Resensi Buku


Master Of the Jinn (Sebuah Novel Spiritual)


Pengarang : Irving Karchmar
Penerbit : Kayla Pustaka
Tebal : 297
Editor : -
Resensiator : Miftahul Hidayati


Perjalanan Spritual Mencari Tuhan

“Aku belum pernah melihat lanskap yang menggiriskan hati. Batu-batu granit dan bongkahan batu basal berserakan, sebagian menumpuk tiang-tiang hitam. Sama sekali tidak ada tanaman atau tanah. Batu-batu berderet seperti gigi-gigi bumi. Profesor Freeman bilang, suku Tuareg menyebut gunung itu sebagai ‘Daerah Seram’, dan aku tidak meragukannya. Aku menarik napas lega setelah melewati bukit hitam di belakang kami dan bergerak menuju Tamanrasset.”

 

Tokoh “Aku” dalam novel ini mencoba menyajikan kembali perjalanan panjangnya, mulai dari perkenakalan dengan ‘Syekh’ Sang Guru Tarekat, hidup dengan penuh kecintaan pada Tuhan bersama para ‘darwis’ (para pengikut tarekat), bertualang dengan professor Freeman, Rebeca, Kapten Simach, Ali Si Pengenal Gurun, Rami dan satu lagi tokoh kemudian, Jasus Al Qulub/Siddiq/Faqir/Marmabout (orang suci) atau Al Muazzim (tukang sihir) aneh yang sebenarnya adalah Ornias, bangsa Jin Pencuri, yang mencuri permata dari kilauan fajar sebelum alam semesta terbentang yang hidup pada masa Sulaiman.

 

Memburu Cincin Sulaiman, tujuan petualangan tujuh orang ini. Menemukan Sang Raja Dunia: Sulaiman, dalam tubuh Kapten Simach. Melintasi alam, hidup ghaib di alam Jinn demi sebuah pesan, Kebenaran Tuhan. “Tak seorang pun akan tahu ke mana kita pergi sampai kita berada di sana. Ah, kemudian gurun pasir, tempat misteri sedang menunggu untuk disingkap. Mungkin ini adalah pusaka paling besar:Cincin Sulaiman”

 

“Wahai Para darwis, ingatlah tujuan perjalan kalian. Petuhilah pemandumu. Jangan berbelok ke kiri atau ke kanan. Palingkan hatimu dari gemerlap dunia. Cinta Allah adalah Cincin Sulaiman. Carilah permata sejati, dan carilah selalu penguasa Segala Permata.”

 

Uniknya novel spiritual ini menjamah berbagai keyakinan, Islam, Yahudi dan Kristen. Melintasi Injil, Perjanjian Lama, kisah dalam Al Quran dan juga Talmud, meskipun lebih didominasi dengan warna Sufistik; Tarekat Nimatullahi.

 

Menarik. Kita diingatkan kembali dengan kisah Musa dan Khidir dalam Al Quran yang menceritakan keluasan pengetahuan Khidir. Kisah sarat makna yang tak tertangkap akal.

 

“Apakah ini semacam visi atau wahyu?”“Kau mengacaukan antara ramalan dengan mukasyafah (pengetahuan yang sudah tak terhijab lagi), dan kau tidak paham kedua-duanya.”  Namun, namanya novel, gambaran ibadah dan akidah dalam novel ini tidak bisa dianggap gambaran agama Islam. Unsur tarekat, sufistik sangat kental, karena latar belakang dari penulis adalah seorang ‘darwis’ sebuah tarekat di Amerika.

 

Misterius! Selamat berpetualang; antara keilmiahan penemuan artefak kuno, sejarah Raja Sulaiman dan mistisisme dunia Jin





• Resensi Buku Terkait