Sastra Budaya › Cerpen


Ketika Langit Masih Biru

Rabu, 18/07/2012 WIB | Oleh : Lolli Adriani*

Hening. Sepi. Perlahan Siti menyapu pandangannya ke seluruh sudut Masjid Kampus yang besar ini. Tak ada satupun orang yang terlihat. Ia melirik arloji. Pukul 11.35 WIB. Hmm. Pantas saja, pikirnya. Waktu zuhur masih lama masuknya. Mungkin mahasiswa-mahasiswanya sedang kuliah ataupun beraktivitas yang lain.

 

Huah, Siti menahan kuap. Pelan, dibaringkannya tubuhnya. Ya Allah, panasnya hari ini, keluhnya. Seperti potongan-potongan adegan di film, semua pikiran itu tiba-tiba saja berkelebat. Ibunya yang sedang sakit di rumah, adiknya yang menunggak SPP 3 bulan, ayah yang baru di-PHK, Handphonenya baru kemalingan tadi pagi, ya Robbii…rasanya Siti ingin protes. Protes sama Allah, kenapa cobaan ini menghampirinya bersamaan? Bertubi-tubi?

 

Sekarang ia tak punya apa-apa. Tak bisa berkomunikasi pada siapapun. Menghubungi sahabatnya, Lilis pun tak bisa. Untunglah, dompetnya tidak ikut melayang. Salahnya sendiri tadi pagi di angkot yang sesak, meletakkan Hp di kantong rok. Ya mudah saja bagi si pencuri untuk mengambilnya.

 

Astagfirullah..kembali, rasa sesak itu kian terasa. Dadanya terasa penuh. Ada yang menghentak-hentak disana. Duhai, betapa malangnya aku. Siti mengasihani dirinya sendiri. Sebulir air mata meluncur begitu saja dari sela-sela pipi.

 

Perlahan, Siti mendengar suara langkah kaki. Segera saja ia bangun, malu dilihat lagi tidur-tiduran. Ooh.. seorang nenek-nenek. Ia mengamati. Dan rasa iba tiba-tiba saja terbit melihat pemandangan di depannya. Pakaian yang dikenakan si nenek sudah compang-camping, warnanya sudah pudar, dan kerudung nya pun bernoda. Beliau membawa sebuah map lusuh berwarna merah. Si nenek tersenyum pada Siti, lalu langsung membaringkan diri di sebelahnya. Aroma tidak sedap pun menguar. Bau keringat, bau balsam.

 

“Udah masuk waktu zuhur nak?” sapa nenek itu sambil memejamkan mata. Terlihat sekali gurat keletihan di wajahnya yang keriput.

 

“Belum, Nek, kira-kira satu jam lagi.”jawab Siti dengan ramah.

 

Si nenek memandangi Siti.

 

“Mahasiswa sini ya Nak?”

 

“Iya, Nek. Saya kuliah di Fakultas Sastra”

 

“Ooh..sendiri saja?Kuliahnya sudah selesai?”

 

“Hari ini gak ada kuliah Nek, saya ada acara nanti siang”

 

“oohh..”

 

Lalu kembali hening. Nenek itu masih saja memandangi Siti, seakan-akan menunggu Siti mengatakan sesuatu.

 

“Nenek dari mana?” akhirnya, pertanyaan itu terlontar dari mulut Siti.

 

Si nenek terlihat begitu senang, ternyata beliau  menunggu ditanya sejak tadi

 

“Dari rumah, seharian ini ngantar ini” disodorkannya map merah lusuh tadi ke tangan Siti.

 

Perlahan, Siti membukanya. Ada selembar surat disana. Siti membaca, itu surat permintaan dana. Ditujukan pada walikota. Di bawahnya ada stempel dari kecamatan.

 

Siti tertegun. Di balik surat itu terdapat sebuah kartu pasien. Dilihatnya identitas rumah sakit di kartu tersebut, dan Siti pun semakin tertegun. Ini.. ini kartu pasien rumah sakit jiwa terbesar di kota ini.

 

Sang nenek melihat perubahan wajah Siti. Dan cerita itu pun meluncur begitu saja dari mulutnya yang keriput.

