Resensi Buku


CINTA SUCI ZAHRANA


Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Ikhwah Publishing House
Tebal : 284
Editor : Evi Candra
Resensiator : Sri Handini


Memang tidak mudah menjadi wanita, harus rela berada lebih rendah dari laki-laki yang memang telah ditakdirkan Allah sebagai pemimpin bagi kaum hawa. Walaupun telah ada persamaan gender antara laki-laki dan perempuan, namun pada hakekatnya laki-laki diciptakan sebagai khalifah (pemimpin.red) di muka bumi dan dan tentunya sebagai pemimpin bagi kaum wanita.

 

Laki-laki bebas menikah pada usia berapapun tanpa ada beban mendalam dipundaknya jika terlambat menikah. Ia bebas memilih menikah diusia yang diinginkan dengan pertimbangan-nya, baik untuk melanjutkan, menuntut ilmu ataupun menggapai keinginan dan cita-citanya. Sedangkan, wanita mempunyai usia produktif, idealnya perempuan menikah sebelum usia 30 tahun sehingga aman melahirkan keturunan. Wanita yang memiliki cita-cita tinggi untuk memperoleh ilmu pengatahuan tinggi harus memperhatikan usia jika ingin memiliki keturunan dengan aman.

 

Hal inilah yang alami oleh Zahrana, tokoh dalam novel Cinta Suci Zahrana karangan Habiburrahman El Shirazy. Novel ini menceritakan kisah seorang wanita yang sangat menggilai prestasi dan ilmu pengetahuan, sehingga melupakan kodratnya sebagai wanita dan tidak memperhatikan usianya yang sudah melewati kepala tiga namun belum juga mendapatkan suami.

 

Dilatarbelakangi kehidupan keluarga yang sederhana membuatnya harus berjuang merubah nasib keluarga, agar tidak lagi dihina karena bukanlah keluarga berpendidikan. Hal ini membuat Zahrana tak mau menyerah menggapai mimpi untuk dapat menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya.

 

Alur cerita yang cukup rumit dengan kisah perjuangan diwarnai konflik untuk mendapatkan pasangan hidup. Novel ini menyuguhkan kisah yang menarik untuk diperhatikan bagi para pencinta Ilmu Pengetahuan yang kerap kali menganggap sepele usia karena berambisi tinggi. Dalam novel ini pengarang melukiskan kehidupan masyarakat yang sederhana, sering terlupakan dan tidak diperhatikan. Namun pengarang berhasil membungkusnya dalam bahasa sastra yang indah dan jelas, sehingga terkesan dan menarik untuk dibaca.

 

Perjuangan Zahrana dimulai setelah menyelesaikan pendidikan menengah dan melanjutkan ke Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Penghinaan terhadap sang ayah membakar semangat Zahrana untuk tidak menyerah dalam pencapaian tujuannya.

 

Untuk mencapai cita-citanya, Zahrana kuliah di dua jurusan berbeda dan universitas yang berbeda pula, yaitu Jurusan Arsitektur di UGM dan Teknik Sipil di Universitas Swasta.

 

Prestasi demi prestasi ia raih, ia termasuk mahasiswi teladan tingkat nasional. Namanya dikenal banyak orang baik itu di kampus ataupun di luar kampus. Tidak sedikit laki-laki yang mendekatinya, tetapi ia tidak mengacuhkanya. Yang ia pikirkan adalah belajar, belajar dan menjadi yang terbaik, di kampus hingga ia pun diwisuda dengan prestasi terbaik.

 

Setelah menyelesaikan studi Zahrana mendapat panggilan  dari UGM untuk ikut mengajar. Ia ditawari menjadi asisten dosen dan akan dikirim ke Belanda untuk melanjutkan S2. Tentu saja ia sangat senang, namun kedua orang tuanya tidak mengizinkan sebab dia adalah anak satu-satunya dan harus tinggal terpisah jika ia mengambil tawaran itu, sedang orang tuanya telah kian beranjak tua. Bagi orang tua apalah arti kebahagiaan tanpa ada anak didekatnya.

 

Akhirnya Zahrana putuskan untuk tidak menerima tawaran yang diidamkannya. Atas bantuan salah seorang dosennya di UGM, ia direkomendasikan sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Mangunkarsa di kota kelahirannya.

 

Disinilah berbagai konflik bermula. Setahun mengajar ayah dan ibunya menawari dirinya untuk menikah. Berbagai tawaran datang melamarnya, namun ia lebih memilih melanjutkan kuliah S2 di ITB karena hanya dirinya yang tidak S2 diantara sesama dosen. Ia pun tidak mau menikah dulu dengan alasan takut tidak konsenterasi dalam perkuliahan.

