Profil › Tokoh


Wanita Inspiratif Itu Telah Pergi



In Memoriam Elwis Nazar

(Isteri rektor IAIN Imam Bonjol Padang)

Allevia Syarif menyambut kami dengan gamis abu-abu ketika bertandang ke rumahnya Jalan Aia Sirah Jati Padang. Belum habis sisa sembab di matanya terlihat saat kami bersalaman. Suasana masih berkabung. Karpet penanti tamu duka masih membentang di ruang tamu. Elwiz Nazar Ibunda gadis yang akrab dipanggil Allev ini telah berpulang ke rahmatullah 4 September 2013.

 

Elwis Nazar dipangil illahi pukul 02.30 WIB di RSUP M Djamil. Perempuan yang akrab dipanggil Elwis itu meninggal setelah berjuang melawan kanker payudara beberapa tahun terakhir.

 

Allev putri tunggal Makmur Syarif Rektor IAIN IB Padang ini menceritakan, “Mama adalah orang yang sangat menginspirasi bagi Allev. Bahkan juga di kalangan teman, dosen, dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Mama,” ujar Allev mahasiswi S2 Universitas Indonesia (UI) ini.

 

Perempuan kelahiran 3 Februari 1990 ini, memaparkan kesehariannya dengan almarhumah semasa hidunya.  Allev kecil yang baru menduduki bangku 4 SD amat dekat dengan Elwis Nazar. Setiap Elwis masuk kuliah S2 di Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang, Allev senantiasa ikut masuk lokal bersama Mamanya.

 

“Di lokal Mama, Allev buat PR dan mengambar. Sempat jadi mahasiswa S2 kecil,” kenangnya kepada Suara Kampus. Kisah bersama Mamanya inilah Penggalan kisah yang menginspirasi Allev mengikuti jejak Elwis Nazar jadi Mahasiswi S2.

 

Anak semata wayang ini menceritakan kepandaian almarhumah dalam membagi waktu. Almarhumah Elwis kandidat doktor ini sangat bisa membagi waktu dengan baik. Elwis Nazar juga menjadi Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Imam Bonjol Padang dan dia tetap memperhatikan anaknya.

 

“Mama pernah berpesan kepada Allev, Mama bilang, ‘jadi dosenlah Nak, karena jadi dosen kita tetap bisa menjaga anak dan keluarga, lagian pekerjaan dosen merupakan suatu amalan ibadah Nak’,” ujarnya lunak menirukan suara Elwis.

 

Elwis Nazar penerima piagam tanda kehormatan satya lencana karya satya dua puluh tahun, dari Presiden Republik Indonesia Tahun 2009 pernah berharap kepada anaknya bekerja jadi dosen terdekat seperti di Universitas Andalas (Unand). “Pesan Mama kenyatannya memang terjadi. Kini Allev harus tetap menemani papa seperti kata Mama ‘Nak jadi dosen Unand se lah Nak, buliah dakek samo Mama jo Papa,’ itu kata Mama, ” paparnya dengan mata berkunang. 

 

Sakit mendatanginya

 

Kronologis sakit Elwis Nazar. Almarhumah Elwis Nazar mulai sakit biopsi pada tahun 2007. Kemudian mulai melakukan kemoterapi. Beberapa bulan pengobatan sakit Ibu Elwis mulai membaik. Namun pada 2011 kemarin Elwis yang pernah terpilih sebagai queen ketika kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang. Saat itu yang terpilih jadi kingnya Irdinansyah Tarmizi yang sekarang menjabat sebagai anggota komisi III DPRD Sumbar dan juga menjabat sebagai ketua Ikatan Alumni (Iluni) IAIN Imam Bonjol Padang.

 

“Alhamdullillah dengan proses pengobatan beberapa bulan, setelah itu pada tahun 2011 penyakit Mama kambuh lagi dan sudah menyebar ke tulang. Doktor bilang tulang Mama kropos dan Mama tahun 2011 harus pakai kursi roda saat itu Allev masih di Jakarta kuliah. Mama tidak pernah kasih tahu Allev masalah sakit Mama seperti itu, Mama hanya bilang kalau penyakit itu biasa saja, Mama ngk mau bilang karena Mama takut kegiatan Allev tergangu, baru puasa kemaren Mama bilang ke Allev kalo penyakit Mama ini sudah parah,” ungkapnya tak sanggup menahan air mata.