 

Kartu itu milik anaknya yang kedua, perempuan berusia 55 tahun, yang menderita penyakit saraf. Sudah dua tahun ia bolak-balik rumah sakit, karena depresi. Suaminya kabur dengan perempuan lain, meninggalkan ia dan dua orang anaknya.

 

Anaknya pun sudah berumah tangga, keduanya laki-laki. Mereka berdua jadi TKI ke Arab Saudi sejak empat tahun yang lalu, dan tak pernah memberi kabar sejak itu. Entah,masih hidup atau tidak di negeri orang.

 

Anak si nenek yang pertama sudah meninggal, karena diabetes, tiga tahun yang lalu. Istri dan anak-anaknya kemudian pindah ke Kalimantan, dan juga hilang tak tau rimbanya sampai saat ini.

 

Si nenek sayangnya hanya memiliki dua orang anak, dan beliau tinggal dengan anak perempuannya yang sakit di sebuah rumah kontrakan kecil. Suami si nenek sudah meninggal juga berpuluh-puluh tahun yang lalu, karena kanker paru-paru yang dideritanya.

 

Dan begitulah, sejak si anak yang bernama Rosmini itu sakit saraf,  nenek itu sendiri lah yang menjadi tulang punggung. Kedua cucunya dititipkan sama tetangga, sementara setiap hari beliau berkeliling meminta sumbangan dari orang-orang, atau dengan kata lain sebagai pengemis. Peminta-minta.

 

Masya Allah.

 

Merinding rasanya mendengar kisah hidup sang nenek. Siti harus berkali-kali menahan napas sekaligus menahan air matanya agar tidak jatuh. Sungguh tegar nenek ini, sungguh luar biasa nenek ini.

 

Rasa malu tiba-tiba saja menyerangnya begitu rupa. Duh, Allah, musibah yang Engkau timpakan padaku belumlah ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan nenek ini. Betapa malunya aku, mengeluh padamu. Nenek ini saja menjalani hidupnya dengan tegar.

 

Ada butiran bening yang jatuh di sela pipi yang keriput itu. Ia kemudian menggenggam map merah lusuhnya dengan erat.

 

“Hanya ini harapan nenek, Nak. Berharap pemerintah mau membantu dan mengasihani kami. Kasihan anak nenek. Obatnya mahal. Harus dibeli secara rutin,” suaranya melemah.

 

Siti tak bisa berkata apa-apa. Tak tau juga harus mengatakan apa. Andai saja..andai saja ia dapat menolong. Ah, Rabbi. Apa yang dapat kulakukan? Ia teringat uang 50 ribu nya di dompet. Lembaran satu-satunya. Untuk beli obat Ibunya rencananya. Keinginan untuk memberikan pada nenek itu ada, tapi ia ragu-ragu. Jika kuberikan, dengan apa beli obat Ibu nanti? Terbayang sorot mata Ibu di rumah, susah payah menahan sakit. Ah, Allah..help me!

 

Pelan, suara azan terdengar. Sudah hampir satu jam  ternyata nenek itu bercerita. Siti menengok sekeliling masjid. Tampak beberapa akhwat sudah datang, dan mulai bersiap-siap untuk berwudhu. Mereka sesekali melirik padanya, dan nenek tua yang berbaring di sebelahnya. Mata nenek itu terpejam. Siti sadar, mungkin beliau kelelahan, hingga akhirnya tertidur.

 

Gamang, Siti berjalan ke tempat wudhu. Bingung. Dilema. Di satu sisi, ia sangat ingin menolong meringankan beban sang nenek, walau mungkin tak seberapa.Tapi, di sisi lain ia pun tak bisa mengenyahkan pikiran Ibunya yang sedang sakit di rumah dan butuh obat. 

 

Siti mengusap muka dengan ujung jilbabnya. Ah, yang penting shalat dulu. Mudah-mudahan nanti Allah memberi petunjuk, batinnya.

 

Namun, betapa kagetnya gadis berusia 20 tahun itu, ketika kembali ke dalam mesjid, sosok nenek tersebut sudah tak kelihatan. Kemana beliau?? Ia melihat sekeliling, nihil. Si nenek tak terlihat di manapun. Kenapa cepat sekali menghilangnya?Apa dia hantu? Malaikat yang menyamar jadi manusia?

