Profil › Tokoh


Mengabdi Untuk Pendidikan



                                                   Muhammad Kosim, MA

 

Menjalani kehidupan dengan berkarya serta dilengkapi fasilitas yang lengkap merupakan suatu hal yang lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun berkarya serta menjalani kehidupan dengan segala keterbatan hidup belum tentu bisa dijalani semua orang, kadang kala seseorang tidak mampu keluar dari keterpurukan hidup dan sibuk mengutuk nasib yang telah diberikan Allah.

 

Kisah menarik hadir dari seorang  garin masjid, hidup dengan segala keterbatasan lalu diberi kesempatan mencicipi indahnya duduk bangku kuliah, hal ini suatu kebanggan baginya, dengan keterbatasannya ia mampu menjadikan itu semua sebagai motivasi dalam hidup.

 

Pria yang hobi menulis ini menjalani hari-hari dengan penuh semangat demi tercapainya cita-cita. Muhammad Kosim pria kelahiran Kuala Bangka, Sumatera Utara 21 Desember 1982 yang saat ini dikenal sebagai seorang penulis lulusan terbaik program pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang yang berkecimpung dalam dunia kurikulum. Perjalanan panjang yang ia jalani dari tahun 1988 sampai sekarang membawa ia dan keluarganya pada kehidupan yang lebih baik.

 

Kosim yang dulu pernah menjadi seorang santri pondok MA Ponpes Alliful Ikhwan – SAA Silangkitang (1977) menganggap ceramah merupakan suatu kewajiban baginya, hidup di pesantren membuat ia terkurung dalam paradigma bahwa santri hanya bisa mengaji dan ceramah, namun suatu hari melalui lomba menulis karya ilmiah tahun 1999 ia berhasil meraih juara I tentang “Penyalahgunaan Narkoba” tingkat Kabupaten Labuhan Batu. Kemenangan tersebut menjadi batu loncatan pertama Kosim meneruskan dunia tulis-menulis. Semenjak itu dunia ceramah secara langsung diubahnya melalui ceramah tidak laangsung (melalui tulisan). “Saya menulis di media dengan gaya berceramah. Hal ini mungkin sudah terbiasa dengan ceramah. Lalu saya lanjutkan kuliah dan mengikuti pelatihan karya ilmiah bersama Abdullah Khusairi, M.Nasir dan Sheiful Yazan yang sekarang dosen IAIN Imam Bonjol Padang bertindak sebagai Instruktur saya waktu itu , oleh sebab itu mereka bertiga saya anggap sebagai guru jurnalistik saya, ujarnya saat ditemui di  Axana Hotel (16/03).

 

Sebuah kejutan bagi Kosim ketika karyanya terbit  dengan judul “Zikir, Fikir dan Mahir” tahun 2002 di media Mimbar Minang. Hal ini menambah motivasinya untuk terus menulis dan menulis. “Saya merasa lebih enak menulis daripada berceramah. Karena menulis  bisa di edit tapi berceramah tidak ,” katanya disela-sela kesibukannya.

 

Kemudian Kosim mengembangkan sayapnya ketika kuliah S1 menjadi wartawan sekaligus kolumnis di Tabloid Mahasiswa SuaraKampus, dan pengelola Media Mahasiswa “al-Tadbir. Selama kuliah ia menjadi garin di masjid Syarifatul Ihsan dibelakang LP muaro. Demi cita-citanya rela mengayuh sepeda dari masjid tempat ia menjadi garin ke kampus setiap hari. “Setiap hari saya mengayuh sepeda sejauh Tujuh Kilometer ke kampus, ini demi membeli buku karena uang untuk mebeli buku tidak ada. Gaji garin yang diperhitungkan pengurus hanya berpatokan pada biaya ongkos ke kampus. Kalau dijadikan ongkos mana uang saya lagi.” ungkap pria berwajah rupawan itu, Oleh sebab itu saya memutuskan untuk pergi ke kampus naik sepeda dan uang ongkos tersebut saya jadikan untuk membeli buku.” jelas Kosim.

 

Selain sibuk dengan kegiatan perkuliah dan profesi sebagai wartawan, ia juga aktif di HMI khususnya di Komisariat Tarbiyah. Selama berproses di kampus islami (IAIN) Kosim mendapakan banyak pengalaman berharga yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Yaitu terlibat dalam kepengurusan (HMI),  ia juga sempat menjayakan pergerakan HMI. Karena keuletan dan ketangguhannya ia diamanah menjadi Ketua Umum di organisasi tersebut pada periode 2002 – 2003 dan menjadi Ketua HMI Cabang Padang Bidang Pembinaan Anggota Tahun 2004 – 2005. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Ketua BEM Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang Bidang Keilmuan Periode 2002-2003 yang pernah ia geluti.

 

Pasca kuliah S.1  Kosim sempat menjadi wartawan dan redaktur pelaksana Surat Kabar Mingguan “Sumatera Ekspos” selama beberapa bulan sejak tahun 2005, diangkat menjadi PNS di lingkungan Kemenag kota Padang. Ia sempat ditugaskan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, SMP Negeri 8 Padang lalu pada tahun 2011 hijrah ke MTsN Durian Tarung Padang.

 

Selain dari aktivitas di atas, ia juga terlibat aktif dalam pengembangan pendidikan Islam di Sumatera Barat. Sejak tahun 2008, ia dipercaya oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi Sumatera Barat sebagai salah seorang tim penyusun, perumus dan pengembang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Alquran tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK di Propinsi Sumatera Barat. Hingga kini, ia turut aktif dalam kegiatan-kegiatan workshop, seminar, sosialisasi, dan TOT  bagi guru-guru mata pelajaran tersebut. "Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau" (PKKPBS) untuk SMP dan SMA Prop. Sumbar. Program ini berupaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai pendidikan surau masa lalu yang pernah mencapai kejayaannya dalam sejarah sosial Minangkabau dengan corak keislaman dan kebudayaan yang begitu kuat. Sayang, program ini hanya berjalan setahun seiring dengan bergantinya pemegang kebijakan. Sejak tahun 2011, juga aktif sebagai penyusun dan pengembang Kurikulum Pendidikan Karakter di SD, SMP, SMA/SMK di Sumatera Barat.