Profil › Tokoh


Melangkahkan Nama IAIN ke-Nasional



Pagi itu Reza Pahmi, pria ramah tamah yang menyambut kedatangan kami untuk wawancara dengannya, saat ditemui di ruangan dosen Fakultas Ushuluddin, beliau membelokkan langkah kami untuk selangkah dengannya menuju ruangan guru besar Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang untuk laksanakan wawancara, rasa penasaran kami terkuak saat mendengar ceritanya di ruangan tenang yang berukuran 4 x 8 meter itu, Kamis (26/02).

 

Berkat prestasi akademik dan karya jurnal yang Reza Fahmi hasilkan, sosok yang sangat luar biasa ini mampu membawa nama IAIN ke kancah nasional. Ia dinobatkan sebagai dosen teladan ke-4 tingkat nasional bukan hal yang mudah untuk meraihnya. Banyak tahap seleksi yang ia ikuti dan dalam perwakilan itu ia mewakili bidang sains untuk IAIN Imam Bonjol Padang.

 

Ada tiga kategori penilaian, pertama dari aspek pengajaran, aspek penelitian, dan aspek pengabdian. ”Pemilihan dosen teladan ini dipilih dari karya ilmiah yang dihasilkan di sini lebih dinilai dari sisi akademiknya bukan pada persoalan cara berpakaian, tetapi murni dari bidang akademiknya,” imbuh Fahmi.

 

Penampilannya dalam presentasi makalah di Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang diadakan di Mataram dengan judul “The separation of islam as a science and belief (Study at Islamic Psychology) Departement at state Institute of Islamic Studies Imam Bonjol” membuatnya bisa membayar penatnya selama ini dengan 100 karya yang telah dibuatnya yang terdiri dari buku, artikel dan jurnal dalam bentuk file yang diseleksi secara online. Karya itulah yang lolos mencapai nasional sehingga dinobatkan sebagai dosen teladan ke-4 di Indonesia.           

 

Bukan hanya pintar dan banyak memiliki karya, pria yang sering menjadi pemateri serta presenter dalam berbagai seminar nasional dan internasional ini pernah menjadi presenter empat kali dalam seminar Internasional Simposium yang diadakan Balitbang Jakarta Dua, jumlahnya sudah delapan kali nasional dan sepuluh kali skop untuk Internasional.

 

Tidak semua biaya presentasi keluar itu bisa di akomodir oleh lembaga penyelenggara, contohnya saya di undang oleh Kemenag dalam seminar Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) semuanya ditanggung dan kemudian jika ada even-even bersifat internasional yang tidak punya founding  untuk mengundang pembicara. “Kendala yang saya hadapi ketika kita menjadi pembicara ialah jika biaya presentase di cover dari biaya pribadi  itu yang agak bermasalah,” pungkasnya.

 

Untuk dinobatkan sebagai dosen teladan, Reza juga sempat mengalami masa sulit hingga terkendala persoalan dana. “Hal ini dikarenakan banyak event yang mengandalkan biaya pribadi untuk meraihnya,” tuturnya.

 

Selain itu masa sulit yang ia lalui banyak karya yang sudah menghabiskan banyak dana namun hasilnya tidak bisa dilihat dengan mata kepala sendiri. Namun hal tersebut terbayar saat salah satu karyanya jebol membawa namanya dan nama IAIN ke tingkat nasional.

 

Mengenai motivasi, Reza ingat dengan kata-kata mutiara yang pernah beliau baca seketika berkunjung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Gontor. “Saya dalam hidup, sudah banyak berjalan ke berbagai tempat, kata-kata yang saya ingat sekali yaitu sebuah kata-kata mutiara di Ponpes Gontor, “Berani hidup tidak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.” Artinya kita selaku individu berusaha kemudian menghasilkan karya, kita harus berusaha dan melewati tantangan.

