Resensi Buku


Panduan Praktis Menjadi Pemimpin yang Disukai dan Diidolakan Banyak Orang


Pengarang : Saleem Hardja Sumarna
Penerbit : Galmas Publisher
Tebal : 132
Editor : Redaksi
Resensiator : Herman


Menyemai Pemimpin yang Bermoral dan Berkarakter

Mati satu tumbuh seribu. Pepatah inilah yang cocok untuk menggambarkan kondisi bangsa Indonesia dimana kejahatan korupsi semakin subur dilakoni oleh para penguasa. Ada beberapa kasus korupsi yang hingga kini terus menyedot perhatian masyarakat, seperti kasus Hambalang, Bank Century, kasus impor sapi, dan beberapa hari yang lalu publik dikejutkan dengan ditangkapnya Rudi Rubiandini oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diduga menerima suap sebesar USD 700 ribu.

 

Beberapa kasus korupsi yang melibatkan para petinggi di republik ini menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami krisis moral. Banyak pemimpin di negeri ini, baik di tingkat pusat maupun daerah yang tersandung kasus korupsi. Korupsi tidak hanya dipratekkan oleh individu saja, akan tetapi tindakan ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara kolektif oleh para penguasa.

 

Sebagian dari pemimpin kita terus terjangkit krisis moral dan keteladanan. Tentu saja kita sangat miris melihat fenomena yang menimpa pemimpin kita saat ini yang suka melakukan korupsi, gaya hidup hedonis yang merupakan tindakan yang sering dipertontonkan wakil rakyat, dan bahkan di ruang sidang ada yang menonton video porno.

 

Buku berjudul Panduan Praktis Menjadi Pemimpin yang Disukai dan Diidolakan Banyak Orang karya Saleem Hardja Sumarna ingin menbedah bagaimana seharusnya menjadi pemimpin. Tentunya pemimpin yang didambakan oleh rakyat adalah pemimpin yang tidak hanya pandai menjual janji belaka, tetapi pemimpin yang bisa memberikan kesejahteraan, keadilan dan berperilaku baik. Sikap inilah yang nantinya akan ditiru oleh pengikutnya.

 

Pemimpin yang baik dapat menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. Selain itu seorang pemimpin juga harus bisa bersikap ing ngarsa, sung tuladha, yaitu mimpi menjadikan dirinya sebagai contoh dan teladan yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya (hlm 11).

 

Kemunduran Mentalitas

Republik ini sedang mengalami krisis kepemimpinan yang cukup mengkhawatirkan. Para pemimpin (wakil rakyat) kita masih belum dapat memenuhi kesejahteraan rakyat, baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan hidup.  Kita masih dapat melihat di lingkungan sekitar kita, kemiskinan masih merajalela, pendidikan belum merata, terjadinya kesenjangan sosial yang tinggi antara si kaya dan si miskin, dan berbagai permasalahan sosial lainnya.

 

Keteladanan pemimpin saat ini menjadi suatu hal yang langka dan sulit kita temukan. Pemimpin harus mampu memprioritaskan kepentingan rakyat kecil dibandingkan kepentingan lainnya, termasuk kepentingan pribadi maupun kepentingan partainya. Krisis moral dan keteladanan telah menggerogoti kinerja pemimpin yang lambat laun akan mengurangi kepercayaan masyarakat, khususnya generasi muda. Para pemuda akan meniru segala tindakan pemimpinnya. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan upaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki kemunduran mentalitas para pemimpin di negeri ini.

 

Kepemimpinan menuntut perubahan dari dalam hati dan juga menuntut perubahan karakter. Kepemimpinan yang melayani, dimulai dari dalam diri dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpin. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk bisa menjadi pemimpin yang diterima oleh rakyat yang dipimpinnya (hlm 48).

 

Rakyat sudah terlalu jenuh dengan sederetan pemimpin yang hanya pintar mengumbar janji. Saat ini rakyat hanya butuh pemimpin teladan, yaitu pemimpin yang memiliki integritas dan mampu menunjukkan sikap baik yang dapat diteladani oleh rakyat. Di samping itu, pemimpin harus memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan yang memihak pada kepentingan rakyat dan memprioritaskan segala sesuatu hanya untuk kepentingan rakyat dibandingkan kepentingan pribadi maupun kepentingan lainnya.

 

Buku setebal 132 halaman ini sangat layak dibaca. Sebab, buku ini menyuguhkan optimisme akan hadirnya pemimpin yang bermoral dan berkarakter meskipun saat ini bangsa kita berada di tengah ancaman krisis kepemimpinan. Selain itu, di dalamnya juga dipaparkan apa dan bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang didambakan oleh rakyat, yaitu pemimpin yang mampu memberikan keteladanan, melayani kepentingan rakyat dan pemimpin yang bisa membawa republik ini menjadi lebih baik.

*Penulis lepas, ketua Rumah Literasi Indonesia (RuLinDO) Ciputat





• Resensi Buku Terkait