Sastra Budaya › Cerpen


Nyawa Untuk Sekolah

Kamis, 15/11/2012 WIB | Oleh : Witri Nasmita (Mg)

“Bangunan ini tidak boleh dirobohkan.”

“Ini hak kami.”

Hujan batu membasahi para kontraktor yang sedang mengukur  sebuah bangunan tua yang sudah di line polisi dan di lingkari pagar kawat yang sangat tinggi. Namun, hal itu tidak menjadi pengaruh bagi mereka. Para demontrasi itu tidak jerah, mereka potong satu persatu pagar kawat itu. Di seret nya para kontraktor tersebut, dan memukuli mereka.

Doooorrrrr…..!!!! suara ledakan pistol menghentikan adegan itu.

“Siapa pemimpin kalian? Mari kita bicara baik-baik. Tanah ini sudah kami beli ke saudara Firman. Surat tanah ini sudah syah menjadi milik kami. Kami berhak meruntuhkan bangunan tua ini.”

“Tapi tanah ini sudah dihibahkan oleh kakek buyutnya Firman kepada kami. Ini milik umum sebagai sarana pendidikan bukan untuk pabrik busuk kalian. Firman, tidak tahu-menahu asal mula tanah ini yang dia tahu cuman milik kakek buyutnya saja.” Bentak Zainudin.

“Yang penting kami mempunyai bukti-bukti yang syah secara hukum. Kalian tidak punya andil apa-apa disini. Tidak ada bukti yang bisa kalian serahkan untuk mempertahankan bangunan ini. Sekarang sportiflah, jangan ngangu aktifitas kami, sebelum kalian mempunyai bukti yang kuat. Kalian semua bisa kami tuntut.”Jelas Kontraktor.

Mendengar itu, satu-persatu demontrans mundur. Sehingga hanya tinggal berlima orang saja. Mereka masih gigih di sana mempertahankan itu. Namun, hal itu tidak menimbulkan hasil yang positif. Mereka tidak berhasil mengetuk pintu hati para kontraktor itu.

&&&&&&&&&

Lima hari kemudian, teriakan dan tangisan menghebohkan desa itu. Empat dari orang yang bertahan ketika demons itu hilang secara bergantian tiap malamnya. Semua penduduk desa mencari ke  seluruh pelosok desa, namun mereka tidak ditemukan. Mereka hilang tanpa jejak, tidak tahu kemana perginya.

Kemudian misteri itu terjawab, setelah Pak KADES menerima secarik kertas. Ternyata, mereka hilang itu telah menjadi bangkai penghuni lembah Saka desa itu.

&&&&&&&&

Tikar tua yang kusang itu menjadi saksi kemurungan Rasyid yang tampaknya ada sesuatu yang sangat menganjal di benak nya.

“Ada apa nak ? Tampaknya kau sangat sedih sekali ? Apakah kau masih memikirkan tanah itu? Bagaimana nak, apakah kamu tetap gigih ingin mempertahankan tanah itu?”. Tutur  Khadijah lembut.

 “Tentulah mak, sekolah itu harus tetap berdiri mak, cuman itu sekolah satu-satunya yang kita miliki di desa ini mak. Tanpa ada bangunan itu dimana akan ditampung murid-murid SD, SMP dan SMA ini mak. Mereka lah penerus kita mak, kapan desa kita akan maju mak, tanpa ada generasi yang berpendidikan yang akan membina desa kita. Desa kita ini sudah jauh tertinggal mak, tanpa ada bangunan ini hancur masa depan anak-anak kita mak, hanya itu satu-satunya harapan kita mak. Saya tidak rela sekolah itu menjadi tempat limbah yang akan berdampak buruk pada desa kita Mak. Tempat industry macam apa yang akan dibangun bila mengorbankan bibit masa  depan kita mak”. Imbuh Rasyid penuh kobar.