 

Mengenai jejak karir, Reza menjelaskan, ia masuk menjadi dosen tahun 2002 di IAIN, selama 6 tahun kemudian menjadi Kepala Jurusan Psikologi Islam. Sekarang Reza fokus menyelesaikan studi program doktor. “Setelah mendapatkan gelar Doktor saya berharap dalam waktu tiga tahun,  untuk menjadi guru besar, karena dalam pendidikan jabatan fungsional tertinggi itu adalah guru besar,” jelasnya.

 

Reza juga berharap seluruh dosen yang mengajar di IAIN Imam Bonjol Padang memiliki prestasi yang lebih darinya. Karena kesempatan dari Kemenag sudah terbuka lebar tinggal kita menghasilkan karya-karya terbaik  minimal nasional karena persoalannya untuk seleksi dosen teladan Nasional ini seleksinya kepada hasil-hasil karya nasional dan internasional dan seminar lokal tidak pernah diperhitungkan. “Harapan saya semoga semakin banyak dosen-dosen dari IAIN bisa berprestasi dari saya.” Tambahnya.

 

Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Eka Putra Wirman menuturkan, Reza itu orangnya baik, dosen berkualitas dan selalu menjalin komunikasi yang baik dengan orang sekitarnya.  Karena kehebatannya Reza patut menjadi teladan bagi dosen lainnya dan patut untuk dijadikan contoh dalam mengemban tugas.

 

Menghadiahi kemenangannya, bentuk apresiasi yang diberikan dari pihak IAIN dengan memberikan fasilitas berupa transportasi pulang pergi serta biaya akomodasi lain saat menjalani program dosen teladan. “Semoga dosen-dosen yang lain dari IAIN juga bisa menjadi dosen teladan dan menjadi kebanggaan untuk IAIN kampus kita ini,” harap Eka.

 

Sosok yang Teladan

 

Selain memiliki prestasi besar di nasional, sosok suami dari Prima Aswirna ini di kenal dengan sosok pendiam dan tidak terlalu banyak berbicara dengan orang-orang yang baru. Beliau berbicara yang penting saja dan cukup humoris, tidak pemarah dan selalu memberikan support. “Saya ingat ketika teman saya di Inggris bilang, your husband he led your go up he go flower, maksudnya ia memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang, tidak menghambat-hambat, kalau ingin maju beliau selalu mensupport saya,” ujar Prima sambil tertawa.

 

Prima menjelaskan ia bertemu dengan sosok Reza ketika ia sama-sama megambil program magister di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). “Beliau orang yang menyenangkan dan  tidak banyak tuntutan,” ujarnya.

 

Buah tak jauh jatuh dari pohonnya, makna tersebut melekat pada diri Reza, karena ayah beliau merupakan seorang wartawan di bagian Humas Dinas Pertanian Jakarta. “Ayah beliau dulu seorang wartawan, jadi talenta itu turun ke beliau.” Kata Prima.

 

Seorang pekerja keras, apapun yang ia inginkan selalu diusahakan semaksimal mungkin. “Saya ingat betul karakteristik beliau, tidak takut tantangan, beberapakali ikut seleksi Kementerian Agama (Kemenag) beliau ikut, serta penelitian lainnya,” lanjut Prima.

 

Menurut anak sulung dari dua bersaudara, Reza yang akrab ia sapa Papa itu sering memesankan kepada anak-anaknya untuk rajin belajar dan mengerjakan tugas rumah yang diberikan tapat waktu. “Papa orang yang rajin membaca dan suka menulis, saya sangat senang karena papa berhasil jadi dosen teladan di Indonesia,” paparnya.

 

Keteladanan yang membangun, sosok Reza juga selalu men-support anaknya untuk mengerti tentang kepenulisan. Menurut cerita Farah ia dari kelas 1 SMA sudah mulai menulis cerpen dan sudah mulai belajar menulis novel meskipun masih banyak EYD yang sering dikritik oleh ayahnya.

