Resensi Buku


Kutub Tak Bersalju


Pengarang : Amika An (Rahmi Syalfitri Riska)
Penerbit : Indie Publishing
Tebal : 228
Editor : Nela Gusti Hasanah
Resensiator : Bustin


Pesona yang Terpendam


Solok merupakan nama salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Siapa sangka, dataran tinggi ini ternyata menyimpan berjuta keindahan. Bukan hanya keindahan alam, tetapi juga budaya, bahasa, adat, seni dan sosial masyarakatnya. Setidaknya, itulah yang ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembaca dalam novel “Kutub tak Bersalju” ini. Hal ini diperjelas dengan ungkapan Fatwa, tokoh utama dalam novel ini.” Mister… Siapa yang mengenalkan surga kami padamu? Adakah tempat seindah ini di negaramu?” (halaman : 81)

 

Istilah “Kutub tak Bersalju” digunakan oleh penulis untuk menggambarkan suhu di Kabupaten Solok. Negeri dingin yang hampir menyamai dinginnya kutub, namun tak pernah diselimuti salju. Mandi di sana seperti mandi es. Tetapi bukan dengan air yang berasal dari lelehan es, namun dinginnyalah yang menyerupai es. Seperti pemaparan penulis di bagian awal novel ini “Dingin menambah gerutu semut-semut yang ingin segera keluar sarang. Dedaunan segar seperti berada dalam freezer, tulangnya tak sanggup melawan dinginnya pagi.” Tempat inilah yang menjadi latar cerita dalam novel ini. 

 

Pesona wisata alam

Gunung Talang dan danau kecilnya (Danau Talang) mungkin masih asing di telinga. Pada halaman 60 dalam novel ini, penulis berusaha memenggambarkannya pemandangan Gunung Talang. Gunung cantik yang menjulang di tengah-tengah empat kecamatan, yaitu Kecamatan Danau Kembar, Lembah Gumanti, Lembah Jaya dan Gunung Talang. Gunung ini bertipe stratovolcano dan mempunyai ketinggian 2.597 m, berada 2.576 meter di atas permukaan laut. Gunung Talang merupakan salah satu dari gunung api aktif di Sumatera Barat. Salah satu kawahnya menjadi sebuah danau. Danau itulah yang kemudian diberi nama Gunung Talang. Keindahan yang mungkin belum banyak dinikmati wisatawan di banding  Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

 

Wisata lainnya yaitu perkebunan teh. Pada halaman 152, penulis berusaha mempromosikan bahwa  keindahan kebun teh yang berada di kaki Gunung Talang ini tak kalah hebatnya dengan yang ada di puncak dan lembah yang ada di Jawa Barat.  Kebanyakan kita ketika mendengar kata-kata “ perkebunan teh”, kita langsung berpikir tentang keindahan Dataran Tinggi Bogor, dengan udaranya yang sejuk dan pemandangannya yang hijau ranau. Dalam novel ini, penulis berusaha membuka mata  pembaca bahwa untuk menikmati perkebunan teh, kini tak hanya di Kota Bogor. Tetapi Propinsi Sumatera Barat juga punya perkebunan teh dengan udara yang juga sejuk  tentunya. Serunya lagi, daerah ini jauh dari bencana kemacetan.

 

Pada halaman 82, lagi lagi penulis dengan bahasanya yang ringan dan mengalir, menggambarkan keelokan alam Danau Kembar dengan makanan khasnya, pensi. Danau Kembar adalah dua danau yang hampir berdekatan, satu bernama Danau Di Atas dan yang lain bernama Danau Di Bawah. Dalam novel ini, penulis tak hanya mengungkap ramainya kunjungan ke Danau Di Atas, tetapi juga menyibak mistis Danau Di Bawah.  Di Danau Di Atas, wisatawan ramai bermain boat sembari menikmati lezatnya pensi. Sedangkan Danau Di Bawah sama sekali belum dijamah oleh manusia karena mistis munculnya ikan raksasa dari permukaan danau tersebut. Sejak saat itu, Danau Di Bawah memiliki misteri tersendiri dalam pikiran masyarakat di sana.

