Resensi Buku


Tuhan Maha Asyik


Pengarang : Sujiwo Tejo & Dr. M. N. Kamba
Penerbit : Imania
Tebal : 245
Editor : Trany Septirahayu Putri
Resensiator : Alif Ilham Fajriadi


Saat akan membaca buku ini, kita akan disuguhkan dengan lirik lagu yang berbahasa jawa. Lagu tersebut ditulis langsung oleh Sujiwo Tejo. Di cover, kita akan melihat kalimat menarik yang dituliskan oleh Cak Nun, yaitu "Asyik itu yang mengasyiki, Masyuk itu yang diasyiki. Jadi buku ini menyeret kita untuk mentawafi pengalaman Tuhan yang mengasyiki hamba-hamba-Nya. Kita menyangka kita juga mengasyiki-Nya, padahal aslinya yang asyik maupun yang masyuk adalah Ia sendiri."

 

Sujiwo Tejo dan Nursamad Kamba membawa pembaca dalam mengenal Tuhan secara asyik karena memang Tuhan Maha Asyik. Sehingga dalam belajar mengenal Tuhan, pembaca tidak terlalu dipusingkan dengan hal-hal di luar pemahamannya karena buku ini seperti orang yang saling berbincang di warung kopi membahas tentang Ketuhanan. Ringan dan menyenangkan.

 

Buku ini berisikan kumpulan cerita yang singkat dan renyah yang memaknai keberadaan Tuhan di sekitar kita. Tuhan, agama dan manusia adalah seperangkat unsur yang komplek dan terkumpul berkat satu kata, yaitu ‘keyakinan’. Berpikir seperti itu bukanlah bentuk penolakan akan kekuasaan-Nya, melainkan sebagai usaha pencarian dan mengenal lebih dekat siapa Dia.

 

Sebagai bangsa berketuhanan yang Maha Esa, hendaknya dalam melakukan proses interaksi dan menyelami kehidupan ini, tentunya ada hal mendasarnya kita harus percaya akan adanya Tuhan. Banyak orang bertuhan tanpa mengenal Tuhan dan tidak berusaha untuk mengenal-Nya.

 

Buku ini mengajak kita untuk meluaskan hati dan pikiran dalam menampung tentang ketuhanan dan keagamaan yang lebih asyik dan lapang. Dimulai dari percakapan-percakapan singkat yang disampaikan dalam buku ini, pembaca akan menyadari untuk mentadaburi Tuhan, bukan melogikakan-Nya.

 

Kisah yang diceritakan dalam buku ini diperankan oleh tokoh yang berlatar belakang anak-anak sekolahan, namun dengan gaya pemikiran yang kritis. Tokohnya yaitu Buchori, Kapitayan, Parwati, Christine, Samin, Dharma dan Pangestu. Alasan pengambilan tokoh dalam buku ini yang mayoritas anak-anak kecil nampaknya penulis ingin memberikan pemaparan bahwa Tuhan harus dikenalkan sedari kecil kepada anak-anak.

 

Berpikir serta bernalar untuk mencari definisi definisi Tuhan telah lama dilakukan. Bahkan sejak zaman dahulu, misalnya Plato, Aristoteles dan Socrater sudah membahasnya lebih mendalam. Mencari keberadaan Tuhan dalam buku itu dikatakan itu bukanlah suatu perbuatan dosa, melainkan sebagai proses untuk menemukan kebenaran.

 

Manusia sebagai wayang dalam buku ini dikelompokkan sebagai pelaku utama dalam drama yang telah yang disutradarai oleh Tuhan selaku dalang. Maklum saja pemaknaannya seperti itu, mengingat keseharian dari penulis buku ‘Sujiwo Tejo’ adalah bermain wayang.

 

Manusia seperti wayang atau lakon yang sedang digerakan atau dijalankan oleh sang dalang kehidupan yakni Tuhan. Manusia tidak bisa lepas dari itu sehingga perbuatannya sudah tercatat oleh Sang Dalang Kehidupan.Namun bukan berarti sebagai wayang lantas bebas semaunya sendiri,ternyata ada keseriusan dalam memerankan wayang karena kemauan Sang Dalang belum bisa kita pahami dan mengerti sehingga jalan yang diambil adalah mengikuti kanjeng Nabi sebagai manusia pilihan pemimpin para manusia dalam menuju Tuhan alias Sang Dalang.

 

Dunia tidak lebih seperti permainan wayang yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Dalang (Tuhan). Sebagai wayang, manusia harus patuh akan kemauan Dalangnya, guna menyukseskan permainan-Nya. Manusia dituntut mengerti akan kemauan si Dalang dalam bertindak.

 

Manusia dapat mempelajari kitab suci yang telah Tuhan berikan kepada para utusannya. Tujuannya tak lain agar manusia  mampu menginternalisasikan sifat-sifat Tuhan dalam diri setiap hambanya. Jangan mempersoalkan bahasa yang digunakan dalam kitab suci tersebut, karena itu kemauan Tuhan untuk menjadikan bahasa tertentu dalam kalam-Nya. Bahasa kasar kita sebagai manusia hanya dituntut untuk menerima dan mencermati setiap kalam-Nya, bukan malah menolak serta meminta yang ada diluar kehendaknya.

 

Selain itu, di salah satu bab ini ada membahas tentang kebenaran, ada kutipan menarik di buku ini mengenai kebenaran itu. "Segala sesuatu mengalami perubahan.hanya Tuhan yang kekal dan abadi." Jika diterawang memang benar, bahwa seiring berjalannya waktu dan pengalaman hidup maka manusia akan memiliki perubahan.cara berfikir bisa berubah, perilaku bisa berubah dan tujuan hidup bisa berubah.

 

Namun ketika muncul kata mainstream yakni kebenaran orang banyak akan melemahkan yang bukan mainstream. Padahal letak mainstream bukan pada mainstream kejadiannya tetapi mindset setiap orang. Ingatlah bahwa kebenaran banyak orang belum tentu benar, kebenaran seseorang bisa saja benar tetapi yang pasti benar adalah kebenaran Tuhan. Sehingga mainstream atau bukan mainstream diharapkan menemukan kebenaran Tuhan.

 

Segala peristiwa yang terjadi selama ini merupakan wahyu Tuhan. Dalam hal ini Tuhan juga memberikan wahyu tersebut kepada orang yang memang tepat sebagai perantara menurut-Nya.

 

“Tuhan mewahyukan teori hukum gravitasi, misalnya kepada Isaac Newton, bukan kepada orang-orang yang hafal firman-firman-Nya. Karena Newton-lah yang paling potensial secara intelektual, memiliki kemampuan teknis untuk menjabarkannya.” (hlm. 79).

 

Dalam bukunya penulis menggambarkan bahwa manusia sebenarnya hidup dalam ruangan yang gelap, ruangan ini sebenarnya tidak kosong tetapi belum ada cahaya yang menerangi ruang tersebut. Maka muncul wahyu yang berupa cahaya-cahaya itu seperti teori-teori yang membuka mata dan pikiran kita.

 

Selain itu, dari beragam maksud di setiap babnya yang mengenalkan kita kepada Tuhan. Penulis menutupnya dengan mengembalikan Tuhan pada diri sendiri, yang berarti bahwa Tuhan itu memang dekat. Siapa yang mengenal dirinya niscaya mengenal Tuhan-nya. Sepertinya ungkapan itu yang kurasa diulang-ulang di beberapa bab secara tidak langsung.

 

Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja. Baik bagi kamu yang ingin mengenal Tuhan atau yang sedang “mencari” Tuhan.





• Resensi Buku Terkait