Opini


Berdayakan Masyarakat dengan Media Literasi

Senin, 02/03/2020 13:36 WIB | Oleh : Ulvi Rahmi, Mahasiswa Sasta Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Era sekarang, populasi masyarakat Indonesia sudah mencapai 269 juta jiwa, dengan populasi sebanyak itu, tentunya Indonesia mendapat peringkat keempat terbanyak di dunia. Pertumbuhan penduduk yang meningkat tiap tahunnya membuat pemerintah melakukan beberapa cara untuk mengurangi populasi masyarakat.


+ opini selengkapnya

 

Omnibus Law dan Lingkaran Setan Korporatokrasi

Jumat, 28/02/2020 23:30 WIB | Oleh : Nandito Putra (Mahasiswa Hukum Tata Negara, Fakultas Syari'ah)

Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law yang mengatur investasi dan ketenagakerjaan akhirnya telah diserahkan ke DPR RI. Penyerahan tersebut sekaligus merubah nama resmi RUU tersebut yang sebelumnya bernama RUU Cipta Lapangan Kerja (RUU Cilaka) menjadi RUU Cipta Kerja. Regulasi yang bertujuan untuk meningkatkan investasi tersebut dinilai sangat merugikan rakyat dan hanya menguntungkan para investor. Lebih jauh dapat dimaknai bahwa Omnibus Law Cipta Kerja diadakan hanya untuk kepentingan segelintir orang saja. Hal itu dapat dilihat di berbagai pasal yang jelas-jelas tidak berpihak kepada pekerja serta komponen lain yang saling berkaitan seperti lingkungan dan kesejahteraan pekerja itu sendiri.


+ opini selengkapnya

 

Evaluasi Politik di Pilkada 2020

Jumat, 28/02/2020 23:27 WIB | Oleh : Nandito Putra (Mahasiswa Hukum Tata Negara, Fakultas Syari'ah)

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang sebentar lagi akan bergulir dapat dijadikan sebagai agenda evaluas politik. Selain itu, perlu digarisbawahi bahwa pelaksanaan Pilkada serentak juga dapat dijadikan batu loncatan untuk menatap konstetasi Pemilu 2024 yang lebih baik demi kemajuan demokrasi di Indonesia. Hal lain yang perlu dicatat dari penyelenggaraan Pilkada nanti yaitu sebagai momentum membangun harmonisasai politik yang belum sepenuhnya pulih pasca Pemilu 2019 lalu. Dan yang tepenting rakyat dituntut untuk lebih cerdas dalam menggunakan hak suaranya dan memilih siapa pemimpin daerah yang akan menentukan arah kemajuan daerah untuk membangun pondasi kokoh yang akan menopang perubahan Indonesia ke depannya.


+ opini selengkapnya

 

Mimpi Buruk Pekerja Indonesia, Takut akan Robot Pekerja

Selasa, 25/02/2020 22:08 WIB | Oleh : Sarah Muthia Fatmi, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya

 

