Profil › Tokoh


Hidup Bagaikan Roda Pedati



Prof. Dr. H. Masnal Zajuli, M.A

 

 

Memaknai arti kata pemimpin bukan sebatas melayani, menjadi wakil bagi orang yang dipimpinnya,. Menjadi seorang pemimpin yang kita pahami selama ini cenderung duduk di kursi megah, bepergian dengan mobil dinas, lalu memerintah bawahannya. Namun sejatinya seorang pemimpin adalah orang yang mampu memberi makna bagi orang yang dipimpinnya.

 

Di perguruan tinggi misalnya, banyak kita lihat pejabat kampus yang tidak mau bersahaja dengan para bawahannya. Kebanyakan mereka tidak mau membuka kaca mobilnya ketika lewat di depan mahasiswa.

 

Namun pada rubrik Sosok kali ini Suara Kampus mengupas kisah tentang seorang pemimpin yang bertolak belakang dari apa yang dipaparkan di atas. Sosok yang sangat sederhana, gigih dan  berprestasi. Cerita ini datang dari Kepala Unit Pembinaan Bahasa (UPB) Masnal Zajuli.

 

Masnal dalam kesehariannya dikenal sebagai sosok yang sederhana. Kesederhanaan ini terlihat dari caranya berpakaian yang jauh dari kemewahan. Bahkan sebagai ketua UPB pun ia masih melakukan hal-hal yang lazimnya dilakukan petugas kebersihan. Pernah suatu ketika, dia melihat ruangan yang kurang bersih. Spontan saja ia menyapu ruangan tersebut.

 

Baginya jabatan sebagai pemimpin tidak untuk disombongkan. Karena mungkin ketika kita menjabat semua orang patuh dan hormat pada kita. Tetapi jika tidak hati-hati, setelah tidak menjabat lagi belum tentu kita masih dihormati dan dipatuhi.  “Kehidupan ini bagaikan roda pedati. Sekali di atas, sekali di bawah. Waktu di atas enak. Tetapi yang susah waktu roda di bawah dan kerbaunya lari pula. Siapa yang akan peduli,” tutur pria berkaca mata ini ketika ditemui SuaraKampus.com di ruangannya, Rabu (12/06).

 

Menurut pria asal Sawah Tangah Simabur Batusangkar ini, pemimpin itu harus mampu memahami bahasa bawahannya. Artinya, pemimpin itu haruslah memperhatikan kebutuhan bawahannya. Sehingga terjalin hubungan  yang harmonis antara pimpinan dan bawahan. “Yang kecil-kecil itu harus kita hargai, sebab tanpa mereka belum tentu apa yang kita rencanakan berjalan dengan maksimal,” ungkapnya.

 

Ia  juga merupakan sosok gigih dalam menjalani kehidupan dan mencapai cita-cita. Kegigihan ini terlihat dari perjuangan hidupnya sejak belajar mengaji hingga mendapat gelar professor seperti saat ini.  Lahir dari latar belakang keluarga sederhana dan terbiasa hidup susah. Dilatih bertani dan diajarkan memasak. Di samping itu, ia harus mengasuh adik-adiknya yang masih kecil.

 

Pada usia lima tahun, putra dari pasangan Zajuli Harun dan Sarma Idrus ini sudah diperkenalkan dengan al-Qur’an. Kemudian pada usia tujuh tahun ia memulai pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) Negeri Sawah Tangah. Boleh dikatakan tidak ada hari untuk bermain. waktunya diisi dengan belajar dan bekerja. Di luar jadwal sekolah ia harus membantu orang tuanya di sawah. Seringkali, Masnal harus mencarikan rumput. “Sebelum pergi sekolah, saya memotong  rumput untuk makanan sapi,” ungkap ayah empat orang anak ini.

 

Pada tahun 1964 Masnal menamatkan SR dan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Thawalib Tanjung Limau Simabur. Salah satu kebiasaannya waktu sekolah, ia selalu membuat catatan. Dalam catatan tersebut ia menuliskan hari, tanggal, tempat, mata pelajaran dan nama gurunya. Dengan kebiasaan itu, ia sangat hafal nama-nama guru yang pernah mengajarnya. “Semuanya berjumlah 150 orang, sampai sekarang catatan-catatan tersebut masih saya simpan. Guru pertama saya bernama Gaek Muin,” tuturnya.

 

Tiga tahun kemudian ia melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 Tahun di Batusangkar. Selanjutnya ia sekolah di PGAN 6 Tahun di Padang. Beberapa bulan mengikuti pendidikan, ibunya menderita sakit dan dipanggil Allah dalam usia 36 tahun.  Tinggallah ia bersama tiga orang adiknya.

