Resensi Buku


Mozaik Islam Nusantara Seri Agama Budaya dan Negara


Pengarang : Dosen, Peneliti, cendekiawan, Guru Besar Iain IB Padang
Penerbit : : Imam Bonjol Press
Tebal : 658
Editor : Redaksi
Resensiator : Iis Sholihat Damanik


Kebudayaan Islam di Negeri Minang


Barang kali mendengar 658 halaman, banyak dari kita yang enggan membacanya. Tapi lain halnya dengan orang yang penasaran tentang isi serta makna terkandung dalam buku ini, ketebalan buku bukanlah penghambat atau penghalang baginya untuk terus membaca. Buku yang berjudul “Mozaik Islam Nusantara Seri Agama Budaya Nusantara” merupakan bagian makna-makna baru yang dihasilkan para Akademisi-dosen, peneliti dan guru besar IAIN Imam Bonjol Padang serta para cendekiawan muslim lainnya. Ditulis dengan perspektif berbeda dalam paradigma yang dialami oleh masing-masing penulis.

 

Buku ini menceritakan tentang sejarah budaya Islam di Minangkabau yang memberikan pengetahuan dan wawasan luas bagi kita, mulai dari awal mula masuknya budaya Islam di Minangkabau hingga perguruan tinggi Islam, IAIN Imam Bonjol Padang. Tidak salah bila buku ini berjudul Mozaik Islam Nusantara Seri Agama Budaya dan Negara, karena kemajemukan Islam di Indonesia bagaikan sebuah mozaik, sebagai proses mewarnai dan diwarnai yang berbeda berkumpul menjadi satu bagian mozaik. Karena “Islam-Indonesia” tanpa sadar dihadapkan pada fakta bahwa Islam di negeri ini sangat kaya. Namun tetap saja akan ada yang berbeda antara Islam di satu pulau dengan pulau lainnya. Tetapi pembahasan yang ada di buku ini lebih mengacu kepada pembahasan sejarah budaya Islam di Minangkabau.

 

Buku ini terdiri dari lima bagian, masing-masing bagiannya berisi 10 judul dengan tema yang berbeda. Salah satu judul dalam buku ini menjelaskan fakta masuknya Islam ke Sumatera Barat (Sumbar) : “Islam Pantai : Fenomena Gerbang Selatan Sumatera Barat” yang ditulis oleh Yulizal Yunus. Ia mengungkapkan bahwa untuk memastikan kapan Islam masuk ke Minangkabau sama rumitnya dengan kepastian dimensi waktu kerajaan dan jaringan raja-raja Minangkabau. Justru bukti sejarah domestik yang ada tidak cukup mengimbangi kekayaan tradisi lisan tentang nama besar Minangkabau sebagai sentral awal Islam dan gudang ulama. Namun satu yang penting, Islam dalam tumbuh dan berkembang di kawasan ini bersamaan dengan kesadaran semangat Islam Melayu dan berkobarnya nasionalisme melawan imprealisme asing dan kolonialisme yang menggerogoti wilayah ini.

 

Adapun kelebihan buku ini adalah mampu memberi pemahaman yang luas dan dalam terhadap kajian sejarah budaya. Akan tetapi yang namanya kelebihan pasti terdapat kekurangan, adapun kekurangan buku ini adalah terdapat banyak kata yang salah dan kurang dalam penulisannya. Meskipun demikian bukan berarti ini menjadi penghalang bagi kita agar terus membacanya, semoga dengan adanya buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kita yang beragama Islam dan berbudaya agar lebih mencintai agama dan budaya.





• Resensi Buku Terkait