Resensi Buku


Kitab Mahabharata, Kisah Agung Sepanjang Masa


Pengarang : C. Rajagopalachari
Penerbit : DIPTA
Tebal : 439
Editor : -
Resensiator : Wahyu Ashari


Bukan Sekadar Epos

Begawan Wiyasa, Byasa atau Vyasa dari India pengarang Kitab Weda yang masyhur itu, adalah anak Resi Parasana. Wiyasalah yang memberikan epos besar Mahabharata pada dunia. Mahabharata, karya sastra kuno yang menceritakan konflik keluarga antara Pandawa, yaitu  lima anak dari pasangan Pandu dan Kunti dengan saudara sepupu mereka yang berjumlah seratus yang dikenal dengan sebutan Kurawa yang dipimpin oleh anak tertua Destarastra yang bernama Duryudana. Konflik terjadi akibat sengketa hak pemerintahan tanah negara Hastinapura (Astina). Puncaknya adalah pecahnya perang Bharatayudha di medan Kurusetra yang pertempurannya berlangsung selama delapan belas hari.

 

Sebenarnya Pandu tidak ada keturunan. Anaknya itu didapat atas perkawinan istri-istrinya dengan para dewa, yaitu Kunti dengan Dewa Darma, lahirlah Yudistira. Kunti dengan Dewa Bayu, lahirlah Bima. Kunti dengan Dewa Indra, lahirlah Arjuna. Kunti dengan Dewa Surya, lahirlah Kama. Madri dengan Dewa Aswin, lahirlah Nakula dan Sadewa (kembar). Destarastra menikah dengan Gandari dan berputra Duryudana dengan 99 orang adiknya.

 

Sebenarnya Pemerintahan Hastinapura milik Pandu, namun karena Pandu melanggar Darma, dia harus mengasingkan diri ke hutan. Dalam pengasingan tersebut pandu melanggar suatu hal terlarang yaitu memanah kijang yang sedang memadu kasih. Padahal kijang tersebut jelmaan seorang resi yang sedang bermain-main dengan istrinya. Kijang tersebut mati dan resi tersebut mengutuk Pandu, yaitu ketika dia meneguk enaknya memandu kasih, dia akan mati pula. Itu pun benar-benar terjadi. Mulai saat itu, untuk sementara tahta Hastinapura dipegang oleh Destarastra sebelum diserahkan kepada anak-anak Pandu dan menunggu mereka besar.

 

Sangkuni, paman Duryudana mengotori pemikiran kaponakannya yang masih suci tersebut, sehingga meletuslah api peperangan paregrek di antara mereka dan sepupunya. Destarastra tidak bisa berbuat banyak dari ulah anak-anaknya dan dorongan dari istrinya. Destarastra, raja yang buta dan lemah dan tidak kuat pendirian tersebut tidak berdaya di depan anak-anaknya. Pada akhirnya membuat para Pandawa Lima terusir dari istananya dan terbuang selama 12 tambah satu tahun penyamaran.

 

Namun, mereka dicurangi oleh anak-anak Destarastra, yang membuat api peperangan menjadi besar. Terlebih ketika Dropadi, istri mereka dipermalukan di depan orang banyak oleh anak-anak Destarastra. Dalam Mahabharata ini juga dikisahkan pergulatan batin Karna, anak tertua Kunti dan kakak pertama Pandawa yang tidak dapat pengakuan kehebatannya dan kesaktiannya akibat dari kasta. Heroiknya, Gotot Kaca manusia raksasa putra Bimasena dalam laga Kurusentara. Sedihnya hati Arjuna ditinggal pahlawan perang Panda, Abimayu anaknya sendiri yang meninggal karena dikeroyok Kurawa.

 

Mahabharata bukan sekadar sebuah epic atau epos, tetapi roman yang menceritakan kisah laki-laki dan perempuan heroik serta beberapa tokoh luar biasa. Karya ini merupakan sebuah seni sastra yang mengandung rahasia hidup, filsafat relasi sosial dan etika, serta pemikiran penting tentang masalah-masalah manusia yang sulit dicari padanannya. Membaca karya besar ini, kita akan tahu keagungan dan kedalaman jiwa manusia. Kisah ini adalah rekaman pikiran serta semangat orang-orang yang lebih mementingkan kebaikan di atas kenikmatan dan kesenangan dunia, sekaligus melihat misteri kehidupan secara lebih mendalam.

 

Kita dapat mengatakan bahwa Mahabharata merupakan samudera luas dan dalam, yang berisi permata dan mutiara berharga yang tidak terhitung jumlahnya. Buku ini merupakan sumber etika dan kebudayaan Timur yang tidak ada habis-habisnya. C. Rajagopalachari menyusun versi kisah Mahabharata ini dalam bentuk tertulis untuk kaum muda dan dalam epik orisinal. Sehingga, setelah menghayati dan meresapi epik klasik ini, pembaca akan menghadapi hidup dengan lebih berani, serta kehendak hati yang lebih kuat dan pikiran yang lebih bersih.

 

Buku ini tidak hanya sekadar kisah atau cerita pada umumnya. Mahabharata adalah rekaman pikiran dan semangat nenek moyang, yang lebih mementingkan kebaikan di atas kenikmatan dan kesenangan. Serta, melihat misteri kehidupan secara lebih mendalam di tengah upaya yang tidak ada habis-habisnya untuk mendapatkan hal-hal yang fana di dunia yang materialistis.