 

Sebagai anak sulung, tanggung jawab Masnal pun semakin berat. Adiknya masih kecil dan membutuhkan perhatian. Ia memutuskan untuk  membawa dua orang adiknya tinggal bersama di Padang. Sementara satu orang tinggal bersama nenek dan kakek di kampung.

 

Setelah ibunya meninggal, kekhawatiran pun muncul dalam pikirannya. Apakah ia akan melanjutkan kuliah atau berhenti dan membantu nenek-kakeknya bertani. Kekhawatiran itu ia sampaikan kepada mereka. Keduanya menjawab bahwa selama tulang mereka masih dapat digerakkan, pendidikan Masnal harus tetap dilanjutkan.

 

Jawaban ini kembali membangkitkan semangat remaja usia belasan tahun ini. Tahun 1970 ia melanjutkan pendidikan ke IAIN Imam Bonjol Padang. Pilihan satu-satunya adalah jurusan Bahasa Arab. Ketika libur kuliah, ia berada di kampung membantu nenek dan kakeknya bertani.

 

Pada tahun 1974, Masnal menyelesaikan pendidikan tingkat Sarjana Muda dengan nilai Cumlaude. Nenek dan kakeknya menyarankan agar ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun ia sulit menerima saran tersebut mengingat semakin besarnya tanggung jawab nenek dan kakek di samping usia keduanya semakin tua.

 

Pada tahun 1975, ia diterima sebagai asisten dosen mata kuliah Bahasa Arab. Bersamaan dengan itu, ia juga kuliah tingkat doktoral pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang Jurusan Bahasa Arab. Tahun 1978 peringkat Cumlaude ia gandrungi. Dengan itu ia berkesempatan melanjutkan S2 ke Mesir. Peringkat pertama mampu diraihnya setelah mengikuti seleksi. Namun, kesempatan emas ini tidak jadi dia ambil karena tidak tega berpisah dengan keluarga, terutama nenek tercinta yang sudah semakin tua.

 

Cukup banyak tawaran untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri seperti Mesir, Tunisia, Sudan, Saudi Arabia dan Amerika. Dalam setiap tes yang diikuti peringkat pertama selalu digondolnya. Setiap tawaran yang datang selalu disampaikan kepada nenek dan kakeknya. “Ketika saya minta izin untuk menerima tawaran sekolah ke luar negeri. Jawaban mereka simpel saja. Bagi kami tidak apa-apa. Tetapi bagaimana denganmu? Apakah kamu tega meninggalkan kami. Kata-kata yang sederhana tetapi bagi saya maknanya sangat mendalam.  Sehingga tawaran tersebut tidak satu pun yang saya terima walaupun persyaratannya dapat dipenuhi,” ungkap cucu dari Hj. Idrus Rain dan Rafiah Thain ini.

 

Pada tahun 1995 sewaktu Menteri Wakaf dan Urusan Islam Maroko berkunjung ke IAIN Imam Bonjol Padang, ditawarkan beasiswa untuk sepuluh orang dosen IAIN Imam Bonjol mengikuti program S2 di Maroko. Tanpa memberitahu nenek, ia mengikuti tes dan lulus. Sebenarnya, berat baginya meninggalkan nenek dan adik-adik tambah lagi istri dan anak-anak. Namun, tawaran belajar ke Maroko diterima. Beberapa bulan mengikuti pendidikan, neneknya berpulang ke rahmatullah. Walau hati ingin pulang namun setelah dipikirkan dengan matang, pendidikan tetap dilanjutkan. Dua tahun pendidikan dapat diselesaikan dengan baik. Selama kuliah di Maroko, ia mencatat sirkulasi keuangan, uang masuk maupun uang keluar. Tujuannya agar ia dapat mengontrol keuangan yang ia gunakan tidak pada tempatnya.” Sampai biaya untuk membeli bawang saya catat,” Ujar Profesor yang akrab disapa Masnal ini.

 

Satu tahun pasca menamatkan pendidikan di Maroko ia kembali bertugas di Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang. Ia berkeinginan untuk menambah pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Sehingga pada tahun 1999 ia mengikuti seleksi masuk Program S3 Program Pasca Sarjana (PPS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah dinyatakan lulus. Ia memilih Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Selama dua semester tatap muka dapat diselesaikan dengan IPK 3,75.

 

Awal tahun 2001 judul desertasi disetujui. Setelah itu berusaha mengerahkan waktunya untuk menulis desertasi. Karena sesuatu dan lain hal baru dapat diselesaikan di penghujung tahun 2006. Ujian tertutup dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2006 dan ujian promosi pada tanggal 17 Maret 2007. Ia kembali mendapat nilai Cumlaude. Barulah pada tanggal 30 November 2006, ia ditetapkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang. Pada tahun 2009 ia mulai menjabat sebagai ketua UPB IAIN Imam Bonjol Padang. Di samping itu, ia bekerja sebagai dosen Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang sampai saat ini.

