Sastra Budaya › Cerpen


Lumbung Padi

Kamis, 27/09/2012 WIB | Oleh : Ulfa Yasirly

“Aku lapar Mak,” ucap si Bujang mengiba. Amak menatap anaknya tak bergeming.

 

“Maak… Perutku lapar..”, kembali bujang muda 15 tahunan itu menepuk-nepuk kecil pundak Ibunya yang duduk di langkan. Amak masih terpaku diam.

 

“Mak…”si Bujang mulai menangis.

 

Kali ini Amak menoleh kepada anaknya. “ Sudah! Diam! Jangan lagi kau merengek seperti itu, macam anak kecil saja. Cobalah kau ke lumbung, lihat di dalamnya, jika tidak kau temukan sebutir beras, berarti kau tahu jawabannya,” Amak terlihat kesal. Keningnya yang keriput semakin mengeriput. Entah apa agaknya yang membuat Amak kesal ketika menjawab pertanyaan anak bujangnya yang semata wayang itu. Mungkin Amak sedang berfikir keras. Bagaimana caranya agar mendapatkan uang untuk membeli beras.

 

Sudah 6 tahun Abak pergi meninggalkan mereka. Semenjak itu pulalah kehidupan mereka diselubungi masa sulit. Semasa Abak hidup, mereka bisa dibilang orang berada. lumbung padi tak sempat kosong, karena hasil padi mereka selalu berlimpah tiap tahunnya.

 

Dengan langkah pasti, bujang muda itu berjalan menuju lumbung padi yang terletak di samping rumah mereka. Dia berharap bisa menemukan beberapa  butir beras untuk dimakan sore ini. Bagaimana tidak? dari semalam perutnya belum terisi,  kecuali segelas dua gelas air yang juga tidak dimasak.

 

Setiba di lumbung, matanya menoleh ke setiap sudut ruangan mungil persegi empat itu. Mencari butiran beras yang tersekat di antara lantai batung, Ia mengorek, mengais seonggok jerami yang ada disalah satu sudut lumbung. namun, puas mencari, hasilnya tetap nihil.

 

“Sial” gumamnya. Si Bujang berbalik menemui Amaknya. Pintu lumbung dibiarkannya terbuka, namun Amak yang dicarinya tidak ada lagi di langkan. Dicarinya pula Amak ke dapur. Mungkin saja Amak sudah mendapat pinjaman beras dari tetangga sehingga Amak bisa menanak beras itu. Tapi, tetap saja Amak tak ditemukan. “Amak kemana ya?”, bisiknya dalam hati. “Ah! Sudahlah, mungkin Amak pergi meminjam beras.”

 

Bujang mencoba duduk tenang di ruang tamu. Sesekali dimainkannya yoyo  yang dibelikan Abak dulu. Bujang mencoba mengabaikan rasa laparnya. Akan tetapi tiba-tiba wajah Amak muncul di benaknya. Ia cemas jika terjadi sesuatu sama Amak. Namun sesaat kemudian  kecemasan itu terhenti karena Bujang tak sengaja tertidur di kursi rotan. Kepalanya berbantalkan tangan kursi. Si Bujang terlihat sangat lelap. perutnya  kempis, karena tak sebutir pun nasi masuk ke lambungnya dari malam kemarin. Kekurangan tenaga itulah yang membuatnya lemas tak berdaya.

 

Beberapa hari terakhir induk beranak itu selalu kesulitan dalam hidup. Sawah mereka yang berpetak-petak telah habis digadaikan kepada Uwo Ijah, perempuan tua kaya yang selalu menjadi tempat bagi orang kampung untuk mengadu, menggadaikan sawah mereka.

 

Amak dipaksa Adiknya untuk menggadai sawah. Mamak Bujang itu tak segan mengancam Amak jika Amak tak mau membantunya. Begitu pula Etek si Bujang. Sudah lama perempuan itu iri terhadap keberhasilan Amak. Dia berusaha untu mencuri harta Amak. Beberapa surat tanah pun berhasil dicurinya. Amak yang sudah tua tak dapat berbuat apa-apa. Kini sepetak sawahpun tak lagi menjadi miliknya.

 

Jika diingat masa dulu, Abak si Bujang termasuk jaya di kampungnya. Ia terkenal ulet dalam bekerja. Tiap pagi selalu rajin ke sawah untuk melihat keadaan sawah. Tak jarang Amak bujang ikut bersamanya. Mereka Pergi pagi pulang petang. Begitulah kegiatan yang selalu rutin dikerjakan  setiap hari. “Maklumlah Ros, untuk bertahan hidup memang butuh pengorbanan.” Kalimat itulah yang selalu diucapkan Abak kepada Amak disela istirahat mereka.