 

Ah, Siti cepat-cepat mengenyahkan pikiran itu. Mungkin si nenek memang sudah pergi. Itu saja.

 

Kekecewaan menggelayuti hatinya. Belum sempat ia mengucapkan hati-hati dan kata perpisahan pada sang nenek. Belum sempat juga ia memutuskan untuk memberi beliau sedikit bantuan berupa uang. Ah, tiba-tiba saja Siti bertekad untuk membantu nenek itu jika mereka bertemu lagi hari ini. Soal obat Ibu, nanti sajalah dipikirkan, tekadnya.

 

Shalat zuhur berjamaah akhirnya selesai. Setelah berdoa, Siti pun siap-siap untuk berangkat ke fakultasnya, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari masjid ini. Pikirannya sudah jauh lebih tenang setelah shalat. Selain itu, pertemuan dengan nenek tadi pun telah mengubah suasana hatinya, memberinya banyak pelajaran tentang hidup.

 

Siti tersenyum.  Bersyukurlah Siti, ucapnya dalam hati. Bersyukurlah akan karunia Allah yang masih diberikan padamu hingga saat ini.

 

Di tengah perjalanan, tiba-tiba dari arah berlawanan Siti melihat sosok nenek tadi! Berjalan ke arahnya. Alhamdulillah, Siti bersorak senang dalam hati. Wajahnya berbinar-binar. Teringat tekadnya di mesjid tadi, ia segera merogoh dompet di dalam tasnya.

 

Belum sempat ia menyapa, nenek tsb lah yang menyapanya duluan ketika akhirnya mereka bertemu. Alangkah kagetnya Siti, ketika nenek itu berkata

 

“Nak, nenek mau minta sedikit kemurahan hatinya. Sekedarnya saja. Ini, silahkan dibaca dulu”

 

Beliau kemudian menyodorkan map merah lusuhnya.

 

Siti tertegun. Mana mungkin nenek ini secepat itu melupakannya? Padahal barusan mereka baru bercerita panjang lebar? (lebih tepatnya, si nenek yang bercerita). Tapi Siti segera istigfar. Tentu saja kemungkinan itu bisa terjadi, mengingat usia nenek itu yang sudah mencapai 90-an. Segera saja diambilnya lembaran 50 ribuan yang dimilikinya, lalu diserahkannya ke tangan si nenek yang gemetar.

 

“Saya cuma punya segini Nek. Mudah-mudahan berkah ya”

 

Si Nenek menangis melihat nominal uang yang diterimanya. Tak henti-hentinya mulut beliau mengucapkan lafadz Hamdalah. Sekaligus mendoakan Siti agar jadi sukses. Siti hanya bisa menahan haru. Aamiin. Aamiin Nek, batinnya.

 

Ada yang meluap-luap di dalam hati Siti saat ia meneruskan langkah. Bahagia, sungguh. Tak bisa dibeli dengan apapun kebahagiaannya hari ini, melihat ekspresi di wajah nenek itu. Sungguh, ia merasa orang paling kaya di dunia siang ini. Siti ingin menangis, berteriak, melompat. Allah, Allah. Perasaan apa ini? Cepat-cepat dihapusnya air matanya yang dengan tak tahu malunya mengalir deras.

 

Siti tersenyum, senyumnya paling tulus untuk hari itu. Dan kebahagiaannya bertambah ketika di ujung koridor bayangan sahabatnya, Lilis, mendekat dengan wajah sumringah. Lilis memeluknya erat.

 

“Sitiiiii…Hp mu kemana,kok gak aktif????????Aku hubungi sejak tadi gak bisaaa!!”

 

Siti hanya tersenyum mendengar omelan sahabatnya itu, tak tahu harus mulai darimana.

 

“Aku punya berita bagus banget untukmu! Tau nggak, pengumuman Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional itu udah keluar barusan. Kamu juara satu, Siti! Kamu! Sepuluh juta Siti! Sepuluh Juta!!” wajah Lilis sampai memerah saking semangat dan bahagianya. Pelukannya semakin erat.

 

Oh, Allah..Siti hanya bisa memandangi langit biru dari balik bahu Lilis.

 

Cerah sekali langit-Mu hari ini…

 

*Penulis Adalah Mahasiswa Akuntansi Unand ‘08




• Cerpen Terkait