Sastra Budaya › Essay


Saya Muslim Tanpa Agama

Jumat, 16/11/2012 WIB | Oleh : Arjuna Nusantara

Banyak orang yang mempermasalahkan, kenapa Ahmadiyah tidak hadir sebagai agama baru saja. Artinya, kita masih terikat dengan istilah agama. Padahal dulu, tidak ada nama-nama agama seperti sekarang. Yang ada hanya agama tauhid. Agama tauhid ini berkembang dari masa ke masa dengan nabi yang berbeda. Setiap pergantiannya itu disambut dengan pro kontra oleh umat sebelumnya.

*

Hidup di Indonesia sebuah anugerah. Keberagaman, suguhan teridah. Perbedaan suku dan agama menyatukan ribuan pulau nusantara untuk kemerdekaan. Dengan modal semangat persatuan, merah putih bisa berkibar. Tapi, setengah abad 17 Agustus 1945 berlalu, kemerdekaan seolah dinodai. Multikultural yang menjadi kekayaan Indonesia dirusak oleh pertikaian antar umat beragama.

Kalau kita simak perkembangan kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia, akan ditemukan beberapa kasus pertikaian, baik Kristen dengan Islam atau antar agama lainnya. Namun yang dominan itu adalah pertikaian antar umat Kristen dan Islam. Mulai dari kasus pembakaran gereja oleh umat Islam sampai pembantaian umat Islam yang dilakukan oleh umat Kristen di beberapa daerah  Indonesia.

Kasus demi kasus terus bergulir. Agama menjadi “sesuatu” yang merusak kedamaian. Agama dicaci dan dibenci. Penganutnya saling menyakiti dan disakiti. Tuhan diludahi dan dikhianati. Akhirnya saya pilih untuk tidak beragama. Karena saya bukan bagian dari orang-orang “zalim” yang membawa nama Islam sebagai agamanya untuk memperkosa kemerdekaan jiwa orang lain. Tapi saya bukan atheis yang tidak mengakui adanya tuhan.

Saya yakin ada tuhan yang satu. Saya yakin tuhan tidak menyukai kezaliman. Saya yakin tuhan tersenyum ketika melihat saya berlaku adil. Saya yakin tuhan tidak menciptakan Kristen dan Islam untuk saling membunuh. Saya yakin Islam-Kristen menjunjung tinggi kedamaian.

Penguasa Indonesia Merusak Bhineka

Di Indonesia, konflik antar umat beragama disebabkan oleh kebijakan pemerintah dan pelbagai Peraturan Daerah (Perda). Diantara kebijakan pemerintah tersebut jelas pada SKB (Surat Keputusan Bersama) dua menteri pada tahun 2006. Untuk membangun rumah ibadah, umat agama minoritas mesti mengantongi izin dari mayoritas setempat. Atas dasar inilah masyarakat mayoritas di beberapa darah melakukan intimidasi terhadap minoritas dengan melarang pendirian rumah ibadah. Selain itu, juga masalah keyakinan. Di daerah yang fanatik terhadap suatu agama, tidak memberi ruang kepada masyarakat lain yang punya agama lain untuk mengembangkannya. Seperti yang terjadi di Bekasi, yakni HKBP Filadelpia dan di Bogor, GKI Yasmin.

Selain kasus itu, juga ada kasus pembantaian di Cikeusik. Di sini, umat Ahmadiyah diserang dan di bunuh. Semua kasus itu didukung oleh kebijakan pemerintah. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa Ahmadiyah aliram sesat.

Dari kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut, “bhinneka tunggal ika” tidak terwujud.

Agamamu Bagimu, Agamaku Bagiku

Indonesia negara besar. Lahir dari perjuangan kelompok yang hidup di dalamnya. Bukan milik satu ras, dan bukan milik sebuah agama. Kemerdekaan diwarnai dengan darah Mongoloid, Melayu, Minang, Jawa, Kristen, Islam, Budha, Hindu dan komunitas lainnya.

