Resensi Buku


Ayah


Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 412
Editor : Friyosmen
Resensiator : Silvia Wulandari


Novel Ayah karangan Andrea Hirata, menceritakan cinta seorang Sabari kepada Marlena yang tidak pernah pudar dari pertemuan pertama sampai akhir hayat Sabari, cinta yang bertepuk sebelah tangan membuat Sabari selalu memeluk rindu.

 

Ayah Sabari yang mencintai dunia sastra khususnya puisi, sangat paham melihat tingkah anaknya yang sedang jatuh cinta, banyak puisi-puisi yang dikirimkan Sabari berasal dari bakat ayahnya yang sangat pandai dalam mengelola kata-kata. 

 

Hari terakhir ujian Bahasa Indonesia Sabari tersenyum simpul. Dijawabnya semua soal dengan tenang. Cincai. Dilihatnya nun jauh di sana, Ukun mengaduk-ngaduk rambut. Sabari tersenyum lagi. Di arah pukul 05.00 WIB, Tamat tercenung, tampak tertekan batinnya. Sabari kembali tersenyum. Maaf, siswa lain bolehlah jago Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Geografi, Biologi, tetapi Sabari adalah Isaac Newton-nya Bahasa Indonesia.

 

Dalam waktu singkat, Sabari telah menjawab semua soal, tetapi dia tak ingin mengecewakan pihak-pihak yang telah memberinya nama Sabari, yakni ayahnya dan diaminkan oleh neneknya. Ditunggunya dengan sabar sampai waktu mau habis.  Sabari  membereskan tasnya dan bersiap-siap menyerahkan jawabannya kepada pengawas di depan kelas, tetapi mendadak dia terperanjat karena sekonyong-konyong seorang anak perempuan menikung di depannya, merampas kertas jawabannya, duduk disampingnya, dan tanpa ba-bi-bu langsung menyotek jawabanya.

 

Disitulah cinta Sabari kepada Marlena dimulai. Perempuan yang bermata indah dan berlesung pipi langsung merampas hati Sabari tanpa menyisakan sedikitpun untuk wanita lain walaupun hanya seorang. Dalam hati dan pikiran Sabari hanya ada Marlena.

 

Tamat dan Ukun sahabat yang sering menjahili Sabari dengan ulah licik keduanya dengan mengirimi surat balasan kepada Sabari atas nama Lena, karena tidak satupun suratnya yang dibalasi Lena selama penantian panjangnya, cinta tanpa sebab  Sabari membuat kesal keduanya tapi selalu menyemangati Sabari dalam setiap kondisi tanda kesolitan sebagai kawan.

 

Tidak tahu apa yang dilihat Sabari dari Lena selain kecantikannya. Elok rupa Lena terlalu membuai Sabari, perasaan cinta yang dipelihara Sabari terlalu membebankannya sehingga harus merasakan pahitnya ditolak cinta dan senangnya melihat dia bahagia walau tidak dengan kita. Tak pernah lelah Sabari mencintai Marlena, sampai akhirnya Sabari mempertanggungjawabkan perbuatan terhina Marlena dan merawat anak hasil pergaulan Marlena dengan banyak lelaki lain. Sayang Sabari kepada anak lena tidak tangung-tanggung, semua dilakukan untuk Zoro yang sudah menjadi anaknya semenjak lahir, Sabari yang merawat Zoro sampai berusia tiga tahun dan tiba-tiba Marlena merebut paksa Zoro dari Sabari, disanalah mulai kisah sedih Sabari yang di tinggal Zoro dan Marlena.

 

Lena adalah gadis cantik yang liar dan susah diatur namun rasa cinta membutakan mata Sabari untuk melihat realitas yang ada, siang dan malam hanya Zoro dan Lena dalam otaknya, sempat Sabari putus asa karena kehilangan dua orang yang sangat dicintainya, di sanalah dia merasa jadi ayah dan orang yang paling beruntung punya anak Zoro, sampai akhirnya bahagia menemui Sabari dengan bantuan Tamat dan Ukun yang mencarikan Zoro untuk Sabari.

 

Cerita yang berkisah di banyak tempat ini menimbulkan sensasi lain di dalamnya antara lain, Belitong, Medan, Bukitinggi, Pariaman, dan Aceh dengan kisah-kisah yang membawa kita dalam masa itu. Cinta yang tak pernah padam terhadap seorang gadis dan anak hasil perbuatan gadis itu dengan orang lain. Penggambaran cerita dalam novel ini banyak mengandung unsur gereget, mengharukan dan menyebalkan ketika Sabari tidak mau membuka hati untuk wanita lain dan melupakan Marlena. Alur maju mundur kadang juga membuat pembaca binggung dalam memahami kisah cerita ini, Zoro yang tiba-tiba berganti dengan nama menjadi Amiru juga menimbulkan keanehan ketika membaca novel ayah, karena tidak ada penjelasan tentang perubahan nama.

 

Kisah cinta dalam novel ini terasa sangat didramatisir oleh Lena yang tak pernah menyukai Sabari walau apapun yang dilakukanya untuk mendapat simpati dari Lena, dan apapun yang terjadi dengan kondisinya. Sangat bertolak belakang dengan peribahasa yang mengatakan batu yang sering dibasahi air dan dipanasi matahari lambat laun akan hancur, peribahasa itu sangat tidak laku untuk Lena. Keras hati yang tidak bisa melihat cinta Sabari yang tulus kepadanya.

 

Sabari memberitahu kita bahwa cintanya kepada Lena tidak pernah berhenti selama nafasnya belum berhenti memberi kebahagiaan kepada Lena. Pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas bahwa mencintai dengan sepenuh hati akan membawanya kepada arti cinta yang tak harus memiliki.





• Resensi Buku Terkait