Profil › Tokoh


Berjuang Sampai Berdarah-darah dan Bernanah-Nanah



*Sejenak Bersama Cerpenis Damhuri Muhammad

Proses kreatif dalam dunia kepengarangan sangat ditentukan militansi seseorang dalam berjuang untuk eksis. Banyak orang yang tumbang, kalah karena cepat menyerah. Padahal, proses kreatif seni, baik sastra maupun seni lainnya, membutuhkan energi yang berlipat ganda.

 

“Saya merasakan bagaimana berjuang dalam proses kreatif, hingga berdarah-darah dan bernanah-nanah,” ungkap Penulis dan Editor, Damhuri Muhammad ketika berbincang-bincang dengan mahasiswa dan para penulis di Aula Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, Sabtu (8/1).

 

Damhuri memaparkan proses kreatif yang dilalui dengan jalan berliku. Lain orang lain pula jalan yang ditempuh. Tergantung daya juang seseorang untuk melawan kekalahan.
“Saya merasakan, sebelas tahun lebih baru dapat sedikit kebebasan dan diberi ruang karena ada pengakuan sebagai penulis. Dan itu masih terasa relatif pula. Yang diperlukan adalah tetap eksis dan memiliki militansi untuk berjuang di ranah proses kreatif sastra,” ungkap Alumi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab 1993-1997 ini.

 

Menurutnya, sukses seorang penulis di negeri ini memang kadang-kadang dibawa pula oleh peruntungan. Tetapi yang paling penting adalah, menulis menjadi prinsip dan perjuangan.

 

“Saya menulis sebagai pemberontakan, ketika saya tak bisa berteriak dengan keras di panggung teater atau tak punya alat lain. Jika kita ditampar orang lalu membalas ketika itu, maka sakitnya akan hilang. Sangatlah beda jika kemarahan dengan aksentuasi kata-kata,” papar penulis buku Kumpulan Cerpen Juru Masak (2009) ini.

 

Sebuah karya tak harus cepat dikirim ke media. Perlu ditimang-timang, dibaca-baca lebih dahulu. Kapan perlu didiskusikan dalam komunitas terbatas. Setelah diyakini bisa dimuat, barulah dikirim. Dikirim ke media, atau juga ikut lomba.

 

“Saya termasuk yang melawan ketidaksabaran. Akhirnya terlatih untuk tidak terburu-buru mengirim naskah ke media,” kata jebolan Filsafat Pasca Sarjana UGM ini.

 

Hadir penulis-penulis yang sudah dikenal karanya, seperti Deddy Arsya, Ragdi F. Daye, Alizar Tanjung, Heru JP, Fajri, serta dosen Fakultas Adab, M Taufik, Herman.
Dalam diskusi mengemuka seputar dunia kepengarangan yang belum menjanjikan masa depan dan sangat sulit menembus pengakuan sosial di tengah masyarakat jika jadi seorang penulis.

 

“Ini memang terjadi di tengah masyarakat kita. Bahwa menjadi penulis tidak menjanjikan. Tetapi banyak yang sukses akhir-akhir ini, walau dengan modus yang berbeda-beda, agaknya dapat dikatakan, sangatlah menjanjikan jika ditekuni. Saya pribadi merasakan, ternyata tak kurang job mulai dari mengisi seminar, mengedit buku, dan terlibat dalam hal-hal seputar dunia penerbitan. Sekedar menyebut nama-nama penulis negeri ini yang sukses, Andrea Hirata, Es Ito, M. Fuadi, Habiburrahman el-Sirazi dan seterusnya. Masih banyak lagi,” papar Damhuri.

 

Bagi Damhuri, apapun profesi, semuanya adalah pilihan hidup paling rasional dari diri seseorang. “Dan yang paling baik adalah, memilih dunia yang akan digeluti perlu dengan kesadaran penuh. Soal rezeki, min hai sula yas tasib!” tegasnya, sembari member beberapa kiat penulisan dan mengirim naskah ke penerbit dan media.

 

Disadari penuh, bahwa ada yang banyak hal yang melatarbelakangi kenapa seseorang menjadi penulis. Ada yang ingin terkenal lewat publikasi, ada yang ingin berjuang menyuarakan pemberontakan, ada pula yang iseng belaka. Namun demikian, mereka yang militant dan sungguh-sungguh biasanya akan sukses di jalur satu ini.

 

Sebagai salah satu keterampilan, menulis sangat dekat dengan proses pembacaan. Ketajaman melihat persoalan serta membaca momentum. Beberapa nama penulis dari belahan dunia lain disebutkan Damhuri. Mulai yang bisa menjadi milyarder hingga yang biasa-biasa saja.

 

Menumbuhkan gairah menulis, selain membaca, diskusi dan menonton film, diperlukan komunitas yang intens serta jaringan pergaulan yang luas. Jurusan Bahasa dan Sastra Arab sudah memiliki “rukun” untuk bisa melahirkan penulis dan penerjemah yang kini sangat laku. Bisa mendulang financial yang tidak sedikit. Asalkan mau bekerja keras.
Kecerdasan puitik dengan mata kuliah balaghah, mantiq dan bayan, sudah banyak yang dibuktikan oleh penulis berlatarbelakang pesantren. Ada aroma berbeda dengan penulis lain yang sudah ada.

 

Sumbar bagi Damhuri tempat suburnya penulis tumbuh, menyusul Jakarta, Jogja, Bali dan Makassar. Hanya saja, menulis tidak melulu harus tampil cepat dan instans di Koran-koran dan online. Mampirlah dalam bentuk buku.

 

Pertemuan singkat pagi menjelang siang yang penuh makna ini diakhir dengan pembacaan cerpen berjudul Reuni Dua Sejoli oleh Damhuri. Sebuah cerpen yang mengalir dan menggelitik. Ringan tapi dalam. [Abdullah Khusairi]

Tentang Damhuri:
Lahir di Padang, 1 Juli 1974. Menyelesaikan studi Bahasa & Sastra Arab (1997) dan Pascasarjana Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2001). Bermukim di pinggiran Jakarta. Selain cerita pendek, juga menulis esai sastra dan tinjauan buku di sejumlah media nasional. Bukunya yang sudah terbit; LARAS, tubuhku bukan milikku (2005), "Lidah Sembilu" (2006), "Cinta di Atas Perahu Cadik"–cerpen KOMPAS pilihan 2007, (2008), SMOKOL–cerpen KOMPAS pilihan 2008, (2009), "Juru Masak" (2009), dan "Darah-Daging Sastra Indonesia"─kumpulan esai sastra (2010). Sehari-hari ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan partikelir.