Resensi Buku


Bulan Terbelah Dilangit Amerika


Pengarang : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 344
Editor : Daulay
Resensiator : Fatma Sari


Ini adalah buku kedua karya Harum Rais dan suaminya setelah menulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Di tengah maraknya buku-buku traveling akhir-akhir ini, Buku Bulan Terbelah Dilangit Amerika menyuguhkan cerita perjalan dengan pemaparan sejarah yang luar biasa serta kental akan makna kehidupan.

 

Ceritanya berlatar belakang tragedi 11 September 2001, ketika gedung tertinggi di Amerika Serikat saat itu, World Trade Center (WTC) lantai satu dan dua runtuh ditabrak oleh Amerika Airlines Flight 11 yang dibajak.

 

Takdir membawa Hanum dan Rangga, menuju sebuah perjalanan impian mereka, yaitu mengelilingi benua Amerika. Perjalanan ini bukan hal jalan-jalan semata, tetapi Hanum dan Rangga sama-sama mendapat tugas. Hanum yang bekerja disalah satu perusahaan surat kabar di Wina, Austria, bernama “Heute ist Wunderbar” yang berarti “Hari ini Luar Biasa” sebagai reporter, Ia mendapat tugas liputan yang menguak berbagai hal seputar tragedi WTC demi sebuah artikel berjudul “Would the world be better without Islam? (Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?)”sebenarnya Harum tidak ingin melakukan hal itu, tetapi apa boleh buat. Itu merupakan kesempatan dia untuk dapat mengubah pikiran masyarakat Amerika tentang Islam yang sebenarnya.            

 

Hari pertama di New York, Hanum belum menemukan seseorang untuk dijadikan narasumbernya. Hari kedua Hanum dan Rangga pergi kekawasan Helem untuk mencari Mesjid Aqsa. Dan ternyata mesjid itu disegel dikarenakan si pemilik tanah selalu menaikkan tarif sewa setiap tiga bulan sekali. Hanum juga belum menemukan seseorang yang pantas dijadikan narasumbernya. Hari ketiga Hanum pergi ke Komplek Grand Memorial 9/11 disana ada peringatan peristiwa 9/11. Hanum memasuki daerah Ground Zero sendirian sedangkan Rangga diminta untuk menunggu Hanum di  sekitar Grand Memorial untuk menjaga tas dan barang bawaan mereka. Di Ground Zero Hanum menemukan seseorang yang cocok untuk dijadikan narasumbernya. Dia adalah Michael Jones, pria yang memimpin aksi protes pembangunan mesjid di sekitar Ground Zero. Di Ground Zero Hanum terjebak kekisruhan demonstran karena ada salah satu demonstran yang mabuk memasuki area Ground Zero.

 

Singkat cerita, akhirnya ia mampu keluar dari kerumunan demonstran itu dan pergi menuju Mesjid Manhattan di sekitar Ground Zero dan tidur disana. Di masjid itu dia bertemu dengan penjaga museum yang bernama Julia. Julia menawarkan Hanum untuk menginap dirumahnya, ternyata Julia adalah seorang Mualaf. Suaminya bernama Abe meninggal dalam tragedi WTC. Julia mempunyai nama muslim yaitu Azima Hussein dan anaknya bernama Sarah (Amala Hussein).

 

Hanum ingin Azima menjadi narasumbernya. Awalnya Azima menolak tapi akhirnya ia mau asalkan Hanum menggunakan nama muslimnya untuk artikel yang ditulisnya. Hanum mulai mewawancarai Azima, dari mengapa pindah ke museum 9/11 sampai hal-hal lain berhubungan dengan peristiwa 9/11.

 

Hari keempat Rangga sudah sampai di DC. Saat sedang sarapan ia melihat Philipus Brown. Ia menyapa Philip dan mengajaknya sarapan bersama. Selama sarapan Rangga menanyakan banyak hal termasuk alasan kenapa Philip menjadi seorang filantropi. Tapi seakan-akan Philip menyembunyikan sesuatu. Hanum menemui Jones karena foto mendiang istrinya terbawa oleh Hanum saat kekisruhan terjadi. Jones menceritakan banyak hal tentang Anna dan Jones juga menjelek-jelekkan nama Islam. Dan akhirnya Hanum mengaku bahwa dirinya sebenarnya seorang muslim. Harum bertanya kepada Jones ‘Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?’ Jones sebenarnya ingin menjawab iya, tapi setelah ia menegtahui bahwa Hanum seorang Muslim akhirnya ia menjawab tidak.

 

Sebelum Hanum menemui Jones, Azima berkata bahwa ia sekeluarga akan mengunjungi makam ayahnya. Hanum bisa menumpang untuk menemui Rangga. Akhirnya Harum berpamitan kepada Jones dan berangkat ke Dc menyusul Rangga. Setelah selasai presentasi, Harum pergi ke Memorial Abraham Lincoln dan akhirnya beremu dengan Rangga.

 

Ada hal lain yang baru penulis tahu setelah membaca novel ini, ternyata masjid-masjid yang ada di Eropa dan Amerika harus membayar uang sewa bangunan, miris sekali mengetahui hal itu. Karena tarif selalu dinaikkan hingga tidak sedikit masjid-masjid yang tutup karena tidak mampu membayar uang sewa bangunan yang sangat mahal. Bukan hanya masjid, gereja pun tidak sanggup membayar sewa bangunan tersebut. Banyak pembelajaran yang dapat diambil dalam novel ini.





• Resensi Buku Terkait