Resensi Buku


Cinta Sang Penjaga Telaga


Pengarang : Azzura Dayana
Penerbit : Semesta (kelompok pro-u media)
Tebal : 335
Editor : Alizar Tanjung
Resensiator : Adliza Darwis


Perjuangan Menemukan Potensi Diri Ditengah Derasnya Cinta Lelaki

 

Memang susah memilih dua hal yang kita cintai. Ketika stastus ekonomi dan beda class memisahkan dua orang anak manusia untuk menjalin hubungan yang serius. Seorang anak petani miskin yang setiap hari hanya berkuli dan bermandikan lumpur-lumpur sawah, tidak cerdas dan tidak pula cantik. Dengan sebuah keburuntungan dia disekolahkan di ibu kota Sumatra Selatan yaitu Palembang, oleh saudargar kaya dikampung Wukirsari Kec. Tugu Mulyo untuk melanjutkan study S I nya sebagai mahasiswa pendidikan matematika. Dengan modal otak yang standar dan tidak dibiayai sepersenpun oleh orang tuanya, hanya mengandalkan kemauan dan bantuan orang lain.

 

Cinta sang penjaga telaga ini merupakan novel kelima azzura dayana. Dalam novel ini azzura dayana kembali menyorot keagungan cinta anak muda, pasangan hidup, orang tua, tanah kelahiranya ditangah arus globalisasi. Ketika harus memilih mempertahankan prinsip atau masa bodoh dengan itu serta harus memilih bekerja keras dikota sebagai pemetik sayur kangkung dan menjualnya kepasar sebelum kulyah dengan dibayar 10.000rb perhari dengan berjalan kaki berkilometer. Disamping itu ia harus menghidupi seorang anak terlantar  ditangah kesulitan biaya kuliah dan membayar utang, utang yang tidak pernah ia lakukan diantara kemelut dalam pencaraian potensi diri, menghadapi kesulitan hidup, disamping itu ia juga harus menghadapi beban mental sebagai seorang wanita ditengah amukan cinta lelaki.

 

Sebagai seorang anak muda yang sangat cinta pada tanah kelahirannya, ia tidak mau desa nan elok dan alami itu berubah menjadi gedung-gedung bertingkat. Ia juga tidak mau kebiasaan anak-anak desa  serta masyarakat disana beralih kepada kebudayaan kota. Ia berusha menguatkan skill dan wawasannya untuk memberikan pelajaran dan pemahaman kepada anak-anak desa bahwa tidak untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal yang baru dan tetap pada kebiasaan lama dan mainan tradisional.

 

Dalam novel ini juga mengajak kita untuk mempertahankan sebuah prinsip, komitment, serta kebudayaan yang telah melekat dalam diri. Dimana tidak semudah itu merubah sesuatu yang yang sangat sacral dan alami hanya untuk kepentingan pribadi. Jika semua desa dijadikan kota maka akan hilang semua kebudayaan desa yang selama ini kita agaungkan. Azzura dayana menrefleksikan ekpresinya melalui novel ini dengan mengunakan bahasa yang sangat sederhana tetapi banyak mengandung makna sastra yang dialunkanya melalui baris indah, disusun seapik mingkin didalam sebuah kata didalam novel sang penjaga telaga ini.     

 

Azzura dayana juga tidak lupa manyampaikan pesan moral yang mendidik melalui bait-bait kata-katanya yang mengait kita untuk melakukan hal yang sama. Sebuah ide yang memperhatikan masyarakat luas yang menunjukan bahwah pengarang sangat peduli sekali terhadap peristiwa yang sering terjadi dimasyarakat kita saat ini. Banyak sekali yang terjadi di masyarakat kita hal serupa seperti terkikisnya budaya dan iman anak muda yang tidak mampu memvilter arus yang masuk kedesa sehingga budaya diterlantarkan kemudian hilang begitu saja, serta generasi muda mudah saja mengadaikan harga dirinya hanya kepuasan sementara. 





• Resensi Buku Terkait