Resensi Buku


Sang Hafidz Dari Timur


Pengarang : Munawir Borut
Penerbit : Sabil
Tebal : 387
Editor : Muhammad Rasyid
Resensiator : Desria


Lelaki yang Menggenggam Ayat-Ayat Tuhan di Hatinya

Novel ini mengkisahkan tentang sebuah keluarga yang demikian berharap kepada anak-anaknya untuk menghapal al-Qur’an. Dengan gaya yang mengalir yang bertutur tentang dua orang laki-laki yang sejak kecil sudah dilatih dan dididik dengan kental dan dikenalkan pada pelajaran-pelajaran agama oleh orang tuanya. Liku-liku kedua saudara ini pun mulai ditampilkan dengan sangat detail, terlebih saat mereka berdua dimasukan ke dalam lembaga pesantren.

 

Dua anak laki-laki ini yang satu baru berumur enam tahun dan yang satu lagi berumur 11 tahun, meski usia mereka masih sangat kecil orang tuanya sudah menyuruh untuk menghafal al-Qur’an. Surat pertama yang diwajibkan umi untuk menghafal yaitu  surat Maryam karena dalan surat ini mengandung kisah Maryam, Ibu Isa as yang serba ajaib.

 

Lelaki yang berumur 11 tahun ini  tidak pernah berhenti untuk menghafal meski kadang-kadang dia merasa bosan dan capek namun orang tuanya tidak pernah lalai dan selalu memberi dorongan kepada anak-anaknya agar selalu semangat untuk menghapal al-Qur’an. Mereka berdua selalu bersaing dan tidak mau kalah antara yang satu dengan yang lainya meski hafalan yang akan di bacakan kepada umi tersendat-sendat.

 

Tokoh dalam buku Sang Hafidz dari Timur ini karya Munawir Borut yang biasa disebut dengan panggilan Adib, orang tuanya selalu memasukan ia ke sekolah yang berbau agama dan ada penghafalan al-Qur’an. Perjalanan yang dihadapi sangat pahit di sekolah, saat penghafalan al-Qur’an murid di suruh untuk  maju ke depan satu-satu sesuai dengan urutan nama. Sekian banyak murid yang tampil namun tidak ada bacaanya yang bagus selalu ada yang tersendat-sendat membuat gurunya kesal, namun ada satu orang yang tidak dipanggil kedepan untuk menghafal al-Qur’an. Tetapi ustadnya malah keluar dan tidak memanggil Adib untuk maju ke depan apa sebabnya ia juga tidak tau, tidak lama kemudia Adib memanggil-manggil ustadz namun ustadznya tetap diam dan tidah acuh sama sekali. Akhirnya ia memanggil ustadz untuk yang terakhir kalinya dan ustadz mempersilahkan untuk ia membacakan kepadanya meski awalnya tidak diterima karena dia pikir hafalanya tetap  sama dengan murid yang lain, namun apa yang terjadi ustadz mengangguk-angguk karena hafalannya memang bagus dan membuat semua orang kagum.

 

Surat yang di hafal bukan cuma surat Maryan namun beberapa surat yang lainya seperti surat Yusuf, An-Naba’ dan surat Yasin. Tujuan orang tuanya menyuruh menghafal al-Qur’an karena orang yang menghafal al-Qur’an akan masuk surga dan memasuki taman yang sangat indah yang dihiasi dengan bunga dan kupu-kupu yang berwarna-warni.

 

Di hari ulang tahun umi ia tidak memberikan suatu benda namun ia hanya memberikan suatu kado yang sangat terindah yaitu bacaan surat Maryam yang sangat bagus meski saat itu keadaan umi sangat lemah namun umi tetap semangat karena putranya sudah menghafal surat yang ia suruh yaitu surat yang diidamkan. Umi berpesan kepada mereka untuk yang terakhir kali jangan pernah menyerah dan selalu menghafal al-Qur’an dan umi meminta satu permintaan kepada mereka untuk menghafalkan surat Yasin untuknya. Keadaan umi semakin hari semakin lemah, besok waktu untuk ia membacakan surat Yasin kepada umi saat mereka membaca surat Yasin air mata umi selalu jatuh sampai ia menutup mata dibawah pangkuan abi untuk yang terakhir kalinya.

 

Sekian banyak surat yang ia hafal ia di kirim ke pesantren tempat abinya dulu sekolah. Disana  ia memperbanyak serta memperdalam hafalannya dan ia mempunyai cita-cita yaitu  ingin pergi ke Mekkah yaitu tanah suci yang di idamkan semua manusia. Banyak rintangan yang dihadapi untuk pergi kesana yang terutama masalah biaya namun karena ia selalu yakin akhirnya ia juga dapat pergi ke Mekkah dengan beasiswa. Di pesantren mereka orang yang sangat pintar meski baru kelas satu namun sudah menjadi asisten ustadz bahkan teman-temannya  memanggil Sang Hafidz dari Timur.

 

Dalam buku ini mengkisahkan seorang laki-laki yang masih kecil sudah menghafal al-Qur’an. Gaya bahasa yang di gunakan Munawir Borut sangat unik dan mudah di mengerti. Ketika kita membaca buku ini,  sipembaca terbawa akan cerita Sang Hafidz dari Timur ini, seperti kisah seorang anak yang tidak boleh menghafal al-Qur’an karena mereka pikir hafalanya tetap sama dengan yang lain bukan itu saja namun ada juga seperti kepergian umi yang meminta kepada anak-anaknnya untuk membaca surat Yasin untuk yang terakhir kalinya.

 

Dengan banyak hafalan yang dia kuasai akhirnya semua yang diinginkan tercapai bukan Cuma mewujudkan mimpi uminya, namun juga cita-cita yang tidak mungkin akan terwujud menurut ia. Buku ini banyak membawa pelajaran kepada kita bukan hanya perjuangan seorang tokoh juga memberi motifasi kepada sipembaca bahwa sesuatu yang tidak mungkin itu akan menjadi kenyataan asalkan kita selalu yakin dan tidak pernah mengeluh.





• Resensi Buku Terkait