Resensi Buku


40 tahun Jadi Wartawan, Karni Ilyas Lahir Untuk Berita


Pengarang : Fenty Effendy
Penerbit : Buku Kompas
Tebal : 396
Editor : Redaksi
Resensiator : Novia Amirah Azmi


Jadi Wartawan Karena Ingin Terkenal

 

Siapa yang tidak kenal Karni Ilyas? Sosoknya terasa begitu penting di negeri ini. Gambar Karni pada sampul bukunya dengan wajah serius dan tangan di bagian mulut, seakan mencerminkan seperti apa dirinya. Menjadi wartawan selama 40 tahun dan 20 tahun diantaranya menjadi Pemimpin Redaksi tidaklah mudah. Perjuangan panjang mesti dilalui seorang Karni Ilyas sebelum menjadi orang tenar seperti sekarang.

 

Buku setebal 3 cm ini menjelaskan lika-liku hidupnya. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pemilik suara serak ini di masa kecilnya menjadi pengumpul debu emas dari trotoar di depan toko emas di Pasar Goan Hoat Padang. Ia pun harus berjalan kaki menjajakan Koran ke pelabuhan Teluk Bayur yang berjarak sembilan kilometer dari rumahnya. Bahkan, Karni nyaris putus sekolah karena tidak punya biaya. Kini, ia terkenal dengan berita-berita eksklusif yang dihasilkannya dan acara TV yang dipandunya, Indonesia Lawyers Club (ILC).

 

“Berita itu harus diburu, jangan menunggu tahi hanyut”. Ungkapan itu sering dilontarkan Sukarni Ilyas jika merasa tidak puas dengan hasil liputan wartawan-wartawannya. Ia pun tidak segan-segan turun langsung ke lapangan seperti kasus penangkapan Noerdin M.Top di Wonosobo tahun 2005. Karni yang saat itu menjadi Pemred ANTV tidak ingin melewatkan momen langka. Malang baginya, ia tergelincir saat akan mandi di sebuah losmen, sehingga tangannya patah. Meski demikian ia tetap melanjutkan investigasi meski dengan kondisi yang tidak sehat. Keras, disiplin, dan gigih. Begitulah gambaran kepribadiaanya.

 

Hidup Karni tidak selalu mulus dan indah. Dalam umurnya yang sangat belia, kemalangan datang beruntun dalam hitungan tiga tahun. Mulai dari teror perang dan rusaknya rumah cantik Amai Ibah, kebakaran rumah di Kampung Jao, dan yang paling pahit dari segala yang pahit ialah meninggalnya sang ibu, Syamsinar, untuk selama-lamanya. Sulung dari dua bersaudara ini, banting tulang untuk membantu perekonomian keluarganya. Maklum, Ilyas Sutan Nagari, ayahnya, hanyalah tukang jahit di Pasar Raya Padang.

 

Suatu hari ketika berjalan di kawasan pantai Padang,  Karni menyampaikan keinginannya untuk menjadi wartawan. Kemudian sepupunya bertanya, Kenapa mau jadi wartawan?, dengan polos Karni menjawab, “Saya ingin terkenal”. Karni berkeyakinan suatu saat namanya akan terpajang di Koran. Tampaknya mimpi itu telah terwujud. Karir Karni sebagai seorang jurnalis dimulai dari reporter di harian Suara Karya (1972-1978), Majalah Tempo, hingga menjabat Redaktur Pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal (1978-1994), Pemimpin Redaksi majalah FORUM Keadilan (1992-1999), Direktur Pemberitaan dan Hubungan Korporat SCTV (1999-2005), Direktur Pemberitaan, Olahraga, dan Komunikasi Korporat ANTV (2005-2008), hingga menjadi Direktur/Pemimpin Redaksi TV One sejak 2008.   

 

Dalam buku ini dijelaskan dengan lengkap bagaimana perjuangan Karni memburu Kartika hingga ke Geneva, mengungkap kisah Siti Nurbaya 1973, eksekusi Henky Tupanwael, pembangunan perumahan pantai indah kapuk oleh sang “Raja Properti” Ciputra dan korupsi Eddy Tansil. Untuk mewujudkan keinginannya menjadi jurnalis, Karni menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta. Namun menyadari bahwa Hukum lebih memikat hatinya, “Urang Awak” ini pun pindah haluan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia hingga menjadi pakar hukum seperti sekarang.

 

Karni tidak hanya memikirkan dirinya semata. Di kampung halamannya, Balingka, ia mendirikan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Madrasah Aliyah (MA). Karni sadar betul bahwa kebodohan menyebabkan kekufuran, jadi untuk memerangi kekufuran, maka pendidikan harus dimajukan. Ia juga berpesan kepada siswa/i untuk mulai bermimpi. “Boleh mimpi jadi bupati, gubernur, menteri bahkan presiden sekalipun. Atau bila bermimpi ingin seperti Karni ilyas. Tapi kuncinya satu : kerja keras, kerja keras, dan kerja keras”.

 

Karni Ilyas Lahir untuk berita merupakan buku Biografi keenam karya Fenty Effendy. Fenty merupakan pendiri National Press Club of Indonesia (NPSI). Buku ini sangat bagus untuk dibaca, apalagi bagi yang berminat menjadi seorang wartawan. Meskipun berukuran besar dan tebal, namun buku ini sangatlah ringan, sehingga mudah dibawa kemana saja. Kutipan tulisan Karni dalam berbagai media terasa sangatlah banyak, sedangkan foto-foto terasa masih kurang. Dengan harga yang relatif terjangkau untuk ukuran sebuah biografi, buku ini terasa pantas untuk segera berada di tangan anda. 





• Resensi Buku Terkait