 

Allevia mahasiswi S1 Unand ini terus menceritakan bagaimana akhir-akhir kebersamaannya dengan almarhumah. Semenjak Allevia tidak mengetahui penyakit Mamanya ia pun terus mengikuti perkulihan dan mempersipkan yudisium terbaik dan nilai itu akan dijadikan Allevia sebagai hadiah ulang tahun pernikahan orantuanya yang jatuh pada tanggal 22 Agustus 2013 kemaren.

 

“Wisuda tepat hari Sabtu 31 Agustus tidak tahu yang terjadi perasaan Allev mendadak tidak enak. Pikiran Allev teringat Mama terus, pagi Sabtu itu Allev pulang dan nggak ikut acara wisuda, Allev pulang sampai di BIM, Allev naik tranek menuju rumah (Air Sirah). Sampai di rumah Allev langsung meluk Mama dan Mama masih sempat bercanda sama Allev,” tuturnya dengan mata membening.

 

Seperti itulah Elwis Nazar di rumah dengan anaknya bercanda tidak ada batas antara anak dan orang tua. “Begitulah Mama bercanda, Mama juga bilang, ‘tidak semua orang tua benar jadi kalau Mama salah Allev tujukkan Mama ya,’ gitu kata Mama,” ujarnya kepada Suara Kampus di Rumah Dinas Rektor di Air Sirah.

 

Begitulah sedikit cerita dari buah hati Almarhumah Ibunda Elwis ini menceritakan bagaimana keseharian almarhumah, berselang beberapa waktu kami langsung menemui adik paling kecil Elwis Nazar yang sedari tadi memperhatikan kami berbincang dengan keponakannya.

 

Tia (40) pangilan tante Allev ini bercerita singkat, bahwa almarhumah sangat berpesan kepada adiknya harus menjaga Allev. Di mata Tia, kakaknya adalah seorang pembimbing di keluarga. “Mama Allev orangnya penyayang,” ujar Tia.

 

Separuh Jiwa Makmur Pergi

 

Selang beberapa menit bercerita dengan Tia, Rektor IAIN  Imam Bonjol Padang Makmur Syarif pulang dari pekerjaanya. Kami pun mulai bercerita bagaimana sosok Elwis Nazar di mata profesor.

 

“Begitu berat rasanya ditinggal orang yang dicintai, Buk Elwis merupakan seorang  penyemangat bagi kehidupan saya. Buk Elwis merupakan sosok perempuan yang mendorong saya sampai profesor dan sampai jadi rektor. Saya sangat kehilangan orang tercinta,” ujarnya pelan, berbeda dengan karakter ketika berada di kampus, tegas, dan keras. Dia mulai mengenang bagaimana keseharian Elwis mendampingi dirinya semasa hidup.

 

Pada 22 Agustus 1980 pasangan Elwis Nazar dan Makmur Syarif ini menjalin ikatan pernikahan. Allevia Syarif adalah buah dari pernikahan mereka setelah berlangsung 10 tahun ikatan rumahtangga.

 

“Ibu pernah berpesan terus menjaga Allev. Ibu Elwis merupakan aktivis kampus, dan sangat dikenal di kampusnya. Banyak kegiatan yang dia jalani semasa kuliah dulu baik organisasi dalam kampus maupun di luar Almarhum termasuk dalam pengkaderan Himpunan  Mahasiswa Islam (HMI). Dia pernah menjadi penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) dan juga sebagai penulis di beberapa koran seperti Haluan,” jelasnya sambil membayangkan kisah pada tahun 70an itu.

 

Elwis memang telah berjuang melawan sakit kanker payudara yang dideritanya beberapa tahun terakhir. “Almarhumah biasanya kalau saya pulang dari kampus dia selalu bertanya bagaimana keadaan kampus, saya bilang berjalan lancar, lalu ibu menasehati ‘jangan terlalu keras di kampus,’ kata ibu, dengan suara lembut, lalu saya jawab ‘ya yang melangar aturan harus dikeraskan juga’,” ujar Makmur mengenang masa romantis itu.

