Resensi Buku


Ayahku (Bukan) Pembohong


Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 209
Editor : Eka Putri
Resensiator : Iis Sholihat Damanik


Siapa yang tak kenal dengan Darwis Tere liye? Ia adalah seorang penulis novel yang Ternama. Bahkan beberapa dari karyanya telah diangkat ke layar lebar. Penulis novel “Ayahku (Bukan) Pembohong” ini telah banyak menghabiskan waktu untuk perjalanan karirnya, mencoba memahami banyak hal dengan melihat banyak tempat. Berbagai apresiasi ia dapatkan dari pembaca. Tak salah bila ia mendapatkan hal tersebut, karena memang novel ini mampu menjadikan cerita yang sederhana menjadi cerita yang luar biasa terhadap pembaca, sehingga mampu menguras air mata. Buku ini mempunyai banyak kisah, diantaranya  “Sang Kapten, Suku Penguasa Angin, Lembah Bukhara, Apel Emas dan Danau Para Sufi”. Buku ini juga menceritakan kisah seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan dalam hidup, kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri.

 

Dam merupakan seorang anak yang menjadi inti dari cerita novel ini. Awalnya dia mempercayai bahwa cerita-cerita ayahnya adalah benar, sehingga dia termotivasi untuk memenangkan lomba renang. Namun seiring berjalannya waktu, rasa penasaran tentang cerita itu mulai timbul dalam dirinya, dia mulai mempertanyakan apakah cerita ayahnya tersebut benar atau hanya sekedar sandiwara.

 

Dua puluh tahun lamanya, Dam berhenti mempercayai cerita ayahnya, ia bahkan membenci ayahnya. Dam menganggap ayahnya berbohong dan mengira itu hanya karangan ayahnya saja, karena setiap kali dia bertanya kepada ayahnya tentang cerita-cerita tersebut ayahnya enggan untuk menjawab, tidak dapat membuktikannya, namun ayahnya hanya mengatakan suatu saat anaknya akan tahu.

 

Akhir cerita, ternyata Dam sadar bahwa ayahnya memang bukan pembohong. Cerita yang disampaikan selama ini memang benar, semua itu terungkap dan terjawab ketika ayahnya telah tiada. Dam sangat sedih dan sangat terpukul, ia tak sempat mengucap kata maaf pada ayahnya. Bahkan, yang lebih miris lagi dia sebagai anak tidak mengetahui bahwa ibunya adalah mantan artis yang sangat diidolakan banyak orang, termasuk mertua Dam.

 

Ketika  pemakaman ayahnya, Dam sangat terkejut dengan kedatangan “ Sang Kapten El-Capitano Elprience”, seorang pemain bola yang sangat terkenal dan sekaligus teman akrab ayahnya datang ke pemakaman. Selama ini, ia tidak pernah bertemu dengan kapten tersebut, hingga puluhan tahun lamanya, dikarenakan hilang kontak dan tidak tahu alamat tempat tinggal ayah dam. Dam sadar bahwa dongeng-dongeng masa kecil dari ayahnya tidak hanya karangan fiktif belaka dan dapat dipercaya. Ternyata semua benar adanya.

 

Buku ini mampu memberikan pesan dan kesan terhadap pembaca lewat cerita yang sederhana ini, gaya bahasa yang dipaparkan penulis juga lugas sehingga membuat pembaca mudah memahami setiap kata. Namun alur cerita maju mundur yang datang secara tiba-tiba membuat para pembaca kebingungan akan jalan cerita yang disampaikan penulis.





• Resensi Buku Terkait