 

Tidak hanya itu, suami istri itu sangat tangguh dalam bekerja. Semua pekerjaan di sawah mampu dikerjakan berdua, tanpa mengupah orang untuk membantu. Bukannya pelit, tapi bagi keduanya selagi masih bisa dikerjakan berdua mereka akan mengerjakannya berdua. Mulai dari membajak, membuat pematang, menyebar benih, memupuk, menanam benih sampai memanen. Sungguh itulah anugerah yang diberikan Tuhan kepada suami istri itu di masa mudanya. Sehingga  dalam waktu yang tidak begitu lama, mereka mampu membeli berpetak-petak sawah, beberapa kerbau, juga mampu membeli emas sebagai simpanan.

 

Mereka juga lama dianugrahi anak. Sudah 15 tahun menikah belum juga ada tanda-tanda Amak si Bujang mengandung. Si Bujang saja lahir ketika usia pernikahan mereka sudah dua puluh tahun. Kehadiran si mungil itulah yang membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah. usahapun semakin melimpah. Mungkin itulah rezki untuk anak semata wayang mereka. Mana pernah si Bujang merasa kelaparan. Tidak ada sejarahnya keinginan Bujang yang tidak ia penuhi. Mungkin kondisi melarat saat ini tak pernah terbayangkan bagi mereka sebelumnya.

 

Jam dinding berdetak dua belas kali. Hari telah larut malam. Di kegelapan, muncul seseorang dari balik parak. Amak bujang rupanya. Amak berjalan tergopoh-gopoh  menuju rumah. Wajahnya tak terlalu ditekuk seperti tadi sore. Di tangannya tergenggam sebuah punjin kecil. Entah apa gerangan yang ada di dalamnya. Beberapa detik kemudian tiba juga langkahnya di depan pintu. Ia lalu berteriak memanggil si Bujang.

 

“Bujang… Bujang…” Katanya sambil membuka pintu.

 

Dilihatnya Bujang telentang di kursi rotan.

 

Si bujang masih diam. Letih sekali tampaknya, sehingga tak mau terbangun.

 

Amak mendekati Bujang perlahan. Diciumnya kening anak kesayangannya itu. Diusapnya sayang. “Bujang.. bangun Nak, Amak dapat uang, kita bisa beli beras besok ,” bisik Amak di telinga Bujang.

 

Bujang akhirnya terbangun. Dilihatnya Amak yang berada di sampingnya. “Dari mana, Mak?, Aku mencemaskan Amak, Aku takut terjadi apa-apa dengan Amak?” bujang bertanya cemas pada Amaknya.

 

“Tadi Amak ke rumah Mamak kau. Amak meminjam uang,” jawab Amak pelan.

 

“Benar mak?” Sambung Bujang dengan wajah berbinar.

 

“Berarti kita bisa makan ?” timpanya lagi.

 

“Benar Bujang, tapi bersabarlah kau hingga besok. Sekarang hari telah larut malam. mana ada lapau yang buka.” Amak berusaha meyakinkan Bujang. “Sekarang lanjutkanlah tidurmu, kasihan anak amak sudah letih sekali.”

 

Bujang bejalan gontai menuju biliknya. Merebahkan badannya di atas kapuk tua yang tidak lagi empuk. Memang sudah lama kasur itu tidak dijemur oleh amak. Maklumlah banyak hal yang terlalu dipikirkan amak akhir-akhir ini, sehingga membuatnya lupa mengurus bilik si Bujang. tambah pula tubuh tua Amak juga tak sanggup berbuat banyak. pekerjaan di masa mudanya telah menyedot habis kekuatan Amak untuk bekerja.

 

Amak duduk berselonjor di ruang tengah. badannya sangat letih. Terlalu jauh perjalanan yang ditempuhnya. Pekerjaan yang dilakukannya pun terlalu berat untuk orang sepertinya. Ditambah lagi ia belum makan sejak kemarin malam. Sungguh tak dapat dibayangkan. Amak tak sanggup lagi melakukan apa-apa. Tubuhnya menuntut untuk segera beristirahat.

 

Saat ini umur Amak bujang genap 65 tahun. Dari segi umur Amak memang belum bisa dibilang renta. Tapi jika dilihat dari tubuhnya, amak terlihat tua dua kali lipat dari umurnya. Garis-garis wajahnya sudah banyak terlihat. kepalanya pun telah memutih. Otot-otot tubuhnya tak lagi sekuat dulu ketika Ia dan Suaminya bekerja di sawah. Mungkin karena perasaian. Sepeninggal Abak sudah bertubi-tubi derita yang dirasakan Amak.