 

Selanjutnya, pada halaman 207 dan beberapa halaman lainnya, penulis memperkenalkan wisata Danau Singkarak dengan makanan khasnya, ikan bilih. Banyak lagi wisata dan keindahan alam Kabupaten Solok yang penulis perkenalkan dalam novel ini. Wisata-wisata alam tersebut kebanyakan menyimpan pesona tersendiri namun belum dikenal oleh masyarakat secara luas. 

 

Adat, Budaya dan Sosial

Selain keindahan wisata alam, dalam novel ini penulis juga memaparkan tentang adat, budaya dan sosial masyarakat .  Seperti, perayaan mambadak saat Fatwa (tokoh utama) masih bayi. Melalui perayaan ini, pada halaman 11, penulis memperkenalkan betapa tingginya sifat gotong royong di antara masyarakat. Masing masing orang tau tugasnya masing-masing tanpa harus dikomandoi terlebih dahulu. Seperti pada ungkapan penulis . “ Etek-etek subalah rumah datang tanpa menunggu panggilan. Para sumandan telah lebih dulu datang. Pembagian tugas terjadi secara alami dan tanpa komando”

 

Selain memperkenalkan jiwa sosial, melalui perayaan ini penulis memperkenalkan makanan-makanan tradisional di daerah ini. Seperti, galamai, pinyaran, lapek kundue dan banyak lagi makanan khas lainnya. Melalui perayaan ini juga penulis menjelaskan peran bako dalam perisriwa mambadak/turun mandi.

 

Selanjutnya, pada halaman 51, penulis dengan petatah petitih menjelaskan tentang posisi dan fungsi mamak yang saat ini kurang diperhatikan. Fungsi mereka secara adat berangsur redup ditelan kesibukan masing-masing. Mereka lebih mengutamakan anak dan istri, tanpa mempedulikan perkembangan keponakannya.  Seharusnya, pepatah “anak dipangku kamanakan dibimbiang”  dapat diaplikasikan, bukan sekadar pelengkap catatan Budaya Alam Minangkabau. 

 

Kegigihan Gadis Danau Kembar

Dalam novel ini, penulis mengisahkan kegigihan dan kesabaran seorang perempuan berusia tujuh tahun, Fatwa Tauqan. Seorang gadis kecil, bintang yang tengah bersinar di antara gugusan bintang lainnya. Lahir dari keluarga yang begitu memahami arti penting sosialisasi. Ibu yang penyayang, nenek yang cerdas dan peran sentral mamak, sebagai orang yang kasih sayangnya berada di urutan pertama setelah orang tua. Melalui proses penanaman karakter, telah membentuk kemenakan lincah itu menjadi pribadi yang cerdas.

 

Hingga suatu ketika, lalapan api yang menghanguskan kawasan Pasar Simpang Tanjung Nan Ampek mengarahkan hidupnya menuju babak kedua. Belajar iqra’ yang baru separuh harus terhenti ketika Allah berkata lain. Kebakaran tersebut merenggut fungsi matanya. Ia jadi buta. Ia sempat putus asa terhadap apa yang terjadi pada dirinya.  Tetapi, berkat suntikan motivasi dan dukungan keluarga bersama  mak tuo yang penyayang, guru ngajinya di surau , ia berhasil bangkit dari keputus asaan tersebut.

 

Semenjak itu, hari-hari ia habiskan di tepi Danau Kembar untuk menghafal Al-Quran  menggunakan Al-Quran Braille. Al hasil, berkat kegigihan di tengah keterbatasan yang ia miliki, ia mampu menghafal Al-Quran sebanyak tiga juz. Kedatangan seorang pemuda bernama Taufiq membawa angin keberuntungan bagi Fatwa. Pemuda cerdas, santun dan ramah yang belakangan akrab di sapa Uda Taufiq itu mengabarkan bahwa Fatwa boleh mengikuti lomba MTQ cabang tahfiz tingkat kecamatan.

