Sastra Budaya › Cerpen


OH, VALENTINE DAY

Selasa, 14/02/2012 WIB | Oleh : Sri Handini

OH, VALENTINE DAY

 

Aku berjalan di tengah keramaian kota dengan beragam kegiatan masyarakat metropolitan itu. Mereka sibuk dengan rutinitas yang setiap harinya tak jauh berbeda. Namun belakangan ini ada sedikit perubahan dari hari-hari sebelumnya ketika aku menelusuri jalan-jalan perkotaan dengan sepeda santaiku. Entah karena saat ini aku sedang tak bersama sepeda cintaku sehingga aku melihat jelas kegiatan orang-orang ini. Ditambah lagi aku yang jarang punya waktu untuk memperhatikan kegiatan orang lain karena kesibukanku.

 

Aku yang seorang operator di perusahaan swasta bekerja di dalam ruangan saat malam hari tak sempat memperhatikan yang dilakukan orang lain sebab siang hari adalah waktu istirahat bagiku. Aku melihat toko-toko berubah menjadi pinky-shoop dengan banyak pernak-pernik berwarna pink.

 

Aku terus berjalan menelusuri jalan perkotaan itu. Aku melihat banyak remaja berdiri baik bergerombolan ataupun sendiri di depan pinky-shoop.  Mereka memegang berbagai benda, ada yang berupa bingkisan berwarna dengan gambar hati, ada yang memegang bunga, permen, coklat dengan beragam bentuk dan lain sebagainya.

 

Aku meneruskan perjalananku, sampailah di sebuah taman indah yang dipenuhi bunga-bunga, sepertinya bukan bunga sungguhan yang biasa aku temui saat mengendarai sepeda cintaku sebab bunga-bunga ini sangat berlebihan ku rasa.

 

Di taman itu banyak orang bersantai ria dan kegiatan lain yang mereka lakukan, namun didominasi oleh orang-orang yang berpasangan.  Tidak seperti biasa, taman dihiasi dengan lampu berwarna-warni. Walaupun masih sore tapi lampunya telah berkerlap-kerlip. Disana juga ada sebuah panggung besar beserta hiasannya, seperti akan ada acara besar-besaran nanti malam.

 

Diantara pasangan-pasangan itu beragam pula yang dilakukannya. Aku terus berjalan hingga tiba di tempat tujuan yaitu rumah teman lamaku ketika di SMA. Tadi malam dia mengirimi aku pesan agar datang hari ini ke rumahnya. Jarak antara rumah nenekku dan temanku sekitar 1 km. Hanya beberapa petak rumah dan  gedung besar yang memisahkan jika aku melalui jalan pintas. Namun aku ingin melihat-lihat keadaan kota yang telah lama tak aku kunjungi sehingga harus menempuh jarak dua kali lipat.

 

Ketika kecil aku sering jalan-jalan disana memperhatikan kegiatan masyarakat tempat kelahiran ayahku, namun setelah tamat SMA aku tak lagi bisa melakukannya karena harus melanjutkan pendidikan ke daerah kelahiran ibuku dan bekerja disana.

 

Telah jauh perubahan disini, mulai kegiatan masyarakat serta kebudayaannya tak lagi kutemukan wanita berjilbab dalam, hanya wanita berjilbab dengan ragam model dan di atas dada ditambah dengan memakai celana jeans ketat ataupun lejing.

 

Aku ketok pintu rumah teman lamaku, aku duduk di sofa yang masih seperti saat dulu aku ke rumahnya. Tak jauh perubahan tatanan rumah sahabatku itu. Hanya warna cat rumahnya yang berbeda dan foto-foto di dinding telah banyak tambahan.

 

Temanku menyuguhkan minuman berwarna, namun aku hanya minta dibuatkan teh saja. Tak lama aku duduk di rumah temanku itu, kemudian datanglah seorang laki-laki membawa bingkisan seperti yang aku lihat tadi beserta karangan bunga dan itu bewarna pink. Aku melihat ia tak canggung masuk ke rumah temanku, kemudian langsung menuju dapur dan membacakan kata-kata cinta kepada temanku.

 

Aku mendengar laki-laki itu seolah berpuisi untuk temanku. Dari ucapannya ada kata-kata yang menimbulkan tanda tanya di benakku, namun langsung mendapat jawaban dari temanku saat ia memperkenalkan suaminya itu kepadaku.

