Resensi Buku


Menulis Sosok Secara Inspiratif, Menarik, Unik


Pengarang : Pepih Nugraha
Penerbit : Buku Kompas
Tebal : 196
Editor : Elvi Safri Dinyyati Rahmatika
Resensiator : Dodi Saputra


Menulis Sosok, Meraih Mahkota

 

Sejak peluncuran buku ini, kekuatan membaca dan menulis semakin dilatih untuk mengenali setiap orang yang memiliki ciri khas yang berbeda dari milik orang manapun. Masing-masing individu dilahirkan dengan kreativitas yang berbeda-beda pula. Keunikan setiap orang inilah yang selalu melahirkan “seni” menulis profil atau sosok.

 

Sejenak me-review pelajaran penulisan feature, di bangku kuliah jurnalistik teknik dan gaya penulisan sosok jarang diajarkan. Padahal, sosok merupakan genre karya tulis yang berbeda dari feature seperti feature tentang gaya hidup, misalnya. Menulis sosok menyangkut manusia dengan karakter dan kepribadian yang khas. Sosok bukan tulisan benda mati, melainkan soal indiv idu hidup yang dinamis.

 

Sekilas tentang feature, bahwa dalam media cetak belum pernah didefenisikan secara pasti. Melainkan segala bentuk tulisan selain artikel (kolom) dalam media cetak khususnya koran yang bukan  news (berita), digolongkan sebagai feature. Ada yang menerjemahkannya sebagai karangan khas-sejalan dengan jati diri media menyampaikan informasi, hiburan, dan pendidikan  bagi pembaca yang berbeda (khas) dalam mendekati persoalan dibandingkan dengan berita. Ada yang mendefenisikan feature sebagai softnews, berbeda dengan berita sebagai hardnews. Tetapi, apa pun sebutan dan defenisinya, feature lebih rinci dan lebih mendalam, lebih mencangkup dan lebih lengkap, lebih memberi latar belakang serta nuansa dibanding berita. Walaupun demikian, objek, fokus, dan sumber bahannya sama, yakni fakta manusia berikut kegiatan dan tali-temalinya.

 

Pada kenyatannya,  rubrik sosok di harian kompas khususnya, sengaja memberi ruang untuk feature tentang sosok tokoh atau sosok manusia dengan kegiatan masing-masing sebagai pelengkap berita dan tulisan  lainnya,  rubrik ini merupakan salah  satu bentuk feature. Human interest memang jati diri kekhasan rubrik ini.

 

Seluruh tulisan sosok yang lebih dalam dan lebih komprehensif terdapat dalam rubrik pesona di kompas minggu, ditulis oleh wartawan kompas atau mantan wartawan kompas (status karyawannya berhenti karena usia). Tokoh-tokoh yang disosokkan pun reseleksi agar tidak menjadi kekeliruan atau salah pilih. Dalam mencari dan mengumpulkan informasi tentang  tokoh yang disosokkan,  sistem dan kerja wartawan/penulisnya, serupa seperti dalam menyajikan berita. Bentuk piramida terbalik dalam  berita-ini pun dalam perkembangannya sudah amat berbeda dengan sebelumnya-tidak lagi berlaku, sebab yang mau ditonjolkan bukan kecepatan dan kelengkapan, tetapi kesan kepribadian lewat sosok. Penulisnya perlu mengumpulkan bahan sebanyak dan sedalam mungkin, lewat wawancara, rujukan, baik lewat jejak langkah, perpustakaan/sumber tertulis, komentar orang, dan pengamatan langsung di lapangan.

 

Penulis Buku ini telah terlatih merujuk ke perpustakaan dan data-mungkin terbentuk sebelum sebagai wartawan kompas adalah karyawan di unit penelitian dan pengembangan kompas-bisa memanfaatkan secara pas data kepustakaan dan data litbang kompas. Tanpa maksud features sosok yang diseleksi dalam buku ini-banyak yang relatif lebih bagus-kelebihan  nuansa  rujukan data  menolong  feature-feature  dalam  22 sosok  ini  lebih komplit dan lebih bernuansa informatif. Lewat kumpulan 22 sosok yang ditulisnya dan dimuat kompas dalam rentang waktu tahun 1996-2011,  saudara Pepih Nugraha menguraikan dan berbuka informasi tentang proses kreatifnya sebagai wartawan. Kebanyakan wartawan, termasuk wartawan kompas, enggan menceritakan proses kreatif mereka.

 

Kekhasan yang dimiliki setiap orang dengan kelebihan dan kekurangannya terdapat dalam menyajikan tulisan-tulisan mereka. Pepih Nugraha menceritakan apa adanya, mulai dari kepekaannya melihat sisi dari bahan informasi di lapangan, memperoleh penugasan dari atasan-diceritakan apa adanya tanpa maksud dan rasa menyombongkan diri. Bahkan pengalaman, menawarkan bahan belajar calon-calon penulis atau wartawan, bahan refleksi bagi wartawan-wartawan lebih senior. Ia tidak hanya reporter (pelopor), editor, dan interpreter (penafsir) atas makna-makna fakta manusia dan lingkungannya, dan juga edukator (pendidikan). Buku memang mahkotanya wartawan. Sedikit-banyak buku ini dapat merangsang  rekan-rekan yang lebih junior dan senior ikut tergerak melakukan  serupa meraih mahkota.

 

Peresensi: Dodi Saputra, bergiat di FLP dan Rumahkayu





• Resensi Buku Terkait