 

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pemuda yang seorang guru itu bersedia melatih Fatwa untuk persiapan lomba. Semangat Fatwa bergejolak. Ia mulai berlatih dengan Uda taufiq. Latihan itu pun membuahkan hasil yang luar biasa. Fatwa meraih peringkat pertama lomba tahfiz tingkat kecamatan. Keberhasilan itu tak membuatnya mudah puas dan berhenti sampai di situ. Ia terus belajar dan menghafal ayat-ayat Al-Quran.

 

Selanjutnya, Fatwa mengikuti lomba tahfiz tingkat nasional. Fatwa sebagai perwakilan Sumatera Barat berhasil meraih peringkat kedua. Prestasinya ini mendapat apresiasi dari bapak gubernur. Akhirnya ia bisa menjadi duta Danau Kembar di kancah nasional.

 

Berdasarkan penyajiannya, alur yang digunakan penulis adalah alur maju. Gaya bahasa personofikasi yang dominan dipakai dalam novel ini membuat suasana yang awalnya mati menjadi hidup. Contohnya, pada kalimat “ Di permukaan tanah yang lain, ada daun wortel yang sudah menyerah untuk hidup. Menunduk lesu meratapi ketidakberuntungan.” (halaman : 12)

 

Di samping itu, novel ini juga sarat dengan nilai-nilai agama, moral, sosial, budaya dan kepercayaan. Nilai agama tersebut, seperti pada kalimat, “ Di rumah terunik sepanjang masa, rumah kulit yang tak beratap dan bertangga. Di tengah kegelapan ia menjalani hidupnya sebagai calon manusia, ciptaan Allah yang paling sempurna” (halaman : 3). Adapun nilai budaya dan kepercayaan, seperti, kepercayaan masyarakat tentang palasik, makhluk sejenis manusia yang dipercaya suka menghisap darah bayi.

 

Keunggulan novel ini, cover novel sangat menarik. Gambar seorang gadis berkerudung yang tengah membaca Al-Quran. Perwatakan tokoh mudah dimengerti. Penyisipan gambar di awal setiap bagian/sup judul, membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca . Tips-tips yang diulas penulis pada beberapa bagian dalam novel ini membuat pembaca tertarik untuk terus membaca novel ini sampai selesai. Seperti tips agar rambut tetap hitam walaupun sudah lanjut usia.

 

Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan novel ini. Di balik keunggulan di atas, terdapat beberapa kelemahan. Kelemahan itu di antaranya, terdapat beberapa kesalahan pengetikan. Contohnya, pada kata ‘ayanhnya’ seharusnya ayahnya,(halaman 7). Contoh lain, sebenarnya jika dihitung, dalam novel ini terdapat 38 bagian sup judul. Namun penomoran di bagian terakhir hanya sampai nomor 36. Ini dikarenakan kesalahan penomoran bagian dari beberapa bagian di dalam novel ini. Seperti ‘Balando dan Ameh Carano’ yang seharusnya nomor 17 tetapi masih ditulis nomor 16.

 

Novel ini layak untuk dibaca dan dimiliki semua kalangan. Sebab, bahasanya renyah, jalinan kata menarik dan kisah yang diangkat menggelitik. Novel ini semakin bernilai karena penulis mampu mensinergikan nilai historis, agama, adat dan pariwisata. Selain itu, novel ini berisi motivasi hidup yang patut kita maknai.

 

Novel Kutub Tak Bersalju merupakan novel pertama dari penulis belia bernama Amika An, dengan nama lengkap Rahmi Syalfitri Riska. Amika lahir di Simpang Tanjuang Nan IV, Danau Kembar, Solok, Sumatera Barat. Dia Putri pertama dari pasangan Kirman Aris dan Dessy Hayati. Sakarang, gadis berbakat ini  tengah menempuh studi di Universitas Negeri Padang, Jurusan Ilmu Sosial Politik. Didorong oleh beberapa kisah-kisah inspiratif,  menyebabkan perempuan kelahiran 1 April 1993 ini termotivasi menulis novel dengan menjadikan kampung halaman, Solok sebagai latar cerita.





• Resensi Buku Terkait