Resensi Buku


Azazil: Godaan Raja Iblis


Pengarang : Youssef Ziedan
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Tebal : 574
Editor : Alizar Tanjung
Resensiator : Deddy Arsya


Agama datang mengajarkan keselamatan dan jalan kebaikan bagi penganutnya. Namun apa jadinya ketika agama (atau suatu paham keagamaan) dilegal-formalkan oleh sebuah kekuasaan politik? Tidakkah kemudian agama berpotensi menjadi pisau yang melukai ‘yang berbeda’, berpotensi menjadi api yang membakar penganut lain sampai hangus sampai tiada?


Sejarah memperlihatkan bahwa agama bisa saja menjadi api yang berkobar-kobar dan membakar. Dalam tarikh Kristen, sejak Konversi Konstantin yaitu sejak agama Kristen diterima dan ditetapkan sebagai agama resmi kerajaan Romawi, agama Kristen berkembang luas di tengah-tengah masyarakat Eropa dan timur dekat. Namun penyebaran yang luas ini juga mengakibatkan benturan keras di sana-sini. Apalagi sejak Konsili Niceaea di abad keempat memutuskan suatu konsensus tentang kredo keimanan Kristen; konsili ini kemudian membentuk dikotomi ‘resmi’ dan tidak resmi, benar dan sesat, sesuai ajaran kristus atau menyimpang, kafir atau beriman. Maka legalitas atas satu agama atau suatu paham keagamaan oleh suatu kekuasaan politik, melegalkan pula kekerasan atas nama Tuhan, atas nama suatu agama.

 

Dan di abad keempat dan kelima, sejarah Kristen diwarnai oleh kekerasan yang merebak di mana-mana. Pendeta-pendeta Kristen membantai penyembah-penyembah pagan, menghancurkan berhala-berhala, dan meruntuhkan kuil-kuil pagan mereka. Penganut Kristen membunuhi bahkan sesama penganut Kristen yang dianggap menyimpang dari ajaran resmi hasil konsili. Sementara perbedaan pandangan mengenai iman Kristen di tataran para intelektualis Kristen pun terus meningkat bahkan berubah lebih keras. Baik itu persoalan trinitas, ketuhanan Yesus Kristus, maupun persoalan ketuhanan Bunda Maria; ini melahirkan mazhab-mazhab teologi dalam dunia Kristen yang kemudian diselesaikan dengan konsili-konsili lainnya yang melahirkan suatu teologi resmi, yang otomatis dianggap sepenuhnya benar, sementara yang di luar itu salah. Inilah pula yang kemudian berakibat bahwa yang tetap menyimpang dari ajaran resmi hasil konsili harus ditindak, seringkali dengan cara kekerasan: penyaliban, pembakaran hidup-hidup, rajam, dan penyiksaan-penyiksaan lain a la zaman kegelapan Eropa.

 

Dan novel ini menggambarkan bagaimana hebatnya kemelut dalam tubuh dunia Kristen masa itu. Hypa, tokoh utama novel ini, adalah seorang rahib. Ia makan sekali sehari, sedikit tidur, dan menghabiskan malam-malamnya bersembahyang menyebut nama Tuhan. Di samping seorang rahib, Hypa juga seorang tabib yang bisa menyembuhkan orang sakit. Ia mengabdikan dirinya tanpa meminta bayaran apa pun dari pasiennya. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menebar kasih melalui kemampuannya mengobati sakit manusia. Di masa lalu, ayah Hypa yang penganut pagan dibunuh dengan kejam oleh orang-orang Kristen di depan matanya. Trauma akibat pembunuhan itulah yang membuatnya melarikan diri dari kehidupan dunia, mengembara dari kota-kota penting dalam dunia Kristen; berziarah ke tempat di mana Yesus Kristus dan nabi-nabi pernah singgah. Ia terlihat paripurna sebagai seorang rahib dan juga seorang tabib.

 

Namun, manusia tampaknya tak akan bisa terbebas dari dosa, karena sebenarnya Hypa penuh dengan keraguan dalam memandang iman Kristen yang dianutnya. Ketika mengunjungi Alexandria untuk belajar ilmu pengobatan, ia terperangkap dalam rayuan Azazil, sang raja iblis. Ia menanggalkan jubah kerahibannya, berzina dengan perempuan penyembah pagan bernama Oktavia selama tiga hari tiga malam. Dan ketika menyadari dirinya berdosa, dengan penuh rasa sesal ia melarikan diri dari perempuan itu. Di Alexandria inilah pula, dalam pelarian itu, ia menyaksikan lagi kekejaman penganut Kristen terhadap penyembah agama tradisi Mesir.

 

Inilah novel di mana tokoh utamanya yang fiktif bergerak di antara tokoh-tokoh Kristen yang benar-benar pernah ada dalam sejarah. Hypa yang fiktif ada di antara tokoh-tokoh besar dalam sejarah Kristen. Ia misalnya berteman dengan Nestor, Uskup Agung Konstantinopel (uskup agung ibukota Romawi), dan mengetahui asal-muasal kenapa Nestor memberontak terhadap keuskupan Barat. Mereka berbagi kitab-kitab terlarang dunia Kristen, mereka berdiskusi tentang nabi-nabi Kristen, mereka menukil pendapat Santo Agustinus dan filosof skolastik lainnya. Hypa mendukung Nestor yang dengan tegas menganggap bahwa trinitas sebagai pemahaman keliru. Nestor menggugat ketuhanan Yesus Kristus sebagai bersifat politik demi mempertahankan kekuasaan romawi. Di kemudian hari, akibat pendapatnya yang keras membantah ketuhanan Yesus dan Bunda Maria, uskup agung Nestor dikucilkan dari keuskupan, jabatannya sebagai uskup agung Konstantinopel dilucuti oleh kekaisaran. Ia dihinakan di mana-mana, pengikutnya (para Nestorian) diburu di banyak tempat.   

 

Bukan hanya berhubungan karib dengan Nestor yang di kemudian hari ajarannya mendapat tempat yang luas di kalangan umat Kristen bahkan sampai hari ini, Hypa juga berhubungan dengan tokoh besar lain dalam dunia pagan. Novel ini menceritakan bagaimana Hypa menghadiri seminar-seminar yang dilakukan Hypatia, seorang matematika dan filosof perempuan pagan yang sangat cerdas dan brilian untuk zaman itu. Bahkan ia menyaksikan wanita itu tewas di tangan para pendeta Kristen dan tubuhnya dicincang di jalan-jalan di kota Alexandria. Dalam sejarah, kematian wanita itu dianggap menandai wafatnya kegiatan intelektual Alexandria. Dan iman Hypa semakin terguncang hebat menyaksikan itu. ‘Kasih’ yang selama ini diyakininya sebagai ajaran dasar Kristen luluh-lantak.

 

Novel ini dengan penuh ironi memperlihatkan juga bagaimana dunia Kristen masa itu tidak lagi seperti apa yang diajarkan Al Masih. Seorang uskup kota Alexandria, dengan jubah emasnya, mengangkat pedang tinggi-tinggi, dan menyorakkan pembantaian. Pedang, jubah berlapis emas, teriakan-teriakan ‘bunuh’, seakan mewakilkan bahwa dunia Kristen masa itu sesungguhnya telah mencampakkan ‘kasih’ dan ‘kesederhanaan’ sebagai ajaran Al Masih yang substansial ke balik punggung mereka.  

 

Inilah novel yang bisa mengguncang iman Kristen Anda!





• Resensi Buku Terkait