“manusia adalah makhluk kreatif mampu menemukan banyak inovasi-inovasi baru. Sedangkan robot hanya mampu untuk mengerjakan apa yang telah diprogramkan kepadanya”
Bertepatan dengan momentum Hari Pekerja Nasional, yaitu pada 20 Februari, mari kita sama-sama merenungkan tentang bagaimana nasib pekerja di masa depan nantinya. Pekerjaan dapat disebut juga sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua pihak antara perusahaan dengan karyawannya. Dari hal itu, para pekerja akan mendapatkan gaji dari perusahaan sebagai balas jasa. Di mana jumlahnya tergantung dari jenis profesi yang dilakukan.
Mengulang kembali, sejarah awal mulanya dibuat Hari Pekerja Nasional adalah keinginan dari serikat pekerja di seluruh Indonesia, dengan tujuan untuk menyatukan semangat seluruh perusahaan-perusahaan di tanah air. Mereka bertekad untuk merealisasikan supaya dibentuk juga Hari Pekerja Nasional, akhirnya disetujui oleh oleh Presiden RI yang kala itu dijabat oleh Soeharto. Melalui Keputusan Presiden No.9 Tahun 1991.
Walaupun sudah ditetapkan secara resmi sebagai Hari Pekerja Nasional, ia tak dijadikan sebagai hari libur nasional. Berbeda dengan Hari Buruh Sedunia yang dikenal May Day, di mana dijadikan sebagai hari libur nasional.
Pekerjaan di era sekarang sangat begitu berbeda dengan pekerjaan pada zaman dahulu. Pasalnya, dengan maraknya perkembangan teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi lebih moderen membuat adanya peluang-peluang baru untuk mendapatkan pekerjaan. Walau begitu, tak sedikit pula yang menganggur, karena tidak mampu bersaing di dunia kerja. Hal itu bukan tanpa sebab, ada faktor dari dirinya sendiri dan ada pula faktor dari luar, seperti tak mendapatkan akses pendidikan dan informasi yang layak.
Berbicara tentang teknologi, peran manusia sebagai tenaga kerja masih belum dapat tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Namun, bukan berarti teknologi tak akan bisa mengalahkan manusia, jika lengah dan tak bijak dalam mengikuti perkembangannya, manusia akan terbuai dengan banyaknya macam teknologi yang ada. Hal tersebut akan membuat pekerja cenderung malas dalam melakukan aktivitas berat, karena sudah ketergantungan.
Dengan kata lain, tenaga kerja harus didorong untuk meraih puncak prestasinya seperti mampu berpikir kreatif, bisa menciptakan inovasi baru dalam menyelesaikan pekerjaan serta yang paling perlu adalah memiliki intuisi terhadap pekerjaan yang dikerjakan.
Belakangan ini, memang sedang menjadi perbincangan hangat tentang perkembangan teknologi yang bergerak cepat akhir-akhir ini. Seperti adanya rancangan pembuatan robot, munculnya alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, hingga sampai ada alat yang membuat manusia hanya tiduran saja dan pekerjaan dilakukan oleh teknologi.
Kecemasan seperti itu pernah dibahas dalam pertemuan The 10th Indonesia Human Resource Summit (IHRS) pada 2018 lalu, dan didapatkan kesimpulan bahwa memang ada beberapa sektor pekerjaan dalam industri yang memang memerlukan teknologi, dan besar kemungkinan peran manusia akan minim di dalamnya, jika dipersenkan ada sekitar 15 persen.
Meski 15 persen tenaga manusia tergantikan oleh teknologi, namun itu pun hanya di sektor industri tertentu saja seperti kilang minyak, pabrik dan lainnya. Untuk kilang minyak di laut lepas misalnya, tidak ada pekerja yang mengoperasikannya secara langsung. Karena hal itu berbahaya bagi keselamatan kerja, pekerja hanya mengoperasikannya lewat alat yang berada di daratan.
Penggunaan teknologi ke depan dalam proses pekerjaan akan semakin meningkat pesat, ada banyak tantangan dan keuntungan juga yang akan didapatkan oleh pekerja. Misalnya akan dimudahkan dengan kehadiran teknologi, akan tetapi jika tak pandai dalam menyikapinya pekerja akan terbuai dengan kemudahannya dan tak mau untuk mencari inovasi baru lagi. Karena sudah nyaman di zona tersebut. Karena sesuai kodratnya, teknologi hanyalah sebagai pembantu pekerja, bukan sebagai pekerja utama.
Namun, manusia harus tetap menyesuaikan diri dengan teknologi yang serba canggih ini, karena teknologi menggunakan sistem automasi, yang membuat ia bergerak sendiri sesuai dengan apa yang diperintahkan sedari awal, dengan kata lain sudah diprogram. Akan tetapi ada satu sisi negatif dari automasi tersebut, seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa robot bukanlah makhluk hidup dan ia tak memiliki perasaan, hanya mengandalkan kemampuan dan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Pekerja manusia lebih dihargai karena berpikir sembari memiliki perasaan dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Satu hal lagi, manusia adalah makhluk kreatif mampu menemukan banyak inovasi-inovasi baru. Sedangkan robot hanya mampu untuk mengerjakan apa yang telah diprogramkan kepadanya, dari sini kita bisa mengetahui bahwa tak semudah itu robot mampu untuk menggantikan peran manusia secara keseluruhan, dan pekerja manusia tetap bisa bertahan di dunia kerja.
Untuk itu, sebagai makhluk yang telah diberikan kesempurnaan dan tingkat kreatif di atas rata-rata, hendaknya hal itu membuat pekerja manusia tak harus takut dengan kehadiran robot-robot di sektor pekerjaan. Karena bagaimanapun juga robot tak akan mampu untuk menggantikan peran manusia dalam berpikir dan berinteraksi dengan sesama. 
Dalam kehidupan ini, yang paling penting adalah berkomunikasi, karena manusia adalah makhluk sosial. Apapun jenis pekerjaannya, jalan yang terbaik untuk menyelesaikannya adalah dengan mengkomunikasikan proses, hasil dan riset yang didapatkan di lapangan kepada rekan kerja atau pimpinan perusahaan. Sedangkan, robot tak mampu untuk melakukan itu, ia hanya mampu melakukan apa yang telah diprogramkan kepadanya.
Selamat Hari Pekerja Nasional, dengan diresmikannya hari tersebut, semoga setiap pekerja di Indonesia semakin mantap dalam membangun jejaring antar sesamanya. Serta berkomitmen kuat untuk memajukan perekenomian Indonesia di berbagai sektor.

Bertepatan dengan momentum Hari Pekerja Nasional, yaitu pada 20 Februari, mari kita sama-sama merenungkan tentang bagaimana nasib pekerja di masa depan nantinya. Pekerjaan dapat disebut juga sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua pihak antara perusahaan dengan karyawannya. Dari hal itu, para pekerja akan mendapatkan gaji dari perusahaan sebagai balas jasa. Di mana jumlahnya tergantung dari jenis profesi yang dilakukan.
Mengulang kembali, sejarah awal mulanya dibuat Hari Pekerja Nasional adalah keinginan dari serikat pekerja di seluruh Indonesia, dengan tujuan untuk menyatukan semangat seluruh perusahaan-perusahaan di tanah air. Mereka bertekad untuk merealisasikan supaya dibentuk juga Hari Pekerja Nasional, akhirnya disetujui oleh oleh Presiden RI yang kala itu dijabat oleh Soeharto. Melalui Keputusan Presiden No.9 Tahun 1991.


+ opini selengkapnya

 

Perilaku Stalking Mahasiswa

Senin, 23/12/2019 13:43 WIB | Oleh : Dyla Fajhriani (Dosen BKI Fakultas Dakwah UIN IB Padang)

Penggunaan media sosial (medsos) di kalangan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan diri mahasiswa itu sendiri. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan sosial mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke atas cenderung lebih awal mengenal dan mengakses media sosial, dengan menggunakan handphone atau fasilitas internet yang ada di rumah atau warung internet.


+ opini selengkapnya

 





Suarakampus