan dan peningkatan. Dimana mahasiswa berfungsi sebagai mata yang akan melihat dengan tajam, menganalisa dengan teliti, mahasiswa merupakan mata panah yang harus menancap pada sasaran. Mahasiswa merupakan pembawa perubahan “Agent Of Change”, dimana ia menggerakkan energi-energi yang terberai baik dalam kampus maupun dalam pemerintahan. Dalam bidang politik, mahasiswa merupakan pengontrol politik tampa mau terkontaminasi dengan virus-virus terselubung kepentingan.

            Agaknya peran mahasiswa sebagai penggerak, pembawa perubahan, pengontrol kebijakan kekuasaan kampus dan pemerintah, mesti disadari benar oleh mahasiswa. Mahasiswa bukan kaki tangan politik. mahasiswa bukan kaki tangan elit-elit tertentu. Mahasiswa bukan dirancangan untuk kepentingan terselubung. Mahasiswa bukan kaki tangan kekuasaan. Mahasiswa berada di atas kekuasaan.

            Dalam kampus mahasiswa mesti mampu menggerakkan sesame mahasiswa daya pikir kritis. Apakah itu terhadap kebijakan kampus, kebijakan mahasiswa lainnya, kebijakan pemerintahan yang masuk kampus. Hal ini bertujuan mengontrol kebijakan-kebijakan menyimpang. Tentunya mahasiswa dituntut lebih tajam memandang ke dalam kampus. Apakah itu terhadap birokrasi kampus yang sembraut, terhadap perkuliahan yang amburadur, taman kampus yang jauh dari gambaran taman, pergaulan bebas yang akan meracuni otak-otak sesama mahasiswa.

            Kemudian kita bertanya, apakah fungsi mahasiswa sudah jalan? Ataukah hanya tinggal buming isu. Tugas pokok tinggal nama. Apakah mahasiswa sadar dengan tugasnya sebagai mahasiswa. Sangat disayangkan mahasiswa yang terjerat dalam kuda tunggangan politik. Mahasiswa tidak lagi berdiri atas kakinya yang kokoh, ia lebih yakin dengan tawaran kaki-kaki lain yang kuning langsat.

            Apakah mahasiswa benar jalan tugasnya sebagai agent of change? Mahasiswa berlomba-lomba mengadakan acara. Acara yang diangkat lebih banyak sebagai seremonial belaka. Kampus dipenuhi dengan spanduk-spanduk dan karton-karton pengumumam. Acara-acara yang diadakan lebih banyak kepada yang sifatnya rekreasi. Demo-demo terhadap kebijakan kampus jauh tampak berkurang. Mahasiswa menjadi kambing congek. Tidak tahu dengan apa yang terjadi di kampus. Kehidupan kampus hanya penuh dengan glamoran. Bertanding fashion, sementara intelektual dipertanyakan.

            Ajang-ajang seminar intelektual juga sudah jarang dilaksanakan, begitu juga dengan ajang diskusi. Harapan mahasiswa juga menjadi lebih mati. Pada beberapa kesempatan penulis mendengarkan ciloteh mahasiswa. Kalau ada dosen yang seharusnya patut digugat mahasiswa sekarang tidak bermental untuk menggugat. Takut nilai bermasalah. Turutkan saja kemauan dosen maka nilai akan A, sekurang-kuranya B. Apakah orientasi pendidikan kampus adalah nilai. Terasa naïf dan bodoh sekali kalau yang menjadi tujuan mahasiswa adalah nilai.

Agaknya mahasiswa perlu kembali berbenah diri. Bangun dari tidur semu. Keluar dari glamoran kampus yang meloyokan. Kampus bukan gudangnya sampah dan fashion-fashion maruhan. Kampus merupakan gudangnya pemikiran, gudangnya tindakan, ide. Kampus merupakan sarana untuk pergerakan. Dimana sekali melangkah tetap melangkah. Bukan menjadi kambing congek manja.***Padang, September 2010

 

              


+ opini selengkapnya

 

Pendidikan ; Mengenal Masalah dan Solusi

Jumat, 23/07/2010 13:12 WIB | Oleh : Mayonal Putra

Sebuah peradaban suatu bangsa bisa dikatakan baik apabila pendidikannya baik, kecintaan mereka kepada kebenaran, kebijaksanaan, ilmu-ilmu, ide dan gagasan-gagasan dengan aplikasi yang tampak pada karakter individunya, yang menjadi budaya atas integritas estetika soial dengan etika di tengah-tengah kehidupannya. Mereka tidak didasari oleh kepentingan pribadi dan hegemoni dalam persoalan kebenaran serta keuntungan. Bangsa yang penuh egalitarian, yang satu dengan yang lain bahu-membahu membangun bangsa-negaranya. Inilah sebuah karakter sebagai ejawantahan dari pendidikan yang ditanamkan baik secara formal maupun tidak.


+ opini selengkapnya