Resensi Buku


Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Pengarang : Buya Hamka
Penerbit : PT. Bulan Bintang
Tebal : 213
Editor : Muhammad Rasyid
Resensiator : Rizka Fauzia Akmal


Cinta Terhalang Oleh Adat

“ Hai upik, baru kemarin kau memakan garam dunia, kau belum tahu belit-belitnya. Bukanlah kau sembarang orang, bukan tampan Zainuddin itu jodohmu. Orang yang  begitu tak dapat untuk mengantungkan hidupmu, pemenung, pehiba hati, dan kadang-kadang panjang angan-angan. Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup seorang yang tentu pencaharian, tentu asal usul. Jika perkawinan dengan orang demikian langsung dan engkau beroleh anak, kemanakah anak itu akan berbako? Tidakkah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, tak boleh lekang oleh panas?”

 

Buku tenggelamnya kapal Van Der Wijck ini melukiskan kisah cinta murni diantara sepasang remaja yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan ibarat tamsil. Jalan ceritanya dilatarbelakangi dengan peraturan adat yang kokoh dan kuat, dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga berkaum-kerabat, dan berninik-mamak.

 

Novel ini menceritakan warisan atau harta bisa menbuat orang berselisih dan terbuang dari tanah kelahirannya. Seperti hal yang dialami ayah Zainuddin, yang terbuang dari negeri kelahirannya. Hanya karena menpermasalahkan harta warisan yang ditinggalkan orangtua Pendekar Sutan. Hal ini berujung pada pertengkaran yang akhirnya dia terbuang dari kampung halamannya.

 

Peraturan adat yang sangat kokoh kuat tidak mengizin dua insan yang berlainan suku untuk menyatu dalam satu ikatan rumah tangga. Meskipun cinta yang mereka rajut suci tanpa memandang status dan harta. Demi kedudukan dan harta mamak merelakan kebahagiaan kemenakannya. Hanya saja orang yang dipilih Hayati tidak memiliki ibu yang berasal dari Minangkabau. “ Tak usah engkau berbicara. Rupanya engkau tidak mengerti kedudukan adat istiadat yang diperturun penaik sejak dari ninik mamak yang berdua, Datuk Perpatiah Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan yang dibubutkan layu, yang dikisarkan mati. Meskipun ayahnya orang Batipuh, ibunya bukan orang Minangkabau, mamaknya tidak tentu entah kemana, sukunya tidak ada.

 

Meskipun Hayati sangat mencintai Zainuddin, padahal dirinya sendiri sudah lama dalam peperangan batin. Karena cintanya kepada Zainuddin terhambat, sukar langsung. Tetapi jiwanya pun tidak mau mengecewakan hati ninik mamaknya dan kaum kerabatnya. Dia akan menerima apa tulisan takdir.

 

Kisah yang diceritakan dalam novel ini sangat menarik perhatian dan kisahnya sangat menyentuh. Pengarang seolah-olah menceritakan pengalaman dan kisah hidupnya sendiri. Suasana yang digambarkan dalam ceritanya seakan-akan pembaca ikut merasakan kisahnya.

 

 





• Resensi Buku Terkait