 

Sikap keseharian Reza Fahmi menurut Ruaidah dosen Bahasa Indonesia dan Metodologi Penelitian dan Kuantitatif sekaligus teman dekatnya mengungkapkan, sosok dari Reza yang bersahaja, memiliki banyak pengalaman penelitian sehingga tempat bertanya bagi teman-teman dekatnya. “Reza memiliki banyak pengetahuan, orang yang baik, memiliki banyak pengalaman penelitian tingkat nasional, ia mendapatkan penghargaan  tingkat nasional. Memiliki ciri khas tertawa besar , penyapa, candaannya yang  lucu, orang yang asyik dan saat serius dia paling serius memecahkan masalah  merupakan ciri khas dari Reza Fahmi. Setiap candaanya yang lucu memiliki tawa yang besar dan dia sosok orang yang penyapa, memiliki keseriusan yang tinggi saat orang bertanya,” ungkapnya.

 

Sama halnya dengan Hasneli  menurutnya, ciri khas yang dimiliki oleh Reza Fahmi,  jalan cepat dan bekerja dengan cepat selesai, dia selalu menolong teman-teman dosennya dalam bertugas dan tidak menunda-nunda. “Beliau miliki sifat yang gesit dan tidak menunda-nuda waktu,” tambahnya.

 

Novil Cut Niza mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Psikologi Islam mengatakan, Pak Reza sangat antusias ketika mengajar,  ia berjalan dengan cepat, langkah yang lebar kemungkinan satu langkah pak reza di hitung tiga langkah saya dan ia juga sangat bersemangat ketika mengajar. “Saya sangat salut dengan Pak Reza, baik dalam hal sikap, pengetahuan maupun prestasi-prestasi yang beliau raih,” ucapnya.

 

Begitupun dengan  Herawati mengungkapkan, banyak mahsiswa yang menyukai pak Reza dan sangat menyukai ketika belajar dengan beliau. Karena beliau selalu menghargai mahasiswa menerima jika dikritik oleh mahasiswa. “Pak Reza merupakan Dosen yang jenius yang dapat menghubungkan fenomena-fenomena yang ada dengan pembahasan kuliah sehingga mudah dipahami, Pak reza sangat pantas dinobatkan sebagai Dosen teladan tingkat 4 Nasional,” ujarnya.

 

Curiculum Vitae

Nama                                   : Reza Fahmi. S.Sos. MA.

NIP / NIDN                            : 19690829 200212 1 002 / 2029086901

Jenis Kelamin                         : Laki-laki       

Tempat dan Tanggal Lahir        :  Jakarta, 29 Agustus 1969

Status Perkawinan                  : Kawin          

Agama                                  : Islam

Golongan / Pangkat                 : III/d / Penata Tk I


Riwayat Pendidikan

1. Sekolah Dasar Negeri 13 Jakarta

2. SMP Negeri 163 Jakarta

3. SMA Negeri 38 Jakarta

4. S1 Bandung School of Social Welfare di Bandung

5. S2 National University of Malaysia dalam bidang          Psychology

6. S3 Menyelesaikan studi di Universitas Negeri Padang


Karya Tulis Ilmiah

1. Islam dan Pendidikan Karakter Bangsa : Membangun Karakter Bangsa (Character Building) yang Otentik (2011)

2. The Character Building in Islamic Boarding School and Peaceful Thinking of Students at Darussalam Islamic Boarding School in Ponorogo, East Java (2012)

3. Psychological Impact of Halal Meat Towards Muslim Community in United Kingdom (2012)

4. Man’s Power at The Women’s Underarms : The New Perspective of Gender in West Sumatera (2013)

5. Buku : Pendidikan Islam Kontemporer (2014)

6. Buku : Modifikasi Tingkah Laku (2014)

7. Haji Bukan Sekedar Ritual, Harian Haluan (2015)

8. Polemik Pemimpin dan Suksesi, Buletin IAIN Imam Bonjol Padang (2015)