Naïf sekali ketika kita lihat kasus SARA yang terjadi sekarang. Ada kelompok-kelompok yang merampas hak orang lain. Tidak memberi ruang kebebasan yang semestinya menjadi hak semua warga Negara. Mirisnya, kekerasan yang dilakuakan atas nama agama.

   Agama, sebuah kata yang mengikat kita pada sebuah identitas. Kata agama membuat kita terpecah menjadi kelompok-kelompok. Sehingga, ketika menemukan orang lain berbeda dan menyinggung kelompok (agama) kita, maka akan ada reaksi di luar batas seperti memerangi mereka. Agama dijadikan sebuah warisan. Mereka (kelompok fanatik yang anarkis) memelihara seperti harta. Padahal agama itu soal hubungan dengan tuhan. Bagaimana orang mendekatkan diri dan menghambakan dirinya pada tuhan.

Soal cara berhubungan dengan tuhan tidak bisa diatur oleh manusia. Itu tergantung dengan diri sendiri. Setiap orang punya pandangan berbeda terhadap tuhan. Sudut pandang itu membuat orang punya cara tersendiri mendekatkan diri dengan tuhannya. Hubungan manusia dengan tuhan sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuannya. Kelompok radikal dan fanatik pada umumnya beragama “keturunan”.

Tidak ada anjuran dalam Islam untuk bermusuhan. Islam itu hanya ada kedamaian. Masalah orang lain yang punya keyakinan berbeda dengan kita, itu biasa. Tuhan saya berbicara dalam al-quran, keyakinan(agama)mu bagimu, keyakinanku bagiku.

Sebenarnya, dalam Islam sendiri kebebasan dalam meyakini ajarannya sudah terjadi dari dulu. Buktinya ada aliran-aliran dan mazhab. Perbedaan sendiri sudah terjadi di tubuh Islam dan bisa diterima. Mengapa sebahagian orang tidak bisa menghargai perbedaan antar agama bahkan sesame aliran dalam satu agama.

Salah satu landasan saya bisa menerima kehadiran agama lain dan berbagai aliran Islam, dengan memahami sejarah. Apa yang dirasakan Islam sekarang, dengan kehadiran Ahmadiyah -yang mengaku ada nabi setelah Muhammad, sama seperti yang dirasakan Kristen (umat Nabi Isa) ketika Muhammad datang membawa ajaran Islam. Ketika itu umat Kristen pun tidak bisa terima. Bahkan sampai berperang. Begitu juga dengan Ahmadiyah sekarang, apa yang dialaminya, sama seperti umat muslim memperjuangkan Islam dulu.

Jika memang Ahmadiyah hanya hadir sebagai aliran baru, berarti sama halnya seperti yang dialami K.H. Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan muhammadiyah. Awal kehadirannya banyak mendapat tindakan anarkis dari umat Islam radikal.

Banyak orang yang mempermasalahkan, kenapa Ahmadiyah tidak hadir sebagai agama baru saja. Artinya, kita masih terikat dengan istilah agama. Padahal dulu, tidak ada nama-nama agama seperti sekarang. Yang ada hanya agama tauhid. Agama tauhid ini berkembang dari masa ke masa dengan nabi yang berbeda. Setiap pergantiannya itu disambut dengan pro kontra oleh umat sebelumnya.

Kesadaran akan sejarah perkembangan agama ini, setidaknya bisa menumbuhkan rasa menghargai kehadiran agama-agama dan aliran-aliran baru. Jangan terikat dengan agama Islam, Budha, Hindu, dan lainnya. Tapi yang terpenting, sesuai dengan Pancasila, beragama tauhid. Beribadahlah sesuai rasul dan kitab yang kamu yakini. Dan sadari bahwa agama tauhid itu banyak, dibawa oleh rasul dan nabi yang berbeda dengan kitabnya masing-masing. 




• Essay Terkait
Suarakampus