Resensi Buku


Ranah 3 Warna


Pengarang : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tebal : 473
Editor : -
Resensiator : Nurhamsi Deswila


Anak kampung biasanya jauh dari peradaban, tertinggal dalam persaingan dan terbelakang dalam ilmu pengetahuan, tetapi apakah semua anakkampung seperti itu?

 

Seorang anak Kampung dari Ranah Minang, asli Maninjau membuktikan bahwa anak Kampung adalah anak yang mampu berprestasi mampu bersaing dan mampu mengikuti perkembangan zaman dan menjejak tanah-tanah yang jauh. Ahmad Fuadi dalam buku kedua dari trilogy NegeriMenara melanjutkan catatan biografi hidupnya di buku Ranah 3 Warna.  

 

Setelah sukses dengan negeri 5 Menara yang menceritaklan perjalanannya menuntut ilmu di Pondok Madani demi memenuhi keinginan amaknya untuk menjadi ulama seperti Buya Hamka. Kini di Ranah 3 Warna Ahmad Fuadi menceritakan tentang perjalanannya memenuhi impianya sendiri yaitu ikut ujian persamaan SMA dan kuliah di Universitas karena Pondok Madani tidak memberikan Ijazah untuk kuliah di Perguruan Tinggi Indonesia.

 

Usaha ekstra keras yang dilakukannya untuk lulus ujian  persamaan SMA terbayar lunas dengan diterimanya ia di Universitas Padjajaran pada jurusan Hubungan Internasional. Alif Fikri (tokoh utama trilogy Negeri 5 Menara) kembali bertemu sahabat lamanya yang telah lebih dulu kuliah di Teknik Penerbangan ITB, ia sempat tinggal berbagi satu kamar. Namun sebuah perselisihan memisahkan mereka. Alif juga harus menerima kenyataan pahit dengan meninggalnya ayah tercinta tidak lama setelah  berencana mengunjunginya ke Bandung.

 

Kepergian sosok ayah yang sangat penting dan keinginan yang tinggi untuk terus mengejar mimpi dan menjaga amanat ayahnya untuk membela amak dan adik-adiknya hampir membuat ia berhenti kuliah. Namun ancaman amaknya untuk terus melanjutkan kuliah lebih ditakutinya.

 

Alif kemudian dengan susah payah berusaha kesana kemari agar bisa mandiri dan mengirimkan uang untuk amaknya, mulai dari jadi sales kosmetik, penjual songket dan akhirnya menjadi penulis. Ia belajar menulis dengan seorang senior Batak yang keras bernama Togar. Banyaknya tekanan hidup membuat Alif menyadari mantra Man Jadda  Wajad tidak cukup kuat lagi hingga ia membuka kembali catatan belajar di Pondok Madani. Ia menemukan mantra baru yang dulu sering ia lupakan yaitu “man sabara zhafira”  siapa yang bersabar dia akan beruntung. Sabar yang aktif sabar yang giat bukan sabar yang menyerah dan berputus asa.

 

Alif kian giat mewujudkan mimpinya untuk bisa melihat negeri yang jauh, Amerika. Ia kemudian mengikuti seleksi pertukan pemuda Indonesia-Kanada. Sebenarnya alif lemah dalam hal seni sebagai cara utama yang digunakan untuk  diplomasi luar negeri saat itu. Namun ia yakin usaha yang lebih dari rata-rata akan membawanya pada keberhasilan. Ia kemudian lolos untuk belajar di Kanada setelah usahanya meyaki kan dewan juri bahwa Indonesia tidak hanya di kenal sebagi Negara seni yang pandai menyanyi dan menari. Bangsa Indonesia juga mampu bersaing secara intelektual. Ia menunjukkan hasil tulisan nya yang telah diterbitkan di media massa local dan nasional, yang merupakan karya intelektual sebuah bangsa berperadaban.

 

Alif Fikri ditantang untuk tinggal di Quebec, sebuah propimsi yang tidak menggunakan bahasa Inggris. Awalnya ia keberatan namun ancaman didiskualifikasi memicu kembali semangatnya. Ia dan Raisa  ditempatkan pada kelompok yang sama, sehingga Alif bisa belajar bahasa Perancis dengan Raisa. Perjalanan ke Kanada sungguh berwarna bagi Alif karena ia diajak berkeliling Yordania sebelum menginjak Kanada. Ia bertemu Tyson dan Kurdi keluarganya di pondok Madani dulu yang sedang kuliah di Yordania. Alif juga kaget karena seorang sahabatnya Sahibul Menara, telah menggapai mimpinya juga kuliah di Al Azhar , Kairo. 

 

Gaya bahasa yang digunakan Ahmad Fuadi sangat unik. Ia menggunakan beberapa bahasa Minang terutama untuk kata ganti saya dan kamu, menjadi aden dan waang. Hal ini menimbulkan rasa cinta dan bangga tersendiri terhadap kebudayaan Minang Kabau.  Selain itu cara pandang Alif terhadap berbagai hal sungguh hebat. Saya membahasakannya gilo-gilo tangguang karena ia bias membuat kita tertawa setelah menangis tersedu-sedu. Cara pandang yang sedikit mirip dengan penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata.

 

Ahmad Fuadi mengakhiri Ranah 3 Warna  dengan sedikit kegagalannya dalam cinta. Ia telah didahului sahabatnya Randai untuk melamar Raisa, gadis yang telah ia kagumi sejak pertama kali datang ke Bandung. Raisa yang juga mengikuti pertukaran pemuda Indonesia-Kanada memperkenalkan Randai sebagai tunangannya tepat disaat Alif ingin menyampaikan surat cinta yang pernah ditulisnya di Kanada 2 tahun sebelumnya. Namun cara pandang Alif menempatkan dirinya sebagai pemenang, karena ia belajar ikhl;as dan yakin ia juga akan mendapat yang terbaik.

 

Alif kemudian pulang kampuang  ke Kanada, ke tempat dulu ia pernah tinggal ketika mengikuti pertukaran pemuda. Ia datang bersama istri tercintanya dan disambut baik oleh orang tua angkatnya,, Mado dan Ferdinand.  

 

Buku ini wajib dibaca bagi pelajar yang bermimpi besar dan ingin menjajak negeri yang jauh. Ranah 3 warna menyajikan pengalaman tak terlupakan Alif Fikri belajar di Kanada, bergaul dengan anak berbagai suku bangsa. Ia menaklukkan semua tantangan. Ada keharuan tersendiri saat Alif bertemu dengan keluarganya dari Pondok Madani yang juga telah menggapai mimipi masing-masing di sepanjang perjalanannya menjajaki  Ranah 3 Warna, Bandung, Yordania, dan Kanada.   

Gemilang Popularitas dan Egoisme





• Resensi Buku Terkait