Resensi Buku


Tumbal Politik Cikeas


Pengarang : Ma’mun Murod Al-Barbasy
Penerbit : Pijar Ilmu, 2013
Tebal : 282
Editor : Nela Gusti Hasanah
Resensiator : Taufiq Siddiq


 

Menyingkap Anas sebagai Tumbal Politik

Siapa yang menyangka, berawal dari analisis yang dilakukan oeh Ma'mun Murod Al-Barbasy melalui akun jejaring sosialnya, Facebook, terhadap kasus orang yang pertama kali menyumpah dirinya rela digantung di Monas. Siapa lagi kalau bukan Anas Urbaningrum. Akhirnya ia mampu melahirkan sebuah buku. Nama Anas memang sempat sangat panas di bumi maritim ini. Ia sedang di puncak kairirnya setelah dinobatkan sebagai pemegang tahta tertinggi Partai Demokrat saat dijamah oleh kasus busuk Korupsi.

 

Kasus Anas pun seperti bola salju yang terus mengguling dan membesar. Namun, hal ini dipandang berbeda oleh Ma'mun, ia merasa ada yang menjanggal dalam kasus ini. Ma'mun meluapkan keresahanya satu demi satu dinding fb-nya dan pada akhirnya diwarnai dengan kritikanya terhadap kasus anas, hingga Ma'mun mengumpulkan 28 statusnya dan memetamorfosakannya menjadi sebuah buku.

 

"Tumbal Politik Cikeas", menyorot keganjalan terhadap kasus Anas, Ma'mun membalut bukunya dengan Kata "Tumbal", Anas dianalogikan sebagai korban dari sebuah ritual busuk politik hari ini. Hilangnya sportifitas karena persaingan curang dalam memenagakan Politik.

 

Tepatnya 23 September 2011, status pertama Ma'mun berkenaan dengan penyelidikan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terhadap Anas. Ma'mun berstatus "Sama Kasus, Beda Sikap". Empat kata ini sangat bisa menggambarkan bagaimana sikap yang diambil Anas, ia hanya didampingi oleh satu pengawal dan sopirnya sebagaimana ketentuan dari KPK. Tidak seperti tamu KPK yang kebanyakan ditemani oleh preman dan orang tegap. Penjagaan itupun ditujukankan terkhusus kepada awak media agar bisa mengelak, sedangkan Anas dengan gentle-nya malah meladeni para awak media.

 

Keberanian Ma'mun dalam salah satu statusnya mengumber maksud media yang mengambil kesempatan dalam kasus Anas.

"Anas, Hambalang dan Media Masa" (14 Februari 2012). Ma'mun mempertanyakan kepentingan apa yang membuat media sangat berambisi terhadap kasus Anas. Bahkan ia bersasumsi ada kekuatan besar dibalik media masa. Pada halaman 15 buku ini Ma'mun blak blakan soal tersebut, secara terang-terangan ia menyebut para dalang dibalik media masa, Viva News dkk (TV One & ANTV) berdalangkan oleh sang kaya raya Aburizal Bakri Calon Presiden 2014, Metro TV dengan Sang Resotirasinya, Surya Paloh, Nasdem, Hari Tanoe yang mengusai MNC TV dan jajarannya, hingga Media Online Tempo.co oleh Megawati PDIP.

 

Tentu secara logis, ada udang dibalik batu ada maksud dibalik tindakan, mustahil tidak ada maksud besar dari media masa yang mengumbar itu semua meski memang aktivitas media masa.

 

Ma'mun juga menyingkap rahasia dibalik penetapan Anas sebagai tersangka kasus Hambalang, dalam status Fb-nya (24/03/2014), "Anas dan KPK yang Tertekan". dalam penjelasan Ma'maun membeberkan kronoligis penetapan Anas sebagai tersangka, Ma'mun mendapatkan sebuah SMS yang menyatakan ada konsiparasi dibalik penetapan tersangkanya Anas. SMS tersebut menyebutkan, “Jika malam ini Anas belum ditetapkan sebagai tersangka, beberapa anggota KPK akan diciduk oleh polisi”. Hal ini memperjelas memang ada konspirasi dibalik ini.

 

Anas memang tidak dapat dipisahkan dari SBY, kedekatan ini digambarkan oleh Ma’mun dalam satutusnya baru-baru ini, “Anas Loyalis SBY” (25/04/2013). Beruntung rasanya SBY mempunyanyi loyalis seperti Anas, hal ini yang disampaikan oleh Ma’mun. Bagaimana tidak, setelah Anas mendapat kepercayaan mengkomandoi Partai Demokrat ia harus siap dibading-bandingkan dengan masa kepemiminan SBY dan disinilah loyalitas Anas tampak.

 

Sebagai kader sukses Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Anas juga harus bisa berpandai-pandai dengan para senior di HMI, perang urat syaraf antara SBY dengan beberapa Petinggi di HMI membuat Anas ditimpa buah simalakama dan itu terjadi loyalitas Anas membuat ia mendapatkan padangan negatif oleh seniornya. Pada Halaman 216 Anas mengungkapkan bagaimana loyalitasnya terhadap SBY. “Saya Menganggap SBY bukan hanya petinggi partai namun guru dan orang tua saya.”

 

Ma’mun Murod Al-Barbasy adalah Serjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Muhamadiyah Malang, Dosen Ilmu Polotik Fakultas Ilmu Sosial Politik Univesitas Muhamadiyah Jakarta, sejak kasus Anas mecuat ia dicopot dari Pengurus Harian DPP Demokrat, dan dicoret dari Pengurus Harian DPP Demokrat.

 

Bagaimanapun penilaian terhadap buku ini, presepsi terhadap buku yang cenderung provokatif tak bisa dielakan, apalai kedekatan yang ada antar penulis dan Anas cukup dekat. Namun hal ini sudah diwanti-wanti oleh Ma’mun dalam kata pengantarnya bahwa buku merupakan hasi dari data yang valid dan wawancara yang eklusif dengan Anas Urbaningrum,.





• Resensi Buku Terkait