 

Sebelum tidur, Amak  menguatkan dirinya untuk melakukan shalat malam. Ia ingin mengadu kepada Tuhan. menutup malamnya berdua dengan Rabbnya. Perlahan dilangkahkannya kaki menuju sumur di samping rumah, sumur itu bersebelahan denga lumbung padi. Pelan sekali amak melangkah, berjalan tanpa bantuan alat penerang jelas akan sulit. Tiba-tiba, “Bruuuuuuuukk…” Kaki Amak tersandung batu besar yang ada di kaki lumbung, tubuh renta Amak terjatuh. Kepalanya terhempas ke dinding lumbung. pandangannya mengabur, hingga akhirnya amak pun terkapar tak lagi bergerak.

 

Bujang bangun ketika matahari telah keluar dari pesembunyiannya. Ia merasakan lapar yang teramat sangat. perutnya berbunyi meminta makanan. Dilihatnya Amak dikamar, tak ada. Ia melangkah ke dapur, juga tak ada. “Ah, mungkin saja Amak sedang pergi ke lapau” pikirnya.

 

Ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu, “Amaaaaaaaaaaaaakk..!” Ia terpekik menyaksikan tubuh Amaknya yang terbujur di dekat lumbung. Digoyang-goyangnya tubuh Amak. Amak tetap diam. Bujang semakin cemas. Ia berlari cepat keluar rumah memanggil tetangganya. Ternyata , Amaknya telah tiada.

                                                . . . .

Sudah dua hari Amak meninggalkan si Bujang sendiri. Mamak dan Eteknya pun sudah kembali ke rumah mereka. begitu juga orang-orang kampung yang dua hari kemarin mengaji di rumahnya. Kini di rumah itu hanya ada si Bujang. Ia tak lagi peduli dengan perutnya yang lapar. Nasi dan sambal yang dibuat Eteknya  pun tak pernah disentuhnya. Waktu itu sudah genap 3 hari 3 malam Bujang tak makan.

 

Hanya wajah amak yang ada dipikirannya. Amak yang selama ini telah merawatnya dalam kondisi tak berpunya. Amak yang selalu menanggung derita karena ulah dunsanak mereka.

 

“Entah mengapa pula mereka datang saat Amak meninggal,” gerutu si Bujang. “Dasar muka dua”!

 

Tak lama kemudian, Bujang mendengar suara pintu diketuk. Si bujang melangkah keluar membukakan pintu. seorang Laki-laki paro baya tersenyum ramah pada Bujang.

 

“Silakan masuk, Pak” Bujang berusaha tersenyum menyembunyikan duka yang sedang menyelimuti hatinya. Bapak itu masuk dan mengucapkan terima kasih.

 

“Maaf Pak, Bapak ini siapa”? tanya Bujang.

 

“Maaf sebelumnya Nak bujang, Bapak adalah pemilik heler tempat ibumu bekerja tiga hari yang lalu. Maaf juga baru bisa datang kemari. Bapak mendengar berita ini baru tadi jadi bapak langsung ke sini. Bapak mengucapkan bela sungkawa kepada nak Bujang.”

 

“Apa pak, Amakku bekerja di heler bapak?” Bujang terkejut merasa tak percaya.

 

Benar nak, sore itu Ibumu mendatangi heler Bapak. Ibumu memohon pada Bapak untuk memberinya pekerjaan. Kata ibumu dia butuh uang. Bapak tidak tega menyuruh Ibumu bekerja, tapi Ibumu memaksa. Ia tidak mau mendapatkan beras tanpa usaha apa-apa. Kebetulan pekerjaan yang tersisa adalah mengangkat karungan kecil dedak. Ibumu bersedia mengangkat itu. Maaf nak Bujang, bapak terpaksa”, Bapak itu menjelaskan dengan rasa penuh salah.

 

“Jadi Amak berbohong kepadaku meminjam uang dari Mamak, kenapa pula aku tak berfikir”? Mana mungkin Mamak kurang ajar itu mau membantu kami. Dia bahkan tak menganggap kami ada”, Bujang geram, terpekur sambil menangis.

 

“Nak bujang, nak bapak ada sedikit uang untuk nak Bujang.” Bapak itu menyerahkan satu amplop kepada Bujang. “Anggap saja ini adalah sisa gaji Ibumu kemarin”.

 

“Bapak permisi dulu ya nak, ada yang mau bapak urus di heler.” Katanya menimpali.

 

Bujang menjawab dengan anggukan, seraya mengucapkan terima kasih. Ia kembali duduk di kursi rotan. Dibiarkan saja amplop itu diatas meja. Hatinya masih menyimpan geram juga sesal. menyesali dirinya sendiri. kenapa Ia tak bisa membantu Amaknya selama ini.  Ia hanya bisa merengek meminta makan, tanpa tau bagaimana cara Amak mendapatkan uang untuk makan. Maafkan aku mak tak terasa air matanya mulai menetes.




• Cerpen Terkait