 

Predikat terbaikpun ia dapatkan di ITB dalam dua tahun, sekaligus memperoleh fasilitas penellitian di Hamburg University. Selain itu, tulisannya juga dimuat di jurnal internasional milik Osaka Institute of Technology tentang arsitektur.

 

Zahrana menerima penghargaan dari unversitas ternama di Beijing, namun ia tak merasa bahagia sepenuhnya sebab kedua orang tuanya hanya menanggapi dengan dingin. Yang diinginkan ayah ibunya adalah anak semata wayangnya menikah dan memberikan mereka cucu agar keturunannya tidak terputus.

 

Namun Zahrana tidak memperhatikan itu, ia lebih memilih berasyik masyuk dengan buku dan perpustakaan. Dari satu penelitian ke penelitain lain. Dari satu artikel ke artikel lain mengejar prestasi ilmiah. Ia tidak berpikir dengan usianya yang sudah 34 tahun sulit untuk mendapatkan pasangan yang cocok untuknya.

 

Itu benar adanya, kesadaran Zahrana akan ketidakpedulian dengan usia dirinya yang telah disebut sebagai perawan tua muncul setelah seorang laki-laki yang merupakan Dekan Fakultasnya sendiri melamarnya. Dekan yang kebejatannya telah menjadi rahasia umum.

 

H. Zukarman, MSc. adalah Dekan Fakultas Teknik Universitas Mangunkarsa Semarang, kefasikannya telah diketahui Zahrana, dan itu telah menjadi rahasia umum bahwa Pak Karman suka main perempuan. Para dosen pun semuanya mengetahui. Beragam bukti menunjukkan betapa amoralnya Pak Karman, pernah tertangkap basah bersama perempuan di sebuah hotel Remang-Remang di daerah Ungaran. Kasusnya tidak diproses sebab ia memberi uang tutup mulut kepada komandan dan personil kepolisian.

 

Tidak hanya diuji dengan cobaan dari Pak Karman, Zahrana juga dilamar oleh Didik Hamdani, MT. salah seorang karyawan di Universitas Mangunkarsa Semarang. Ia dilamar setelah lamaran Pak Karman ditolak secara baik-baik. Pak didik berniat menjadikan Zahrana sebagai isteri kedua dengan mengatakan akan berlaku adil untuk isteri-isterinya.

 

Belum cukup penderitaan Zahrana ia mendapatkan terror dari orang yang tak dikenal yang berujung pada kematin calon suami yang ia tunggu-tunggu dengan penuh kesabaran untuk mendapatkannya setelah Zahrana pindah dari Universitas Mangunkarsa ke Sekolah Teknik Montir Al-Falah Mranggen, Demak. Sebuah  sekolah yang berada di payung Yayasan Al-Fatah yang terkelnal di Mranggen.

 

Sekaligus ia berharap disana mendapatkan pasangan yang bisa membimbing di bidang keagamaan dan menjadi imam untuknya. Dengan bantuan K.H. Amir  Shohiq Arselan dan isterinya Nyai Sa’adah pengasuh utama Pesantren Al-Fatah ia berharap ada santri yang cocok menjadi pasangannya. Setelah mendapatkan calon yang cocok dengan perjuangan barat ia mencari jodoh. Pada akhirnya calon suaminya meninggal ditabrak kerata api pada H-1 hari pernikahannya.

 

Pendaritaanya ditambah dengan meninggalnya sang ayah disebabkan kena serangan jantung. Pak Munajat memang telah renta, tekanan yang dialaminya selama ini dengan tidak dikarunia calon menantu yang diidamkan dari anak semata wayangnya termasuk pemicu serangan jantungnya.

 

Terus bagaimana perjuangan seorang Zahrana untuk menemukan cinta sucinya? Berbagai cobaan ia jalani dengan keteguhan dan kesabaran.

 

Penulis novel ini mengisahkan cerita dengan rentetan-rentetan konflik yang terkadang susah ditebak. Ia lebih memfokuskan pada penokohan seorang Zahrana dalam perjuangan mencari cinta sejati. Alur yang maju-mundur (campuran) yang membuat kita ingin tahu kisah lanjutannya.

 

Pengarang menyuguhkan kisah sederhana namun membangun jiwa. Memberikan motivasi menemukan pilihan yang tepat dalam kehidupan. Untuk melakukan terbaik dalam pencapaian kebahagiaan, keseimbangan dalam hidup dan pencarian kebahagiaan sejati.  

 

Kelemahan dan kelebihan sifatnya relatif tergantung cara pandang seseorang. Tiap orang memiliki pandangan yang berbada, begitu juga dengan kesukaan dan situasi yang dialaminya ketika membaca mempangaruhi panilainnya terhadap novel. Temukan jawaban kelanjutan kisah perjuangan Zahrana serta pesan moral yang disampaikan pengarang dalam novel ini.





• Resensi Buku Terkait