Resensi Buku


Revolusi Kaum Guci


Pengarang : Sutan Zaili Asril
Penerbit : PT. Padang Ruang Kreatifitas Promosi
Tebal : 425
Editor : Ridho Permana
Resensiator : Evi Candra


Tekad Sarjana Melakukan Perubahan


Melakukan perubahan di tengah masyarakat nagari ke arah yang lebih membutuhkan tekad yang kuat, yang tidak bisa terpisahkan dengan niat yang kuat pula, maupun dukungan  pemuka dan perangkat nagari. Sebab, masyarakat nagari mempunyai sikap yang mewarisi nilai-nial dan norma kegenerasi berikutnya sehingga sulit untuk menerima perubahan. Melakukan perubahan dengan tindakan maupun moral yang baik tentu tidak menimbulkan masalah selama tindakan itu bisa dijadikan contoh oleh masyarakat nagari, maka akan jadi referensi atau contoh karena ciri masyarakat nagari yang homogen.

 

Seperti dalam novel “Revolusi Kaum” guci karangan Sutan Zaili Asril, menceritakan seorang pemuda yang mendapat gelar doktorandus (sarjana) dan mantan aktivis kampus yang bernama Myannaim, membulatkan tekad untuk menjadikan surau sebagai sentral kegiatan masyarakat nagari, dan memilih menetap tinggal dikampung halamannya untuk melakukan perubahan disegala bidang. Sehingga menolak kesempatan emas untuk menjadi dosen yang telah ditawarkan rektornya ketika baru saja menamatkan kuliah, dan ia menolak untuk bergabung dengan seniornya di kekuatan sosial politik terbesar hingga dipastikan Myannaim akan menjadi anggota parlemen tingkat satu.

 

Keputusan Myannaim untuk tinggal di kampung sempat membuat ayah Myannaim, Sutan Mangkuto kecewa, sebab Sutan mangkuto membayangkan bahwa anaknya yang lulus perguruan tinggi yang begitu rapi. Namun. seiring berjalannya waktu, Sutan Mangkuto dapat menerima kerja keras Myannaim, setidaknya selama enam bulan ini perubahan kaum guci baik segi ekonomi maupun sosial yang usahakan dan dimotori Myannaim membuahkan hasil.

 

Apa yang telah dilakukan Myannaim menjadi contoh bagi masyarakat kampung terutama pemuda. Perubahan sosial dan ekonomi yang dilakukan Myanaim mempunyai dampak yang besar, sehingga membuat nagari lain meniru apa yang telah dilakukan Myannaim, dan menjadikan Myannaim sebagai tempat beriya (bertanya) dalam melakukan perubahan nagari.

 

Myainnaim tertarik dan memilih tinggal di kampung setelah melakukan penelitian skripsi widusanya, tentang peranan surau. Meskipun mendapat penolakan dari kekasih Myannaim, Nurhayati karena Myainnaim telah mengambil keputusan, sebelum membicarakannya dengan Nurhayati, akibatnya Myainnaim membuat Nurhayati kecewa dan pergi. Myannaim telah membulatkan tekadnya untuk melakukan perubahan, walaupun ia pernah membayangkan Nurhayati pendamping hidup. Akirnya, mereka pisah.

 

Novel revolusi kaum guci ini penting menjadi acuan mahasiswa dan sarjana, karena perubahan itu ditangan mahasiswa kedepannya, begitu pula para sarjana supaya dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkanya selama di pergruan tinggi untuk dapat mengaplikasikannya di tengah masyarakat.

 

Novel yang menjadi kekuatannya pada kekuaratan tema yang membangkitkan lagi jadi diri mahasiswa dan sarjana  untuk melakukan perubahan, sesuai dengan peranan mahasiswa sebagai agent of change, dan ketika dibaca novel ini mengalir. Novel revolusi kaum guci novel pertama yang dari trilogi novel Sutan Zaili, novel selanjutnya "jalan Terjal dan Berliku"  dan "Mimpi-Mimpi Myan".





• Resensi Buku Terkait