Sastra Budaya › Cerpen


Panggil Aku Kakak

Senin, 19/03/2012 WIB | Oleh : Muhammad Noli Hendra*

“Semenjak kamu hadir di panggung sandiwara ini. Kamu tidak pernah menyapaku dengan sebuah kata-kata yang nyaman ku dengar. Aku akan mendapatkan sebuah keajaiban, apabila aku, kamu panggil aku kakak,”.


Meskipun aku tidak pernah marah padamu, tidak pernah meniti jantungmu. Tapi aku masih membanggakanmu, bahwa kamu adalah adikku. Terkadang aku menangis dan tersadu, ketika malam yang ku lalui begitu panjang. Tapi, tahukah kamu. Aku masih memikirkanmu, kanapa kamu tidak mau memanggilku kakak. Apa karena wajahku masih kelihatan anak-anak, apa tubuhku terlalu kecil untuk mu. Sehingga kamu berani memotong harapanku, dan kamu tahu apa harapanku. Aku ingin punya adik, dan adikku itu memanggilku dengan kata-kata “Kakak.” Tetapi kenyataan yang ku terima warna warni saja.

Saat aku lagi menonton televisi, aku melihat kakak dan adiknya yang saling sahut menyahut dengan memanggil nama satu sama lain. “Hai kakak, hai adik.” Meskipun itu hanya dalam sinetron belaka, tapi aku ingin seperti itu.


Meratap, jika aku terlalu mengikuti rasa sedih hatiku, mungkin aku akan meratap. Ingin rasanya ku robek otak kecil ku ini, maka akan ku cabut kata-kata kakak yang ada dalam otak ku. Dan jika ku bisa, aku tidak ingin terlahir menjadi anak yang pertama, biarlah aku menjadi anak yang terakhir. Aku pasti akan menjerit dan memanggil kakak kepada orang yang telah dahulu dari diriku, dan aku akan datang padanya apabila aku membutuhkan belain kasih sayangnya.

 

***

“Kakak, bangun lagi, katanya mau menghantarkan adik ke sekolah? Bangun donk kak,”. Sang kakakpun terperanjat dan keget, pagi-pagi hari adiknya ada di sampingnya dan membangunkannya tidur. “Adik panggil aku siapa?” Terlihat wajah yang heran di wajah sang adik, “Aku bilang tadi, kakak bangun lagi. Apa aku salah memanggil kakak, atau ingin aku panggil dengan nama kakak saja?” Dengan senang hati, kakakpun bergegas mandi, karena saki senangnya hati, sang kakak lupa untuk gosok gigi. Ketika sang kakak mencoba untuk menggosok gigi, tiba-tiba muncul wajah yang aneh di kaca kamar mandinya. “Aaaaaaaa.”


***

“Adik…” tiba-tiba kakak terjatuh dari tempa tidurnya. “Ternyata aku hanya mimpi.” Termenung dan memundurkan kembali ingatan yang sempat hanyut ke alam mimpi. Air yang jernihpun menetes di wajah sang kakak, karena mengingat mimpi itu.

 

Ternyata kata-kata kakak itu sangat di impi-impikannya. Sejak dari kejadian itu, sang kakakpun jatuh sakit, dikarenakan terlalu banyak berpikir.

 

Terbujur tanpa senyuman di atas kasur yang diselimuti kain yang berwarna merah jambu, sang kakak masih memikirkan tentang dirinya. “Kenapa aku harus menerima semua ini ya Allah, berdosakah aku menginginkan adikku menanggilku dengan sebutan kakak, padahal aku sangat menyayangi adikku itu.”

 

Lukisan yang terukir di atas loteng rumahnya itu, membuat sang kakak terfokus dan sangat serius menghitung benda-benda yang bergantungan itu menghantarkan ia untuk menenangkan pikirannya dari kata-kata kakak.

 

Entah kapan, entah sampai bila. Penderitaan akan keinginan untuk dipanggil kakak akan berakhir. Terpancar wajah putus asa di wajahnya, “Aku tidak harus meminta dipanggil kakak, suatu saat aku pasti akan pergi dari hidup ini adikku, biar adik tahu, bahwa aku adalah kakakmu.”


Ketenangan dan mengalah terhadap perasaan, itulah obat untuk penyakit yang diderita oleh sang kakak beberapa hari yang lalu. Menatap menunggu matahari terbit, tentu menjadi hal yang sangat menyenangkan. Apalagi dalam hari yang sama juga melihat matahari terbenam.

 

“Kamu kenapa? Beberapa hari ini muram saja?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan sang adik kepada sang kakak. “Aku hanya menginginkan matahari itu tahu, kalau ingin menjadi seperti dia, yang telah memberikan penerangan dalam kegegelapan dan kehangatan dalam kedinginan. Kepada umat manusia di muka bumi ini.

 

Aku ingin menjadi orang yang berarti, hanya itu saja.” Bersamaan dengan deru angin yang berhembus, sang adik menyatakan kata-kata yang bersifat teka-teki. “Kakak, kalau ada lelaki, pasti ada wanitanya, kalau ada malamnya, pasti ada sianganya, dan kalau ada atasnya, pasti ada di bawahnya, kalau ada kakek, pasti ada neneknya, kalau ada ayah, pasti ada ibu, kalau ada adik, pasti ada kakaknya. Dan jika saya ini adalah anak yang paling kecil dikeluarga ini, berarti kamu adalah anak yang tertua. Tapi kenapa aku merasa tidak punya kakak ya?”


Sang kakakpun kaget dengan pernyataan dari adiknya itu. “Kalau kamu ingin merasakan adanya seorang kakak di rumah kita ini, kenapa kamu tidak pernah melontarkan sepatah katapun untukku, dengan memanggilku kakak? Kamu tahu, aku ingin dipanggil kakak! Panggil aku kakak.”
“Aku akan menjadi adikmu yang akan membahagiakanmu kakak” itu kata-kata ajaib yang diucapkannya sang adik untuk kakaknya. Haru birupun menghujan disuasana yang tidak bernuansa bintang itu.

 

“Coba kamu ulang lagi adikku.” Sang adikpun memeluk kakaknya. “Aku sangat menyayangimu kakakku.”

*Penulis merupakan Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Imam Bonjol Padang/PSDM LPM Suara Kampus




• Cerpen Terkait