Opini


Kota Satelit di Luar Pulau Jawa

Sabtu, 19/11/2011 15:15 WIB | Oleh : Arjuna Nusantara*

Wacana pemindahan ibu kota Indonesia (Jakarta) sudah menjadi bahan perbincangan mulai dari kalangan elit pemerintahan sampai masyarakat awam. Mengingat keadaan Jakarta yang sudah padat penduduk, banyak pihak yang setuju usulan pemindahan ibu kota Indonesia ke daerah lain. Ada beberapa daerah yang diajukan sebagai alternatif, misalnya Jawa Timur atau Pulau Jawa bagian lainnya. Namun, ide ini ditentang beberapa kalangan. Ini memunculkan usulan lain yaitu Kalimantan.


+ opini selengkapnya

 

Fenomena Angka Kembar : Antara Unik atau Mistik

Jumat, 11/11/2011 18:16 WIB | Oleh : Ahmad Tamimi*

Deretan angka (huruf) kembar telah menjadi fenomena magnet dan menarik untuk dibicarakan. Angka cantik yang terdapat pada deretan tanggal, bulan, tahun dan jam sangat menjadi incaran dalam kurun waktu satu tahun.


+ opini selengkapnya

 

Pahlawan, Super Hero Bangsa

Kamis, 10/11/2011 21:20 WIB | Oleh : Yulia Vita Ramayona

Bangsa Indonesia merupakan bangsa terjajah dahulunya. Para penjajah yang datang ke Indonesia haus dan lapar dengan hasil kekayaan bangsa Indonesia. Para penjajah menguras hasil bumi Indonesia. Selama tiga setengah abad Belanda menguras habis hasil bumi Indonesia dan tiga setengah tahun Jepang dengan kejamnya merantai, menyiksa dan memaksa bangsa Indonesia untuk bekerja menjadi budaknya.


+ opini selengkapnya

 

Tantangan Modernitas

Rabu, 09/11/2011 16:29 WIB | Oleh : Gita Jonelva

Hampir semua ahli memprediksi di Indonesia tidak akan lagi terjadi involusi (berputar-putar) kebudayaan, dan justru negara ini akan segera memasuki era yang berkebudayaan modern. Dengan kata lain, masyarakat sedang mengalami transisi dari masyarakat agraris tradisional ke arah industrial modern.


+ opini selengkapnya

 

Panji Dema Dalam Kampus

Senin, 31/10/2011 11:52 WIB | Oleh : Iftita Rahmi*

Segenap mahasiswa terkadang berkutat untuk memberikan tindakan nyata terhadap semua kebutuhan (yang terkadang diperTuhan). Kebutuhan pengakuan keberadaan, kebutuhan jabatan, kebutuhan pelayanan dan kebutuhan akan “kebutuhan” itu sendiri. Jika melihat sekilas ke belakang, para “sesepuh” cendikia dahulu harus banyak berbuat untuk sesama mereka, untuk institusi pendidikannya, dan untuk dunia “nyata” yang nanti akan memberdayakannya. Namun, perlu diperhatikan bagi mereka yang “terpilih” hendaknya juga meniru tanpa banyak berbicara, membual dan menebar retorika.


+ opini selengkapnya