 

“Kenangan yang amat berarti ketika kami menonton film Habibie Ainun di salah satu bioskop di Jakarta. Sampai ketika itu air mata saya mengalir sampai membasahi sapu tangan, dan satu penggal kata yang menarik dalam film itu dan cocok sekali untuk situasi seperti ini, separuh jiwaku pergi bersama Elwis, Ayah dan ibunda saya juga sudah tiada Kita punya keinginan. Tuhan juga berkeinginan,” ujarnya di penutup perbincangan ini.[]

 

 Di Mata Sahabat

 

Pada lain kesempatan kami berjumpa dengan teman baik Elwis Nazar, Wakil Rektor I, Dr. H. Syafruddin M, Ag, dia menyatakan, keluarga besar IAIN Imam Bonjol Padang amat berduka. "Selain isteri rektor, ia juga pengajar yang telah mengabdi di Fakultas Tarbiyah. Kita berharap, bapak rektor bersama keluarga, tetap tabah dengan cobaan ini. Ananda Allevia agar tabah bersama ayahanda. IAIN kehilangan orang terbaik yang mendampingi Rektor untuk menjalankan tugas besar di kampus ini," ungkap Syafruddin yang tak kuasa menahan air mata.

 

Wali Kota Padang yang turut hadir pada shalat jenazah Elwis Nazar menuturkan, almarhumah sangat dicintai orang-orang yang dikenalnya. Ini ditunjukkan dari pelayat yang hadir. Ini menunjukkan, betapa bermasyarakatnya almarhumah semasa hidupnya. Atas nama Pemko Padang, ikut berduka.

 

"Kita kehilangan orang tercinta. Surgalah hendaknya tempat almarhumah. Amin," ujar Fauzi Bahar ketika memberikan sambutan. Ketua Iluni IAIN Imam Bonjol Padang, Irdinansyah Tarmizi mengungkapkan. Ia dan almarhumah satu angkatan. Akrab dan malahan terpilih sebagai pasangan King dan Queen, saat akhir dari masa orientasi mahasiswa sebelum kuliah oleh para senior yang menjadi panitia ketika itu.

 

"Kami satu angkatan waktu kuliah. Almarhumah dikenal baik dan ramah. Kita sangat kehilangan beliau," ungkap Da Ir panggilan akrab Irdinansyah Tarmizi.

 

Alizar tanjung salah seorang Alumni IAIN Imam Bonjol Padang yang pernah menjadi mahasiswa almarhumah mengungkapkan, Elwis Nazar memiliki ciri khas dalam mengajar. Lembut dan tenang.

 

“Almarhum memaparkan materi begitu adem sehingga membuat mahasiswa itu tidak jenuh. Ibu Elwis merupakan aktivis yang sangat dikenal di dunia kampus, ia meraih queen karena kecekatan dalam berorganisasi,” ujar pria yang biasa dipanggil Ali ini.

 

Di lain tempat M Natsir Dosen Fakultas Tarbiyah dan juga salah seorang mahasiswa almarhumah mengenang dan memaparkan kepada kami bagaimana sosok Elwis di matanya. Ia mengatakan almarhum adalah sosok perempuan aktivis yang jarang kita temukan di masa sekarang.

 

“Buk Elwis adalah perempuan yang sangat baik dia seorang mentor aktif mahasiswa pada angkatanya,” ujarnya di sela-sela pekerjaan pria yang biasa di pangil Acil ini.

 

Dia menjelaskan sangat menyayangkan  ketika zaman sekarang tidak ditemukan mahasiswi seperti almarhumah yang begitu semangat dan bisa dipandang oleh seluruh kampus dan dia sangat dikenal sebagai aktifis. “Sekarang jarang kita temukan sosok perempuan yang berjiwa aktifis ini. Almarhum sangat dikenal masyarakat termasuk masyarakat kampus karena ia hidup terbuka dan selalu melayani orang yang ia kenal dengan sepenuh hati. Ia hidup di tengah masyarakat dengan senyuman,” ujarnya saat kami temui di Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang.

 

“Satu pesan yang sangat berarti dari beliau yang sampai sekarng masih saya pegang, beliau mengatakan seberapa besar masalahmu tetaplah hadapi dengan senyuman, kita sangat kehilangan aktivis perempuan itu,” jelasnya dengan nada tersedu.

 

Allevia Syarif, Makmur Syarif, melepas kepulangan kami di tengah hujan rintik-rintik petang itu dari gerbang rumah persinggahan mereka. Kini tinggal anak tunggal dan papa tunggal di rumah dinas Rektor di Aia Sirah itu yang biasanya juga ditempati Elwis Nazar.

 

 Laporan: Yogi Eka Saputra