Resensi Buku


Api Tauhid


Pengarang : Habiburrahman El-shirazy
Penerbit : Republika
Tebal : 573
Editor : Veni Andriyani
Resensiator : Hamiruddin


Torehan sejarah yang menggetarkan jiwa. Karena dikemas dengan riak hidup dan pergulatan cinta yang dramatis. Perjalanan hidup ulama Badiuzzaman Said Nursi yang menjelajah untuk mengobarkan api tauhid di persada ini. Sehingga, Mampu menempatkannya pada jejeran sejarah dalam dunia peradaban Islam. Sang pengelana yang haus akan lautan ilmu ini, tak pernah merasa puas dan jenuh untuk terus mereguk manisnya sari pati ilmu yang mengandung cahaya. Sampai akhirnya, ketika menapaki kota Kurdistan, hanya dalam waktu tiga bulan, puluhan kitab berhasil beliau khatamkan, tanpa tertinggal satu baris pun. Diantaranya kitab Jam’u Al Jamawi, Syarh Al Mawaqif serta Tuhfah Al Muhtaj karya Ibnu Hajar Al Haitami yang tidak lain adalah kitab induk Fikih Syafii.

 

Dengan kejeniusan yang demikian menawan, ilmu yang semestinya dipelajari 15 tahun, dapat ia kuasai dalam waktu tiga bulan saja. Popularitas meroket menjelajah ke telinga masyarkat dan kalangan para ulama.

 

Kehadiran beliau juga menjadi pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Karena, Banyak hal-hal yang aneh bahkan dinilai berbau kecongkakan. Sampai-sampai ia nekat menulis pengumuman di depan kamarnya dalam sebuah hotel, “Di sini menjawab semua pertanyaan, tanpa ada pertanyaan balik kepada penanya”. Jeruji besi dan rumah sakit jiwa adalah wisata yang sering ia kunjungi. Karena kobaran prestasinya yang menggegerkan. Baik di jalan dakwah, sampai pada kekayaan ilmu dan keenceran otak yang ia miliki. Maka, beliau disangka menderita penyakit jiwa. 5 dokter ahli jiwa yang menanganinya dari berbeda negara, tercengang sampai tak sadar mengeluarkan air liur ketika ia menyeru sang dokter menyimak buku kedokteran tingkat lanjut, sebanyak 5 baris di luar kepada tanpa ada yang kurang, dan salah satu pun. Ini membuktikan sang pengelana yang  ini tidaklah gila.

 

 Begitu dengan Fahmi, tokoh dalam cerita ini. Setelah menikah dengan Nuzula yang semula menjadi tambatan hatinya, kini menjadi guratan luka. Sebab, dalam pernikahannya dengan Nuzula ada skenario  dan teater  cinta yang ia tidak ketahui sama sekali.

 

Sehingga membuatnya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya yang terjadi? kenapa dengan Nuzula pujaan hatinya ini? Saat-saat genting, ketika ia berada di Madinah, ia mendapat kiriman Email dari Rahmi, adiknya. Setelah ia baca, atap bumi seakan-seakan runtuh menimpa, sementara bumi tempatnya berpijak ikut melahirkan duka yang maha pedas mencabik-cabik jiwa, Nuzula anak Kyai Arselan pendiri pondok pesantren yang terkenal itu telah hamil sebelum menikah dengannya. Putuslah pucuk pengharapan, semuanya seulas senyuman, dengan sisa ratapan nestapa yang mendera-dera, ia coba untuk mengikis bayangan Nuzula, yang kini menghadirkan kemelut dalam hidupnya.

 

Masjid Madinatul Munawaroh satu-satunya tempat curahan hati dalam setiap tasbihnya. Hingga, ia mengkhatamkan Al-Qur’an sebagai pelipur lara untuk dirinya yang sedang dilirik duka. Nuzula yang telah menjadi perbendaharaan jiwa telah tersingkir jauh dalam daftar hayatnya.

 

Namun, butuh waktu yang lama. Demi meredam hasrat yang sedang bergejolak, terbang menjelajah Istanbul adalah agenda yang bisa membuatnya lupa mengingat Nuzula. Di sanalah ia mencicipi sejarah Said Nursi yang mengagumkan itu lewat temannya Bilal. Dan karyanya Risalah An Nur yang sampai saat ini di baca jutaan umat di dunia.

 

Tak disangka, ia juga intip 4 pasang mata yang keduanya menanan benih-benih cinta, Aysel yang tercuri hatinya lewat kedermawanan pribadi Famhi, begitu juga dengan Emel. Sementara, di Indonesia ada Nuzula perbendaharaannya dan Nur Jannah yang masih mengharapkan akan titah cintanya. Demikianlah kelebat cinta yang ia arungi dalam sejarah Said Nursi ini. Tajamnya was-was menata sebuah pilihan mampu menerawangkan pikiran. Namun, Teguhnya ikrar dan nyayian cinta yang dulu ia lafazkan, bergeming menghadirkan Nuzula kembali menjadi mentari dalam hidupnya.

 

Inilah novel yang sangat menggugah dan juga memberikan vitamin hidup yang penuh gizi bagi para pembaca. Karena kekuatan sejarah yang diulas di dalamnya mampu menghidupkan peristiwa masa lalu yang mati menjadi hidup kembali, (living history). Dan keindahan bahasanya mampu menyihir mata dan menghidupkan jiwa para pencinta sastra. Serta dianyam dengan pergulatan cinta. Karena, sepanas apapaun suhu revolusi, sedahsyat apapun sebuah perang, seganas apapun ombak membadai, semenarik apapun sebuah sejarah. Namun, cinta takkan pernah pudar untuk diperbincangkan. Sehingga, bait demi bait dalam sejarah ini membisikkan kepada kita. “Bahwa, masa depan dan warna sebuah bangsa atau negara, sangat ditentukan oleh menu pendidikan yang di hidangkan kepada generasi penerusnya, hingga orang-orang tersebut disebut dalam sejarah”.





• Resensi Buku Terkait