“Tapi nak, lihatlah engkau pada pengalaman yang sudah-sudah, siapa yang melawan itu akan hilang nak ! mak, tidak mau kau seperti itu nak tak tahu dimana bangkai engkau berada, hanya kau satu-satunya harta mak, Rasyid. Mak mohon janganlah kau bersitegang lagi dengan mereka, takkan mereka hiraukan nak”. Pinta Khadijah.

“Mak, tenang sajalah selama kita masih dijalan yang benar tuhan akan melindungi kita. Berdoa sajalah Mak, agar bangunan itu masih bisa berdiri dan melakukan  aktivitas seperti biasanya. Istirahatlah mak lagi jangan terlalu di pikirkan hal itu. Semua akan baik-baik saja mak”. Rasyid meredakan suasana.

Pagi harinya, Rasyid mengabsen semua anak murid nya kelas III SMP, yang hadir saat itu cuma 8 orang dari 50 murid.

“Sani, kenapa teman-temanmu banyak yang libur? semakin hari berkurang saja jumlah yang hadir? Tidakkah mereka tahu, bahwa sebentar lagi mereka akan menghadapi Ujian Nasional ? Kenapa kau diam saja Sani ?”

Mereka yang tidak hadir takut sama para bodygate itu pak. “Ujar Sani gemetar”.

Orangtua mereka juga melarang untuk tidak sekolah Pak karena dikabarkan siapa yang masih menginjak sekolah ini akan hilang tanpa jejak Pak. “celah Budi”.

Kami tidak ingin berpisah dari orangtua kami Pak !!! “Seru anak murid serempak.”

“Kalian tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Apakah kalian tidak yakin adanya Allah SWT ? Allah itu menyanyagi orang-orang yang mau menuntut ilmu dan akan melindungi umatnya selama dijalan yang benar. Apakah kalian tidak ingin mempertahankan rumah kalian ini, yang telah delapan setengah tahun kalian tempati, tidakkah kalian berpikir betapa pentingnya bangunan ini bagi kita, dari kita tidak mengenal apa-apa dan buta huruf menjadi seperti sekarang ini kalian bisa berlomba keluar kota sehingga mendapatkan piagam emas yang telah kalian peroleh betapa berjasanya bangunan ini, bukan ? Kenapa kalian tidak mau mempertahankannya ?”Gumam Rasyid.”

“Kami takut mati Pak, kami tidak sanggup berpisah dengan orangtua kami Pak.”

            Tiba-tiba, Pak Rasyid di panggil ke ruang kepala sekolah.

“Anak-anak, bapak tinggal sebentar dulu ya, tenangkanlah diri kalian dan berpikir positiflah semua akan baik-baik saja.” Rasyid meninggalkan kelas menuju ruang kepala sekolah.

“Bagaimana pak Rasyid apakah anda bersedia meninggalkan sekolah ini dan pindah dinas ke desa malhontang ? Hanya anda saja yang belum menanda tangani  surat pindah dinas ini.”

“Maaf Pak, saya masih tetap dengan prinsip saya Pak, saya akan bertahan di  sini dan akan mempertahankan bangunan ini berdiri, hanya di sinilah tempat saya mengabdi Pak, di tanah kelahiran saya sendiri. Cobalah bapak berpikir apa manfaat pabrik itu ada di sini, apakah mereka akan memperkerjakan masyarakat disini? Hanya limbah busuk sumber  segala penyakit yang akan kita dapatkan.”

“Gegabah anda Pak Rasyid, tindakan bapak akan sia-sia. Kita tidak akan bisa menghalangi mereka. Kami juga tidak akan rela bangunan ini musnah, karena pabrik itu. Tapi cobalah bercerminlah Pak Rasyid kita siapa dan mereka siapa ? Kita hanya seujung kuku mereka. Coba kamu lihat apa akibat mereka yang membakang tak sedikit anak-anak yang kehilangan bapaknya. Apakah itu masih engkau pertahankan ? tentu saja karena ini  demi masa depan anak-anak kita sebagai penerus kita juga Pak. Ya sudahlah Pak, saya hanya menawarkan saja dan sekalian memberitahukan mulai hari besok  saya dan yang lainnya sudah tidak berada di sini lagi.

