Sastra Budaya › Essay


Orang Minang Bukan Kabau

Kamis, 04/10/2012 WIB | Oleh : Muhammad Noli Hendra

 

“Makannyo banyak, gapuak yo sabana gapuak, sahinggo gadang paruiknyo dari pado ikua. Kok dapek karajonyo mandi ka mandi sajo, maleh bahusaho, kok bisa karajo saketek pendapatan gadang. Kalau ndak dapek apo nan dikandakannyo, namuah mananduak orang lain. Akibatnyo, sanang dek inyo, sasaro di urang lain.”

 

Cerita tentang sebuah nama Minangkabau, bahwa pada dahulu kalanya, ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Pagaruyung, yang terletak di Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Hendak di serang dari Kerajaan Majapahit. Mendengar kabar tersebut, Kerajaan Pagaruyung berniat untuk mengadakan peperangan. Namun, ada penasehat dari kerajaan, mengingat dan menimbang, jika diadakan peperangan, nanti imbasnya kepada rakyat dan bisa terjadi pertumpahan darah. Berdasarkan pertimbangan yang demikian, akhirnya penasehat tersebut mengusulkan adakan perundingan yaitu adakan adu kerbau. Sang raja pun menyetujui usulan dari penasehat, dan hingga akhirnya perundinganpun dilakukan, dan Kerajaan Mahajahitpun menyetujui adu kerbau tersebut.

 

Singkat cerita, diadakanlah adu kerbau tersebut. Melihat kondisi tersebut, Kerajaan Majapahit mencari kerbau yang sangat besar, besar hasrat Kerajaan Majapahit bisa menang. Di samping itu, ternyata bagi Kerajaan Pagaruyung tidak ambil pusing, mereka hanya mengadu anak kerbau yang sedang haus menyusui kepada induknya. Sebelum diadakan adu kerbau tersebut, orang minang memasang sebuah senjata yang runcing pas di atas kepala anak kerbau itu. Melihat kondisi anak kerbau yang haus akan susu dari induknya, ketika pertandingan dimulai, anak kerbau itu langsung menyerang, tanpa ragu anak kerbau itu malah mengira bahwa kerbau besar yang dihadapannya adalah induknya, dan anak kerbau itu langsung mencari posisi untuk menyusui. Biasanya, kalau anak kerbau menyusui suka menunjang-nunjang. Dikarekan ada senjata di atas kepada anak kerbau tersebut, tertusuklah perut kerbau yang besar tersebut.

 

Hingga akhirnya kerbau yang besar itu tumbang, berarti kerbau milik suku minang menang. Barulah lahir nama Minangkabau, yang berasal dari adu kerbau. Jika dilihat dari karakter kerbau adalah sebuah karakter yang merujuk kapada sifat yang ada pada diri kerbau yaitu bodoh, malas, keras kepala, tidak disiplin. Dikarenakan orang minang dahulunya melakukan adu kerbau. Sementara itu jika dilihat watak dari orang minang itu sendiri, bisa saja orang minang mengggunakan karakter kerbau berarti manusia yang malas, makin dewasa makin merajalela. Coba kalau tidak ada paksaan untuk mencari uang, bisa-bisa tidur atau bermain seharian.

 

Sementara itu, kondisi di Kota Padang ini, banyak masyarakat minang ini yang miskin. Sehingga banyakknya anak jalanan, pengemis, pengamen, anak-anak putus sekolah, kelaparan, dan hidup hanya tutup lobang kali lobang saja. Sekarang timbul pertanyaan, apakah orang Minangkabau ini sama dengan orang atau manusia karakternya dengan kerbau, malas atau sebagainya. Kenapa orang lain bisa, padahal sebelum seseorang itu sukses, orang tersebut juga orang yang tak punya. Karena ia terus berusaha dan tidak bermalas-malasan, ujung-ujugnya orang tersebut jadi sukses. Terkadang cerita yang penulis dengar, banyak orang-orang yang ada di Kota Padang ini menyatakan "takdir yang tidak sama dan mungkin saja takdir seseorang itu baik." Sebenarnya pandangan seperti itu salah dan tidak benar, jangan mengkambing hitamkan takdir.

 

Dalam al-Qur'an juga dijelaskan, Allah tidak akan merubah hidup seseorang, jika ia tidak merubah hidupnya sendiri. Pernyataan ini jelas, bahwa hidup ini tidak mutlak diatur takdir, tapi terpulang kepada iman sesorang. Karena hidup ini serba pilihan, mau iya atau tidak, mau ke kanan, atau ke kiri. Mungkin, hampir setiap harinya kita hadapi tentang pilihan hidup ini. Contohnya, pagi ini saya mau makan lontong atau nasi goreng ya? Besok saya mau pulang kampung atau tidak ya? Jika kita menganggap mutlak tentang adanya takdir tersebut, kira-kira dimana letak hawa nafsu seseorang dalam menjalani hidup ini.

 

Dalam paham aliran filsafat, ada dua macam tentang takdir ini. Pertama, manusia itu seperti robot, bisa diarahkan kemana saja, dan melakukan apa saja, yang berdasarkan takdir yang ia terima. Mau jadi koruptor, pencuri, pembohong, suka menindas orang lain. Katanya, semua itu adalah kehendak Allah. Kedua, manusia itu hidupnya punya pilihan, mau mati atau hidup, mau kaya atau miskin, mau berpahal atau mau berdosa. Keinginan yang demikian bisa ia raih, dan ia juga punya takdir, dan takdir itu dari Allah, bukan dari manusia itu sendiri. Karena hal ini juga telah dijelaskan sebelumnya di dalam al-Qur'an. Contohnya, coba Anda tahan nafas Anda, berapapun yang Anda inginkan, mau 1 menit, atau 1 jam. Jika tetap menahan nafas dalam waktu yang begitu lama, bisa-bisa Anda mati konyol, dan apabila Anda lepaskan karena tidak sanggup menahan sesak nafas. Anda bisa hidup dan bisa menghirup udara sepuas yang Anda inginkan. Begitulah hidup dan tentang takdir. Jangan merasa hidup ini dikalahkan dengan takdir, tapi berusahalah, insya allah keberkahan itu akan datang dari Allah.

 

Memang dari sejarah, bahwa khususnya suku minang ini dikenalkan dengan Minangkabau. Tapi bukan berarti orang minang sama karakternya dengan seekor kerbau. Tapi, jika memang benar fakta dan kenyataan membicarakan bahwa orang minang itu malas atau sejenisnya. Terbukti, sudah tidak bisa gugat lagi, bahwa orang minang sama karakternya dengan kerbau. Mau jadi apa nantinya, terpulang kepada diri masing-masing, mau jadi seperti kerbau atau mau menjadi orang yang sesungguhnya, fisik manusia, pemikiran manusia, watak manusia, dan tentunya prinsip hidup adalah prinsip manusia, bukan sama dengan seekor kerbau.




• Essay Terkait
Suarakampus