 

“Wahai wanitaku” itulah kata-kata pertama yang tertulis di kartu berwarna pink yang mengarah ke arah tempat dudukku. Suami temanku baru saja membacakan kata-kata yang tertulis di kartu itu. Pada bingkisan yang terletak di atas lemari pendek pembatas ruang tamu dan ruang makan itu terdapat kata-kata bertuliskan “Happy Valentine Day”. Aku baru ingat kalau sekarang tanggal 14 Februari, adalah hari Valentine bagi mereka yang merayakan. 

 

Aku pamit kepada temanku setelah lama berbincang dan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah nenekku. Dengan mengendarai sepeda yang dipinjamkan temanku aku kembali ke rumah.

 

Aku melihat jam menunjukkan pukul 8.30 WIB. Aku telah terbiasa dengan keadaan malam sehingga tak merasa takut saat keluar malam sendirian. Aku kembali melewati jalan yang tadi saat sebelum pergi. Aku melihat hari semakin gelap semakin ramai orang di taman itu. Kebanyakan dari mereka adalah ABG, juga ada pasangan dewasa. Seperti semua kalangan ada di sana.

 

Kuperhatikan kegiatan orang-orang itu tak jauh beda dengan yang dilakukan suami temanku tadi, bahkan ada yang berlebihan ditambah lagi kebanyakan mereka masih anak sekolahan. Aku lanjutkan mengayuh sepedaku dengan memperhatikan keindahan kota di malam hari.

 

Di perjalanan aku bertemu dengan beberapa orang yang berpakaian putih ia mengarah ke taman tempat acara diadakan. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar mereka mengucapkan kata-kata Valentine. Aku berhenti dan berbalik memutar arah sepedaku mengejar mereka yang tak jauh dariku.

 

“Maaf ustadz, barusan saya mendengar ustadz mengucapkan kata Valentine. Bisakah ustadz jelaskan sedikit tentang hari Valentine?” 

 

“Saya sering mendengar tentang Valentine Day ini, tapi tak mengatahui makna sebenarnya, mohon dijelaskan Ustadz” kataku pada salah seorang diantara mereka yang memakai celana dasar hitam dan memangku sajadah di pundaknya.

 

Ustadz itu pun memulai ceramahnya yang ku tangkap inti dari penjelasan ustadz bahwa orang Islam tidak boleh merayakan hari Valentine sebab perayaan Valentine bukanlah perayaan orang Islam melainkan non Islam.

 

Hari Valentine adalah hari dimana seorang pendeta bernama St. Valentinus meninggal dunia dipenggal kepalanya karena menentang perintah Kaisar Claudius II yang melarang laki-laki menikah pada abad ke III. 

 

Kaisar Claudius II menginginkan para laki-laki fokus pada peperangan tanpa takut meninggalkan anak dan istri yang mereka kasihi. Namun St. Valentinus tetap menikahkan mereka yang sedang jatuh cinta walaupun secara rahasia.

 

Sampai akhirnya kepala St. Valentinus di penggal pada tanggal 14 Februari karena hukuman kaisar  yang terkenal kejam serta dianggap sang pengenyah cinta. Sehingga pada tanggal 14 Februari di peringati sebagai ‘Hari Kasih Sayang’ di berbagai belahan dunia untuk mengingat St. Valentinus sebagai pejuang cinta.

 

Kemudian ustadz tersebut melanjutkan perjalanannya setelah berceramah panjang lebar kepadaku. Aku heran kenapa orang-orang Islam masih saja mengikuti perayaan yang tidak mereka tahu motifnya.

 

Aku penasaran jika mereka mengetahui sejarah Valentine Day yang kata ustadz atau guruku mengaji ketika SMP itu menuai banyak versi dalam sejarahnya dan tak tau mana kejelasannya. “Uh, untuk apa kita mengikuti perayaan yang tidak jelas asal usulnya itu.” Gumamku sendiri.

 

“Dan yang paling jelas adalah bahwa itu bukanlah perayaan umat Islam namun bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor.” Tambah guru mengajiku sebelum ia pulang ke rumahnya yang tak jauh dari taman. Dan itu menjadi peganganku untuk tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine.

 

Sesampai di rumah nenek aku meletakkan sepeda yang dipinjamkan temanku tadi di garasi dan masuk ke rumah. Begitu terkejutnya aku ketika menemukan bingkisan pink dan kartu Valentine Day barada di  atas ranjangku.

 

“Selamat hari valentine ya cucuku.”




• Cerpen Terkait