Begawan Wiyasa, Byasa atau Vyasa dari India pengarang Kitab Weda yang masyhur itu, adalah anak Resi Parasana. Wiyasalah yang memberikan epos besar Mahabharata pada dunia. Mahabharata, karya sastra kuno yang menceritakan konflik keluarga antara Pandawa, yaitu  lima anak dari pasangan Pandu dan Kunti dengan saudara sepupu mereka yang berjumlah seratus yang dikenal dengan sebutan Kurawa yang dipimpin oleh anak tertua Destarastra yang bernama Duryudana. Konflik terjadi akibat sengketa hak pemerintahan tanah negara Hastinapura (Astina). Puncaknya adalah pecahnya perang Bharatayudha di medan Kurusetra yang pertempurannya berlangsung selama delapan belas hari.

 

Sebenarnya Pandu tidak ada keturunan. Anaknya itu didapat atas perkawinan istri-istrinya dengan para dewa, yaitu Kunti dengan Dewa Darma, lahirlah Yudistira. Kunti dengan Dewa Bayu, lahirlah Bima. Kunti dengan Dewa Indra, lahirlah Arjuna. Kunti dengan Dewa Surya, lahirlah Kama. Madri dengan Dewa Aswin, lahirlah Nakula dan Sadewa (kembar). Destarastra menikah dengan Gandari dan berputra Duryudana dengan 99 orang adiknya.

 

Sebenarnya Pemerintahan Hastinapura milik Pandu, namun karena Pandu melanggar Darma, dia harus mengasingkan diri ke hutan. Dalam pengasingan tersebut pandu melanggar suatu hal terlarang yaitu memanah kijang yang sedang memadu kasih. Padahal kijang tersebut jelmaan seorang resi yang sedang bermain-main dengan istrinya. Kijang tersebut mati dan resi tersebut mengutuk Pandu, yaitu ketika dia meneguk enaknya memandu kasih, dia akan mati pula. Itu pun benar-benar terjadi. Mulai saat itu, untuk sementara tahta Hastinapura dipegang oleh Destarastra sebelum diserahkan kepada anak-anak Pandu dan menunggu mereka besar.

 

Sangkuni, paman Duryudana mengotori pemikiran kaponakannya yang masih suci tersebut, sehingga meletuslah api peperangan paregrek di antara mereka dan sepupunya. Destarastra tidak bisa berbuat banyak dari ulah anak-anaknya dan dorongan dari istrinya. Destarastra, raja yang buta dan lemah dan tidak kuat pendirian tersebut tidak berdaya di depan anak-anaknya. Pada akhirnya membuat para Pandawa Lima terusir dari istananya dan terbuang selama 12 tambah satu tahun penyamaran.

 

Namun, mereka dicurangi oleh anak-anak Destarastra, yang membuat api peperangan menjadi besar. Terlebih ketika Dropadi, istri mereka dipermalukan di depan orang banyak oleh anak-anak Destarastra. Dalam Mahabharata ini juga dikisahkan pergulatan batin Karna, anak tertua Kunti dan kakak pertama Pandawa yang tidak dapat pengakuan kehebatannya dan kesaktiannya akibat dari kasta. Heroiknya, Gotot Kaca manusia raksasa putra Bimasena dalam laga Kurusentara. Sedihnya hati Arjuna ditinggal pahlawan perang Panda, Abimayu anaknya sendiri yang meninggal karena dikeroyok Kurawa.

 

Mahabharata bukan sekadar sebuah epic atau epos, tetapi roman yang menceritakan kisah laki-laki dan perempuan heroik serta beberapa tokoh luar biasa. Karya ini merupakan sebuah seni sastra yang mengandung rahasia hidup, filsafat relasi sosial dan etika, serta pemikiran penting tentang masalah-masalah manusia yang sulit dicari padanannya. Membaca karya besar ini, kita akan tahu keagungan dan kedalaman jiwa manusia. Kisah ini adalah rekaman pikiran serta semangat orang-orang yang lebih mementingkan kebaikan di atas kenikmatan dan kesenangan dunia, sekaligus melihat misteri kehidupan secara lebih mendalam.

 

Kita dapat mengatakan bahwa Mahabharata merupakan samudera luas dan dalam, yang berisi permata dan mutiara berharga yang tidak terhitung jumlahnya. Buku ini merupakan sumber etika dan kebudayaan Timur yang tidak ada habis-habisnya. C. Rajagopalachari menyusun versi kisah Mahabharata ini dalam bentuk tertulis untuk kaum muda dan dalam epik orisinal. Sehingga, setelah menghayati dan meresapi epik klasik ini, pembaca akan menghadapi hidup dengan lebih berani, serta kehendak hati yang lebih kuat dan pikiran yang lebih bersih.

 

Buku ini tidak hanya sekadar kisah atau cerita pada umumnya. Mahabharata adalah rekaman pikiran dan semangat nenek moyang, yang lebih mementingkan kebaikan di atas kenikmatan dan kesenangan. Serta, melihat misteri kehidupan secara lebih mendalam di tengah upaya yang tidak ada habis-habisnya untuk mendapatkan hal-hal yang fana di dunia yang materialistis. 





• Resensi Buku Terkait