&&&&&&

Keesokan paginya, jalanan tampak sepi sekali tak ada sedikit pun aktivitas lalu lintas. Seperti desa yang tidak mempunyai penduduk sama sekali. Sesampainya Rasyid di sekolah, dia terhenyak lesu duduk di kursi kayu yang terlihat rapuh.

Kemudian ia bangun, berjalan mengintari sekolah tak ada satupun yang Nampak oleh matanya seseorang disana. Sudut demi sudut dia pandangi tak ada satupun yang terlintas di bola matanya. Dia kembali terhenyak duduk.

Tiba-tiba suasana sunyi mencekam itu, gaduh dengan suara yang sangat membisingkan telinga. Rasyid menoleh kearah suara itu, ternyata lima buah bulldozer menuju bangunan sekolah.

Rasyid terkejut bergegas berlari ke arah tersebut, sambil berteriak jangan lakukan itu. Suara gemuruh itu, menghimbau warga berhamburan menyaksikan kejadian itu. Warga hanya bisa menyaksikan Pak Rasyid menghalangi para kontraktor melakukakan aktivitas nya.

            “Berhenti…! Jangan anakku ! teriak ibunya sambil berlari ke arah Rasyid. Kembalilah nak.”

Ibunya berhasil memegang Rasyid dan mencoba menariknya untuk mundur. Namun, Rasyid bersitegang sehingga menghamparkan tubuh ibu nya ke jari-jari bulldozer.

Rasyid panik, segera ia hampiri ibunya, namun, ketika mau mengejar ibunya dia terhimpit reruntuhan bangunan. Reruntuhan yang amat dashyat itu menghantarkan rasyid pada hembusan nafas terakhirnya. Namun, aktivitas pengusuran itu masih tetap berlansung. Semua  mata terpana bergegas melangkah menyelematkan Rasyid dan Ibu nya.

Ibu rasyid masih bisa di selamatkan dan kemudian dibawa kerumah sakit, namun tak sadarkan diri hingga koma. Beliau sembuh setelah mengalami tiga bulan koma.

&&&&&&

Sepulangnya dari rumah sakit. Ibu Rasyid mencari para tokoh  masyarakat desa itu. Beliau merencanakan akan membuat sebuah pondok kecil. Setelah itu, beliau memberikan rumahnya untuk dijadikan sekolah.

“Apakah ibu yakin dengan keputusan ini?  Cobalah berpikir matang-matang bu.”

“Saya sangat yakin Pak KADES, saya ingin melanjutkan perjuangan anak saya. Dia sangat ingin anak-anak disini mendapatkan pendidikan yang layak.”

“Kalau memang begitu itikad bu. Baiklah bu, kami akan mengurusnya semua.”

&&&&&&&

Tiga hari kemudian, pondok bambu sudah selesai. Pondok itu sangat kecil dan sempit, tak ada dapur, dan ruang tamu, hanya ada bilik kecil. Ibu Rasyid pun pindah ke pondok itu.

Bangunan sekolah itu, sudah berganti dengan sebuah pabrik karet. Rumah Rasyid jadilah sebuah sekolahan. Proses pembelajaran kembali lancar.

Ibu Rasyid menjalani hari-harinya di pondok kecil itu. Ia sangat larut dengan kesedihan. Tampaknya, tidak ada semangat hidup lagi. Beliau tidak ingin sedikit pun menyentuh makanan. Akhirnya, beliau jatuh sakit. Masyarakat sekitar bergantian yang mengurus beliau. Namun, penyakit tersebut menghantarkan roh beliau ke sang khalik.

Sekolahan itu kemudian dinamakan yayasan Rasyid Aksara. Setiap hari kematian Rasyid dan ibunya diadakan acara pengajian dan doa bersama.




• Cerpen Terkait