Resensi Buku


Asmara di Atas Haram


Pengarang : Zulkifli L. Muchdi
Penerbit : Erlangga
Tebal : 465
Editor : Sri Handini
Resensiator : Zulfikar Efendi


“Lelaki berjilbab” yang rela ibunya meninggal dunia dibanding menggunakan dana haram tak bertuan sebesar 5 Miliar yang masuk kereningnya. Dan meyakinkan cinta pada hati yang satu diantara tiga pelabuhan hati bidadari-bidadari cantik.

 

Penggalan dari segelintir kisah dalam novel "Asmara di Atas Haram". Seorang pemuda tampan bernama Yaser Al Banjary, hidup dalam kesederhanaan bersama ibu dan tiga adik perempuan yang memegang teguh keimanan terhadap Allah SWT. Sungguh mulia pemuda tampan tersebut, dalam keadaan yang mendesak dan sangat membutuhkan biaya berobat ibunya sebesar 60 juta rupiah ia harus kehilangan uang yang ada padanya sebesar 2 juta rupiah karena dijambret.  Namun tidak pernah terfikir sedikitpun oelehnya untuk menggunakan uang tak bertuan senilai 5 Miliar rupiah yang masuk kerekeningnya, Yaser lebih rela ibunya meninggal dibanding menggunakan uang yang bukan miliknya, pemuda tampan ini sangat memelihara dirinya dari hal-hal yang syubhat.

 

Qari yang menjuarai Musabaqah Tilawatir Qur’an (MTQ) tingakat nasional di Provinsi Banten, dan sekaligus seorang wartawan Freelance mendapatkan hadiah untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5. Ini berkat dari ketekunannya dalam mempelajari Al-Qur’an dan bercita-cita ingin menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah SWT dan berharap bisa seperti ayahnya yaitu sebagai seorang guru ngaji yang mendidik Yaser dalam mempelajari Al-Qur’an, Yaser sangat memuji ketauladanan ayahnya.

 

Sebelum berangkat ketanah haram, Yaser dilanda peristiwa yang sangat menggemparkan hatinya, esok hari dia akan pergi menjumpai tanah haram malah ia di hadapkan dengan kepergian sang ibu. Ibunya yang merupakan pensiunan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus pergi menghadap kehadirat Allah SWT.

 

Hari dilaluinya hingga Makkah ia telapaki. di tanah haram inilah qari tampan memulai perjalanan cinta dan membenarkan keteguhan imanya, kisah ini bermula pada seorang qariah cantik bernama Istiqamah yang juga menjuarai MTQ tingkat nasional, sama seperti Yaser. Istiqamah lebih dahulu pergi ke tanah haram untuk mengerjakan ibadah haji di bandingkan Yaser dan juga hadiah menjuarai MTQ tingkat nasional.

 

Yaser sangat mendambakan seorang wanita bernama Istiqamah ini, hingga sebelum berangkat ke haji Yaser sempat menceritakan tentang perempuan dengan nama Istiqamah kepada ibunya, dan mengakui kalau ia mencintai qariah cantik tersebut. Ketika sama-sama ikut MTQ, mereka sama-sama menadapat juara dan hadiah untuk pergi melaksanakan rukun Islam yang ke-5 ini.

 

Cinta mereka berawal dari perlombaan MTQ tingkat nasional di Banjarmasin dan menemui titik terangnya di negeri para nabi, Yaser mengutarakan perasaannya pada Istiqamah yaitu di bukit Jabal Rahmah, dimana Nabi Adam dan Siti Hawa di pertemukan, pada saat yang bertepatan itu pula seorang pemuda bernama Ferry anak dari seorang menteri mengutarakan isi hatinya, dan langsung berniat untuk melamar Istiqamah. Perjuangan untuk merebut hati Istoqamah memang tidaklah mudah, Yaser harus berhadapan dengan seorang anak menteri yang tak kalah tampan dari dirinya.

 

Persaingan untuk merebut hati bidadari yang bernama Istiqamah antara Yaser dan Ferry diakui sangat sportif, tidak ada pemaksaan, meski Fery bisa saja menggunakan kekayaannya dan fasilitas yang ia miliki untuk mendapatkan Istiqamah, namun itu tidak berlaku bagi mereka. Yaser maupun Fery memberikan kebebasan bagi Istiqamah untuk memilih di antara mereka tidak hanya bersaing dengan Fery, Yaser juga dihadapkan pada pilihan dua orang wanita cantik bernama Eva yang di kenalnya di bukit Safa dan Sofia anak pengusaha batu bara serta murid yang di ajari mengaji oleh Yaser dahulunya.

 

Hingga akhirnya Yaser jua lah yang menjadi pelabuhan cinta Istiqamah, jawaban cinta Yaser disaksikan bukit Quzah. Namun Fery tak putus asa, kegigihan Fery ternyata berhasil dengan merebut hati seorang dokter, bidadari cantik belahan Istiqamah, yang sama-sama mengerjakan haji serta teman satu kamar Istiqamah. Sebut saja namanya adalah Eliza, ia tak kalah indahnya dari Istiqamah, hingga kisah asmara antara Yaser dan Istiqamah serta Ferry dan Eliza bernaungan purnama dan bertabur Asmara di Atas Haram saat merjeka telah selesai melaksanakan ihram.

 

Novel karangan zulkifli L. Muchdi yang lahir dan besar di Banjarmasin, Kalimantan selatan, 5 juli 1959 ini tidak hanya menyuguhkan kisah asmara muda mudi semata, namun dalam novel ini, Zulkifli juga menjelaskan bagaimana cara-cara dan etika berhaji. Di dalam novel yang berjudul Asmara di Atas Haram ini pedoman berhajipun kita dapatkan, kita tidak hanya didendangkan dengan kisah asmara yang cukup sempurna.





• Resensi Buku Terkait