 

Berbagai prestasi telah ia raih. Masnal menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana muda dengan nilai Cumlaude. Begitu juga ketika menamatkan S3 di UIN Syarif Hidayatullah, ia lulus dengan nilai Cumlaude. Tanggal 30 November 2006, ia ditetapkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang.

 

Selain itu, Masnal giat menulis karya ilmiah. Di antara karyanya itu adalah buku Qadhaya al- Ma’na Fi al Lughah al Arabiyah Min Khilal al Isytirak yang diterbitkan oleh Kuantum Jakarta tahun 2000,  makalah yang berjudul “Pendidikan Islam Abad 21” yang disampaikan pada diskusi ilmiah yang dilaksanakan oleh International Customer Management Institute (ICMI) Rabat Cabang Maroko pada tahun 1997 dan masih banyak karya ilmiah lainnya. 

 

Meskipun sibuk dengan berbagai aktivitas, Masnal masih sempat menyisihkan waktunya untuk keluarga. “Di hari-hari tertentu kami sekeluarga menyediakan waktu untuk berkumpul dan jalan-jalan” Ujarnya.

 

Gaya hidup demokrasi ia rintis mulai dari lingkungan keluarga. Setiap  akan mengadakan kegiatan, ia bersama istri dan anak-anak melakukan rapat. Dalam rapat tersebut dikumpulkan pendapat kemudian ditarik keputusannya. Selesai rapat, semua anggota keluarga menandatangani hasil keputusan tersebut. “Hari-hari tertentu kami sekeluarga menyediakan waktu untuk berkumpul dan jalan-jalan” Ujarnya.

 

 

(Bustin)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Curriculum Vitae

 

Nama                                  : Prof. Dr. H. Masnal Zajuli.M.A

Ttl                                       : Sawah Tangah, 23 November 1951

Negeri asal                           :Sawah tangah, kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar Sumatera                               

                                            Barat

Alamat                                 :Jl. Damar I No 5B/ Kelurahan Olo Kecamatan Padang Barat Kota

                                             Padang Sumatera Barat

Pekerjaan                             : Dosen Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang

Pangkat/ golongan                : Pembina utama/ IVE

Jabatan                                : Guru Besar

Istri                                     : Hj. Musnaliza (1955) Kepala SD Negeri 15 Padang Pasir Kecamatan

                                             Padang Barat Kota Padang

Anak-anak                           : Zihnil Afif Masnal, M.Kom (1979)

                                              Drg. Fahmil Khalis Masnal (1981)

                                              Hifzil Hanif Masnal, S.Kom (1982)

                                              Fikra Adlya Masnal, S.E (1985)

Menantu                                : Maryuli Silfina, S.Hum (1980)

Cucu                                     : Entiza Mazia (2008)

Pendidikan                            : SR ( Sekolah Rakyat) Negeri di Sawah Tangah (1964)

 

                                              Madrasah Tawalib Tanjuang Limau Batusangkar, Ijazah extranaii PGAN

                                              4 Th Batusangkar (1968)

 

                                              Sarjana Muda Bagasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol

                                              Padang (1974)

 

                                               Sarjana Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang

                                               (1978)

 

                                              Magister Bahasa dan Sastra Arab Universitas Muhammad V

                                              Fakultas

 

                                              Satra dan Humanier Rabat Maroko Jurusan Bahasa dan Satra Arab,

                                              Spesialisasi linguistik, pilihan Sarf Tarkib dan Dalalah (1997)

 

                                              Doktor Bahasa Arab dan Sastra Arab PPs UIN Syarif Hidayatullah

                                              Jakarta (2006)

Orana tua                         

Ayah                                     : Zajuli Harun (1930)

Ibu                                      : Sarma Idrus (1932-1968) almarhumah

 

Diasuh oleh

Kakek                                  : H. Idrus rain (1905-1981) almarhum

Nenek                                  : Rafiah Thain (1914-1996) almarhumah

Perjalanan karirnya :

Sekretaris Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol (IB) Padang (1975-1980)

Ketua Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN IB Padang (1980-1989)

Direktur Lembaga Bahasa IAIN IB Padang (1984-1988)

Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah IAIN IB Padang (1989-1992)

Pembantu dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN IB Padang (1993-1996)

Pemeriksa luar bagi calon ijazah doktor falsafah fakulti Bahasa dan Linguistik Universiti Malaya Kuala Lumpur (2007 sampai sekarang)

 

 

Pengalaman kerja :

Asisten Dosen Mata Kuliah Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang (1975-1979)

Dosen mata kuliah Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang (1979 sampai sekarang)

Dosen luar biasa mata kuliah agama Islam pada IKIP Padang (1983-1985)

Dosen mata kuliah Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar (1990-1996)

Dosen mata kuliah Bahasa Arab Program Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang (2007 sampai sekarang)